Tanggapan Surat

“Sekedar menanggapi surat dari seorang teman yang membuat saya tergelitik”. 😀

Bismillaahir rahmaanir rahiim.

Assalaamu’alaikum bunga. Semoga Bunga baik-baik saja ya setelah membaca kisah payung tersebut. Sebenarnya saya masih ingin membalas SMS tadi pagi tapi saya tidak punya waktu terlalu banyak untuk membalasnya. Kuliah sampai pukul 15.30, kemudian saya lanjutkan ngelesi adik-adik saya SMP dan SD karena menyongsong ujian bagi mereka –semoga Allah meluluskan mereka bersama berkah-Nya-. Oleh karena tidak sempatnya itu saya sempatkan sejenak menulis surat untuk Bunga ditengah-tengah mengerjakan tugas ngetik agama lima bab  t.api aku senang. Semoga tulisan surat ini bisa memberi suatu penjelasan yang cukup.

Wa’alaikumussalam. Really fine, #akurapopo. Ditengah kesibukanmu, luangkan waktu pula untuk istirahat. Jangan terlalu memforsir diri. Istirahat yang berkualitas, bukan asal istirahat. Jaga kesehatannya juga. #sokperhatian 😀

Tepatnya sebelum saya postingkan saya pun ragu mungkin menimbulkan sesuatu yang kurang baik –terutama Bunga-. Saya tahu dan bagaimana pun saya tidak boleh menutup mata untuk hal yang Bunga rasakan. Namun, kalau mau menutupi sekalipun saya rasa itu lebih baik. Padahal semuanya itu nampak jelas didepan mata saya hingga sikap-sikap semisal Ani dan Ana pun mengetahui hal itu.

Emangnya aku merasakan apa? Sok tahu deh.  I am fine. #akurapopo

Berbeda lagi jika yang melihat postingan itu adalah orang lain. Orang yang tidak tahu saya ke UI atau orang yang -maaf- tidak ada perasaan dengan saya.

aduh GR banget 😛

Bunga, saya pun tahu postingan Bunga ada sangkutnya dengan saya. Terus terkait postingan kisah sepayung saya anggap hanya sebuah sastra yang sepenuhnya tidak seperti itu. ah namanya juga kejadian sesungguhnya yang dibuat sebuah sastra bisa disempurnakan supaya menjadi sastra yang bisa dikhayalkan untuk menjadi karya yang berbeda. Kisah tersebut kenyataan tapi bukan sepenuhnya seperti itu Bunga. Siapa juga yang mau mengungkap aib sendiri Bunga. Kamu harus tahu bagaimana keadaan saya dan ‘dia’ saat itu. Ya harapannya Bunga kalau mau tahu peristiwanya, sepertinya perlu tabayyun karena hal itu pun bagi saya samasaja ketika harus ‘terpaksa’ pergi dengan www pada umumnya.

Postingan yang mana? Ternyata selama ini kamu ngepoin aku? 😮 ya alhamdulillah kalo cuma sastra. lha makanya aku sms kamu, untuk mentabayunkan. Eh nggak tahunya malah kamu ngirim aku surat panjang ini. Padahal aku hanya bertanya singkat. Itupun sekedar candaan. Tahu nggak, aku jadi speechless. Nggak nyangka aja kamu bakal ngirim surat sepanjang ini hanya untuk membalas sms singkatku. Dan mungkin untuk lebih menjelaskan padaku bahwa cerpen itu bukan apa-apa. Not real story. Yes maybe a real story but don’t be sad or angry because it just a story.

Mmm… kalau mau konsisten Bunga silakan pegang janji kita bersama itu, tikosar. Masih ingatkah? Atau sudah tidak dianggap lagi? Itu terserah Bunga. Bagi saya itu janji dan saya sangat-sangat mencoba untuk mempertahankannya karena bahkan janji tersebut bisa jadi membuat orang harus menunggu antara harapan dan takdir, bertahun-tahun juga mungkin. Namun rupanya jika Bunga dengan janji tersebut lupa atau mau dibatalkan silakan itu terserah Bunga, langsung bilang ke saya saja dan kita tidak ada ikatan janji macam itu.

Aku masih ingat kok. Aku kira kamu yang uda lupa. 😛 Biarkan janji itu terus ada diantara kita. Menurutku mungkin itu lebih baik. Tapi kalau menurutmu itu justru membuat sesuatu lebih buruk, baiklah ayo kita batalkan.  Tapi kadang aku mempertanyakan kembali, mengapa diantara kita ada ikatan janji semacam itu? Because we just a friend, no more.  Aku menggaris bawahi kalimat “bahkan janji tersebut bisa jadi membuat orang harus menunggu antara harapan dan takdir, bertahun-tahun juga mungkin”, well, maksudnya apa ya?

Bunga, harus jaga izzah bunga. Bukan seperti itu, curi-curi pandang atau pun bagaimana bisa kita saling berkomunikasi dengan banyak. Bukan, bukan seperti itu Bunga. Saya pun demikian seharusnya mampu menjaga –walaupun saya kemarin saat xxxx agak mendekati Bunga, saya minta maaf untuk ini-. o iya saya memang tidak bisa memperlakukan Bunga seperti yang lain. Saya lebih banyak mencoba bersikap cuek daripada ketika dengan yang lain karena menurut saya memang harus dibedakan. Saya ada janji semacam tikosar implikasinya saya tidak ingin menimbulkan hal-hal yang saling memberi perhatian. Kalau saya menerjangnya sama saja lah saya menuruti syahwat saya. saya minta agar saling menahan diri.

I just like a childish girl. I am so sorry. 😦 Sepertinya kalimat “lebih banyak mencoba bersikap cuek” itu salah deh, karena kamu memang cueeeeek banget. Jadi bukan dalam taraf mencoba lagi, tapi emang udah cuek dari sananya. 😛

Jika Bunga berfikir saya tidak mau perhatian dengan Bunga, itu benar. Jika Bunga merasa diposisikan berbeda dari yang lain, itu benar, lalu apa Bunga mau diperlakukan sama dengan yang lain? Semua itu saya lakukan supaya tidak terjebak apalah macam curi-curi pandang, menuruti keinginan hati, apa caper2, karena kita berdua harus ada saling menjaga yang lebih. Saya bukan seorang ‘apalah macam’ itu. dan ingat Bunga, tahan, tahan, dan tahan luapan-luapan rasa semacam itu. itu pintu masuk zina bunga. Bersikaplah kepada saya sewajarnya atau mendekati itu. dan saya pun demikian. Karena saya pun harus menjaga izzah saya dihadapan Allah. Kalau Bunga mau saya memberi perhatian lebih, komunikasi lebih, atau semisalnya, jelas DEMI ALLAH saya tidak bisa.

Aku sudah sewajarnya kelees. 😛 Baiklah, tetap jadi dirimu sendiri aja. Seseorang yang sangat teguh memegang komitmennya. Kalau misal aku tiba-tiba berulah yang nggak jelas dan kekanak-kanakan lagi, aku harap kamu bisa lebih bijak dalam menyikapinya. Ya, seperti biasanya, yang kamu lakukan jika aku tiba-tiba “menggila”. 😀

Bunga, saya juga mau minta maaf. xxxx kemarin saya berusaha agak dekat dengan Bunga bahkan saya berusaha bagaimana bisa berbicara kepada Bunga menjelaskan supaya Bunga tidak salah faham ataupun kecewa dan juga perasaan Bunga mungkin bisa sedikit terobati. Namun, tetap saja hal itu sulit bagi saya. Semoga Allah mengampuni kita berdua.

Sepertinya aku banyak banget melakukan hal-hal memalukan di depanmu. 😦 Sampai bingung mau naruh muka ini dimana kalau ketemu kamu. 😦

Kecintaan tanpa ketaatan adalah kemaksiatan.

Sedang konjungsi keduanya adalah kenikmatan yang menyiksa.

 

Harapan, mencoba menyusun takdir,

Mengukir keindahan yang didamba,

Namun tidak lebih indah dari ukiran-Nya.

Sehingga tinggal ada dua pilihan seni keindahan,

Keindahan syurga atau keindahan neraka-Nya.

 

Maaf jika harus menyakiti perasaan Bunga.

 

Terimakasih untuk suratnya. Setidaknya surat ini dapat menjelaskan semuanya.

Sebenarnya #akurapopo.

Maaf juga karena kamu sudah menulis surat seriuuuuuuus banget, sedangkan aku menanggapinya dengan guyon. Aku memang agak susah diajak membahas yang serius-serius. 😀

Tentang perasaan ini, kamu terlalu GR. :p

 

Kadang aku suka bertanya-tanya, “Masalah internal di diriku saja aku masih belum dapat menyelesaikannya. Bagaimana bisa aku menyelesaikan masalah umat? Lalu bagaimana aku bertanggung jawab terhadap umat ini, terlebih terhadap Allah?” :’)

Iklan

Sekedar Pembelajar

Dua hari lagi akan diadakan SAMREG (Sarasehan Muadib Regional). Sebagai ketua kaderisasi PII Wati yang baru sekaligus instruktur, saya masih bingung terkait apa yang harus saya kerjakan. Sebuah hal yang memalukan ketika saya masih berkutat dengan permasalahan internal dan belum sanggup menyelesaikan permasalahan eksternal. Kepada siapa saya harus bertanya? Ketika saya bertanya tentang sesuatu seolah mereka menganggap saya “bodoh”. Seolah “masak gitu aja gak tau?”. Dan seolah “itu pertanyaan anak kecil”. Kalaupun dijawab saya masih bingung karena banyak jawaban yang terlalu berputar-putar membuat saya tak mengerti. Harus dari mana saya mulai belajar? “Krik-krik, tak ada jawaban”. Terlalu banyak retorika sana-sini yang membuat saya makin bingung.

Astaghfirullahaladziim..

Atau itu semua hanya sekedar perasaan saya saja. Atau nyatanya mereka tak pernah beranggapan seperti itu? Mungkin sayalah yang mempersepsikan lain. Bagaimanapun juga saya harus berprasangka baik. Walaupun seringkali tanggapan mereka membuat saya lebih memilih bungkam daripada berpendapat. Kemudian merenung “saya sangat bodoh tak tahu apa-apa, lebih baik saya diam”.

Untuk persiapan samreg ini, saya mencoba membaca file-file kaderisasi dan hasil samnas 2010 serta mencoba menganalisis konsep dan rekomendasi untuk PII. Semoga saat samreg nanti saya dapat turut berkontribusi menyumbangkan gagasan-gagasan saya. Mungkin itu impian yang terlalu tinggi. Harusnya cukup dengan semoga ketika ditanya sesuatu saya bisa menjawab dengan tidak memalukan. Entahlah, 11:12 antara pesimis dan tidak.

Jadi teringat kata-kata seorang teman, “Mungkin ini hal kecil yang dapat aku lakukan untuk PII. Aku tak bisa melakukan hal-hal besar seperti mereka. Walaupun banyak yang menganggap hal kecil yang aku lakukan tak  berarti, namun aku senang melakukannya.” Dulu saya tak terlalu memahami maksudnya. Namun kini saya mengerti.

Saya sekedar pembelajar biasa.

Berproses #6

Hari ini aku berkunjung ke almamaterku SMA dulu, yaitu SMA N 1 Pati. Karena aku gak mau terlihat kayak orang asing gitu, aku putuskan buat pinjem baju osis adik kosku dulu sewaktu SMA. Well, hari ini aku menyelinap seolah jadi anak SMA padahal udah lulus 2 tahun yang lalu. Hehe.

Cukup banyak hal berubah di sekolahku. Sekarang banyak gedung-gedung baru yang dibangun. Di atas perpustakaan yang sering ku kunjungi sekarang sudah ada ruangan baru. Mungkin bakalan dijadikan ruang kelas. Lapangan basketnya sekarang sudah dicat berwarna. Ada hijau, merah, garis-garis yang lebih jelas menandakan bahwa itu adalah lapangan basket. Tentunya selain ring basket. Masjidnya tak banyak berubah, tapi menurutku agak terlihat berdebu. Mungkin karena musim hujan. Kantinnya masih seperti yang dulu. Makanan yang disajikan di kantin nomer 2 masih sama dengan ciri khasnya yang dulu, swike ayam dan telur dadar. Oya, hampir lupa, tatanan perpustakaannya sudah dirombak sedemikian rupa dan dibuat senyaman mungkin. Namun aku masih belum tahu, apakah perubahan juga terjadi pada kebiasaan sang penjaga perpus. Mungkin jadi lebih ramah dan murah senyum atau bagaimana lah, asal tak killer kayak dulu. Pengalaman menyedihkan sewaktu SMA karena aku sering dimarahin ibu penjaga perpusnya. Emang sih aku suka teledor, aneh dan macem-macem serta kadang agak blo’on, tapi seharusnya itu tak membuat ibunya gampang marah, kan aku juga manusia yang penuh salah dan dosa. #pembelaandiri. Semoga ibunya sudah berubah ke arah yang lebih baik sehingga adik kelasku tidak terdzalimi lagi. Cukup aku saja. Hehe.

Setelah capek-capek muter-muter mulai dari kantin, ruang-ruang kelas, perpus, masjid, sampai parkiran juga, akhirnya aku putuskan menjemput adikku tercinta, YULI. Dia masih unyu, lugu, dan polos eperti dulu. Itulah yang membuatku menyayanginya hingga sekarang. (Serta yang membuatku sering merepotkannya). Hehe. Misalnya saja kemarin dan hari ini hingga besok (mungkin lusa juga (who knows)) aku merepotkan dia lagi (seperti dulu). Kali ini aku menginap di kosnya. Dia harus repot ijin ibu kos. Repot pindah kamar buat aku. Repot bawa bantal, seprai dan selimut, serta buku-buku. Repot gangguin belajarnya. Repot ngobrol dan cekikikan. Haha. Ya, mungkin aku memang merepotkan tapi semoga dia tak berpikir aku merepotkan. Aamiin. Soalnya kadang aku suka tak tahu diri dan tak tahu malu. Oh God.

Lalu, apa kesimpulan dari tulisan ini. Yah, ini hanyalah sekedar curhatan tak berujung kalau tak segera diakhiri. Cuma sekedar coretan tak penting, luapan dari kegembiraan karena dapat bersama lagi dengan kalian adik-adikku, Yuli, Nurul, dan Sinta.  Miss You. Walaupun agak kurang karena tak ada Lina disini membersamai kita.

Aku senang dapat berjumpa, bercanda, bercerita, dan ber ber lainnya bersama kalian.

Tumbuhlah dewasa. Gapai mimpi-mimpi kalian. Untuk kehidupan yang lebih baik masa depan.  Indonesia gemilang dan kejayaan Islam.

Salam sayang,

Atin

 

(Untuk Nora) Disekuilibrium: IP dan Ilmu

ipk1
Hai nora. Aku ada berita gembira nih. Alhamdulillah di semester 3 ini aku cumlaude lagi, ya walaupun IP ku turun. Kalau di semester 1 dulu 3, 73, semester 2 dapat IP 3, 92, sekarang (semester 3) dapat IP 3,6. Hehe. Gak papa. Alhamdulillah banget itu tandanya Allah masih sayang sama Atin dan masih pengen atin buat senantiasa berjuang.
Sebenarnya targetku di semester 3 ini bisa dapat IP 4 bulat. Tapi masih belum bisa. Ya semoga di semester 4 dapat IP 4. Aamiin. Hehe.

Foto0490
Walaupun ada beberapa orang yang bilang ip itu tidak terlalu penting. Namun bagiku itu sangat penting. Karena setidaknya aku dapat menunjukkan kepada kedua orang tuaku bahwa mereka tidak sia-sia menyekolahkanku. Aku bersekolah dengan giat sehingga dapat memperoleh ip yang bagus. Aku hanya ingin mereka bangga. Namun aku tak ingin menjadi sombong karena hal itu. Semoga aku bisa menjadi pribadi yang rendah hati. Doakan aku ya nora. 🙂
Nora, meskipun nilaiku bagus tapi rasanya aku masih bodoooooooooooh banget. Coba kau tanyakan padaku tetang teori-teori, undang-undang, dan hal apapun tentang pendidikan. Sungguh, aku belum bisa menjawab itu semua. Nilai itu belum sebanding dengan kemampuanku nora. Itu yang aku sedihkan. Aku cumlaude namun aku belum bisa berbuat apapun. 😦
Mungkin hal itu pula yang membuat Allah tidak memberikanku ip 4, karena aku memang belum pantas menyandangnya. Berarti aku pantas menyandang ip 3,6 dong? Kan Allah memberikanku ip 3,6? Entahlah, nora, aku juga tidak tahu. Jika aku menilainya dari segi keilmuanku, wah, sangaaaaat kuraaaaaang. Aku sedih karena keilmuanku masih dangkal banget. Di sisi lain aku bahagia karena mendapat nilai yang bagus. Terimakasih Allah atas anugerah indah-Mu.
Ya, semoga Nora, dengan ini aku semakin giat belajar. Belajar untuk memantaskan diri dengan anugerah nilai yang telah diberikan Allah. Belajar pula untuk mengimplementasikan dan menyebarkan ilmu-ilmu yang telah aku peroleh selama perkuliahan. Aku tak ingin ilmuku menjadi sia-sia. Aku ingin mencetak generasi rabbani untuk membangun Indonesia, negeri tempat dimana kita lahir, Nora. Berjuang untuk Indonesia serta berjuang untuk Islam. Kau juga kan, Nora? 🙂

Untuk Nora tentang Generasi Penerus Bangsa

Nora, aku ingin bercerita padamu. Aku tahu kalau bicara langsung padamu itu tidak mungkin. Sms pun sama saja. Kurang lebih aku sudah tahu bagaimana tanggapanmu. Apalagi telepon, itu mustahil. Hanya sekedar surat yang entah kau akan baca atau tidak. Namun setidaknya, ini membuatku lebih tenang.

Hari Jum’at tanggal 13 desember 2013 adalah hari terakhirku mengajar pramuka di SD Negeri Dukuhan Kerten. Sudah sekitar 3 bulan aku mengajar pramuka disana. Tepatnya aku ditugaskan  mengajar kelas 4A. Sungguh indah menjadi guru, Nora. Terlebih ketika kau disayangi oleh murid-muridmu. Walaupun kadang mereka sering cari-cari perhatian, manja, kadang juga masih egois, itu bukan masalah bagiku. Karena memang pada fase itulah mereka kini berada. Aku menganggapnya itu naluri alamiah anak seumuran mereka.

Dengan seabrek tugas kuliah, agenda organisasi yang begitu padat, dan pencapaian-pencapaian lainnya yang ingin ku raih, yang membuatku begitu suntuk dan lelah, dalam sekejap bisa hilang saat aku meluangkan waktuku untuk bercengkerama dengan mereka. Tawa riang mereka, rajukan mereka, senyum dan canda mereka, membuatku tak bisa bermuka suntuk apalagi muram. Terlalu perih jika kau tak bisa tertawa karena polah mereka. Aku merasa akan menjadi seseorang yang awet muda jika kelak benar-benar akan mengajar anak SD. Kau akan selalu tersenyum dan masalah-masalahmu tiba-tiba menghilang saat bersama mereka.

Terlalu indah diungkapkan ketika aku mengajar anak-anak SD dan melihat polah mereka yang khas anak SD. Apa adanya tanpa menutupi topeng kekanak-kanakan mereka.  Tiap dari mereka memiliki keunikan tersendiri. Aku menemukan murid yang mampu menjadi pemimpin yang baik bagi teman-temannya, murid yang suka cari perhatian dengan buat masalah, murid yang pintar dan cekatan saat ada tugas, murid yang telaten dan ambisius, manja dan suka merajuk, serta berbagai karakter lainnya. Ketika mengajar nanti, kau juga akan merasakan apa yang aku rasakan. Mungkin bisa lebih unik lagi, karena kau akan mengajar anak-anak yang akan tumbuh menjadi sosok remaja dewasa.

Di hari terakhirku mengajar pramuka, sempat aku menangis (tapi cuma sebentar). Aku tak ingin menjadi guru yang cengeng di hadapan muridku. Di setiap pertemuan memang selalu akan ada perpisahan. Itu hukum alam yang senantiasa berlaku. Walaupun cuma 3 bulan aku mengajar, namun serpihan hari-hari itu ingin senantiasa aku rangkai dan kenang dalam memori ingatanku.

Aku bahagia bisa menjadi guru. Aku senang dicintai murid-muridku. Namun kadang aku sering bertanya-tanya tentang banyak hal. Masih ingatkah mereka dengan apa yang aku ajarkan? Sudahkah aku mampu menanamkan akhlak baik pada diri mereka? Aku tak ingin menjadi guru yang hanya sekedar mencerdaskan mereka, namun juga dapat membawa perubahan akhlak yang berarti bagi mereka. Mampukah aku menjadi guru yang mampu melakukan misi perbaikan akhlak? Pendidikan karakter digembar-gemborkan kemana-mana namun kondisi pelajar Indonesia degradasi moralnya semakin parah. Itu tugasku, tugasmu, tugas kita sekaligus PR kita sebagai calon pendidik generasi penerus bangsa. Akankah kita bisa, Nora, membuat Indonesia ini menjadi lebih baik?