Kenikmatan Terbesar

Apa kenikmatan terbesar dalam hidupmu?

Salahkah jika aku mengatakan “ISLAM” adalah kenikmatan terbesar dalam hidup kita?

Dengan Islam, kita memiliki pandangan hidup yang jelas. Kita pahami Allah yang menciptakan kita, dengan tujuan untuk beribadah padaNya. Kemana kita setelah mati juga sangat jelas. Allah yang menciptakan kita dan kepadaNyalah kita kembali. Bayangkan jika dalam hidup ini, kita tak tahu untuk apa tujuan hidup kita dan akan kemana kita setelah mati? “Islam telah mengajarkannya”.

Dengan Islam, kita dapat memahami mana yang baik dan buruk. Yang baik adalah segala yang dihalalkan Allah dan yang buruk adalah segala yang diharamkan oleh Allah. Bayangkan jika dalam hidup ini, kita tak dapat membedakan mana yang baikk dan buruk? “Islam telah mengajarkannya”.

Dengan Islam, kita dapat memahami makna kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati yaitu ketika Allah ridho kepada kita. Bayangkan jika dalam hidup ini, kita tak paham hakikat kebahagiaan sejati? Yang ada hanya kurang dan kurang. “Islam telah mengajarkannya”.

Islam adalah agama sempurna.
Emas seisi bumi pun tak mampu menandingi nikmat Islam bagi orang yang sungguh berislam kaffah.

 

 

Iklan

Agar Menghafal Al-Qur’an Bukan Sebatas Impian

“Siapa yang akhirat tujuannya, Allah akan mengumpulkan perkara-perkaranya, menjadikan kecukupannya dalam hatinya, dan dunia mendatanginya dalam keadaan tunduk. Sedang siapa yang dunia adalah tujuannya, niscaya Allah menceraiberaikan urusannya, menjadikan kefakirannya (terpampang) diantara kedua matanya dan dunia tidak mendatanginya selain yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Ahmad)

Siapa yang ingin menjadi hafidz/hafidzah?
Siapa yang ingin mempersembahkan mahkota untuk kedua orangtuanya di surga?
Siapa yang ingin meraih peringkat tertinggi di hadapan Allah?

Seorang muslim, tentunya ingin merealisasikan impian tersebut. Namun seringkali, impian tersebut hanya berakhir menjadi sebuah angan-angan semu.

Sebuah impian agar terealisasi, dibutuhkan upaya untuk mencapainya.  Impian apapun membutuhkan dua unsur penting bagi kesuksesan realisasinya, yaitu: (1) motivasi, tekad kuat dan ketekunan. (2) kemampuan.

Pertanyaannya, bagaimana kiat memacu semangat, menguatkan tekad dan menggapai ketekunan yang memadai guna mewujudkan target?

Pertama, jadikanlah tujuan pertama dan akhir kita untuk menggapai ridha Allah dan surga.

Kedua, banyak mengingat kematian. Cukuplah kematian menjadi nasihat.

Ketiga, banyak berdoa pada Allah. Memohon supaya Allah meningkatkan motivasi kita, membuat kita tidak menyimpang dari tujuan yang hakiki selamanya dan meneguhkan pijakan kita.

Keempat, Sibukkan diri kita dengan menghafal Al-Qur’anul Karim dan konsentrasikan bahwa bila konsisten kita akan berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an.

Kelima, pilihlah lingkungan dan kawan yang baik. Lingkungan dan kawan yang mendukung dalam kebaikan.

Kemudian muncul pertanyaan kembali, bagaimanakah jika tidak memiliki kemampuan untuk menghafal? Hingga muncul ucapan, “Aku tak pandai menghafal. Hafalanku sangat lamban. Aku tak memiliki bakat menghafal Al-Qur’an.”

Saudaraku, kita telah diberikan kemampuan oleh Allah berupa potensi besar, yaitu akal. Dalam sebuah penelitian menyatakan bahwa ketika kita menghafal Al-Qur’an dengan cara teratur, berarti kita memperluas kapasitas memori otak yang kita miliki agar dapat menampung lebih banyak. Sehingga kita sanggup menghafal dan terus menghafal.

Sebagaimana kisah para penghafal. Awalnya mereka mengawali menghafal beberapa halaman saja. Dan setiap hari terus bertambah hingga  mereka berhasil mengkhatamkan. Dengan permulaan seperti ini, jika kita konsisten, dengan izin Allah, kapasitas akal kita semakin besar dan kita dapat meningkatkan jumlah halaman yang kita hafal.

Ketika menghafal Al-Qur’an, setan akan berusaha memutus kita dari keinginan menghafal Al-Qur’an. Maka, janganlah berhenti menghafal. Teruslah menghafal. Jangan menoleh ke belakang dan jangan melihat ke arah belakang. Mari kita memohon pertolongan pada Allah dan berlindung kepada-Nya dari segala apa yang menghalangi kita dari menghafal.

Saudaraku, sekali lagi, sebelum kita menghafal Al-Qur’an. Marilah kita menguatkan tekad kita dan percayalah bahwa kita mampu menghafal Al-Qur’an. Tentunya dengan niat yang ikhlas, konsisten dan dengan izin Allah.

Ya Allah, teguhkanlah kami dalam apa yang kami hafal dan limpahkanlah berkahnya pada kami.

Ya Allah, mudahkanlah untuk kami jalan-jalan ilmu dan masukkan jalan-jalan itu dalam jalan (menuju) ridha-Mu.

Daftar Pustaka: Qasim, Amjad. 2013. Sebulan Hafal Al-Qur’an. Solo: Zamzam.

Tunas: Aku Sang Bintang

-acha240814-
-ed.educh-

Kakak punya 2 apel. satu apel yang besar, ranum, berwarna merah muda dan sangat menggiurkan. satu lagi apel kecil yang busuk. Jika kedua apel ini adalah teman kalian, manakah yang kalian pilih? |

Lihatlah apel yang baik ini, jika kita membelahnya, di dalam dirinya ada bintang. Bintang itu lambang kesuksesan. Lalu lihatlah apel yang busuk yang kalian hindari. Ternyata jika kita membelahnya, di dalamnya juga ada bintang. Tidak hanya itu, apel busuk itu juga punya biji. Coba kalian ambil satu biji, lalu tanam. Biji tersebut akan menjadi sebuah pohon apel yang punya puluhan buah apel yang baik.|

Sekarang mari kita duduk melingkar. Saya ingin masing-masing jujur menilai sisi buruk teman-temannya. (misal: Ian orangnya jahil, dll) |

Terkadang kita masih sering memandang satu sama lain seperti apel yang busuk. Padahal hari ini, kita tahu bahwa di dalam apel yang busuk pun masih ada bintang. Ayo sekarang munculkan bintang pada diri kalian. Ayo, munculkan sisi baik kalian. Ayo, sebutkan, mulai dari Ian, temukan bintangmu, temukan sisi baikmu! | 

Alhamdulillah, kakak lega. Sekarang kalian sudah punya bintang masing-masing. Jadikan bintang itu pegangan kalian. Jadikan bintang itu perilaku khas kalian. Tinggalkan Ian si Jahil. Sebut Ian sekarang dengan bintangnya, Sang Jujur. Kaitkan tali persaudaraan itu pada perilaku Ian yang positif. Dengan akhlak yang baik, kalian akan menjadi orang-orang yang berhasil. Kakak percaya, adik-adik pasti bisa. 🙂

Tunas: Belajar Mengenal Allah

-acha240814-
-ed.educh-

Jika diurutkan asal mula kejadian segala sesuatu ( apel, pensil, daun, boneka bahkan diri kita sendiri ), pasti panjang sekali dan akhirnya sampai pada pencipta mutlak, dimana segala sesuatu bermula dari sana, dimana Dia tidak merupakan ciptaan dari siapapun. Dia Maha Kuasa, Maha Pencipta dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Siapakah itu adik-adik? | “Allah”

Semua ciptaan Allah adalah untuk kepentingan manusia. Air, hewan (ikan, ayam, sapi, dll), sayur-sayuran, buah-buahan semua itu diciptakan untuk manusia. Hal itu karena Allah sangat sayang pada manusia dan memberikan amanat untuk dapat mengelolanya, maka sudah seharusnya kita sebagai manusia wajib bersyukur kepada Allah. Apakah adik-adik juga sayang sama Allah? |

Lalu, bagaimana ya, caranya kita bersyukur pada Allah? | 

 

Memaknai Masa

-acha240814-

-ed.’ilm-

Al-Qur’an Surat Al-‘Ashr ayat 1-3:

1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.

Tafsir Surat Al-‘Ashr:

  1. “Demi Masa”

Menunjukkan Allah bersumpah atas nama makhluk-Nya, bolehkah? | Tentu saja boleh. Makhluk bersumpah atas nama selain Allah itu yang tidak boleh. Makhluk yang digunakan Allah dalam bersumpah menandakan makhluk tersebut memiliki keistimewaan.

Berarti ‘masa’ punya keistimewaan? | Iya, ‘masa’ punya keistimewaan. Tengoklah ‘masa’, maka kita akan melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Seperti, pergantian siang dan malam. Menakjubkan bukan, ketika cahaya benderang tergantikan pekat malam? Nah, itu hanya ada pada ‘masa’. Coba kita tengok lagi, kita amati musibah-musibah yang ada di dunia ini. Musibah-musibah hanya terjadi pada ‘masa’ tertentu yang telah ditetapkan Allah. Semua hal di dunia ini terjadi pada ‘masa’. Seperti ‘masa’ saat kita lahir, tumbuh dewasa, hingga malaikat Izrail menjemput kita. Itulah istimewanya ‘masa’.

Apakah Allah hanya bersumpah atas nama ‘masa’? | Allah bersumpah juga atas nama makhluk-Nya yang lain. Kita dapat lihat dalam Al-Qur’an. Coba kita tengok Al-Qur’an surat Al-‘Alaq ayat pertama, Allah berfirman, “Demi buah Tin dan buah Zaitun.” Kita tengok juga Al-Qur’an surat As-Syams ayat pertama, Allah berfirman, “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.” Serta masih banyak yang lainnya. Perlu diingat, Allah hanya bersumpah atas nama makhluk-Nya yang memiliki keistimewaan.

  1. “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”

Apakah semua manusia akan merugi? | Kata “Al-Insan” yang artinya manusia pada Surat Al-‘Ashr ayat 2 merujuk pada semua manusia. Artinya, semua manusia dalam keadaan merugi.

Mengapa manusia bisa merugi? | Semua manusia akan merugi ketika semasa hidupnya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan kemaksiatan terhadap Allah.

  1. “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Apakah ada cara agar kita tidak menjadi manusia yang merugi? | Iya, tentu saja, ada caranya.

Bagaimana caranya? | Agar tidak merugi, kita sebagai manusia harus memiliki ke-4 sifat ini, yaitu: beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran dan bersabar. Jika kita memiliki ke-4 sifat ini, insyaAllah kita akan menjadi manusia-manusia yang beruntung di dunia dan di akhirat.

Mengapa harus ke-4 sifat itu yang kita miliki untuk menjadi orang yang beruntung? | Karena Allah yang menciptakan kita, Allah pula yang tahu yang terbaik untuk kita. Di dalam Surat Al’Ashr ayat 3, Allah memberikan tips pada kita untuk menjadi orang beruntung. Sehingga jika kita melaksanakannya, InsyaAllah kita akan menjadi orang yang beruntung. Dan percayalah, Allah tak pernah ingkar janji.

Mengapa tak cukup hanya dengan beriman dan beramal shalih? Mengapa kita juga harus menasehati orang lain? | Kehidupan itu seperti naik kapal. Ada yang naik di bagian atas kapal dan ada pula yang naik di bagian bawah kapal. Kalau orang-orang di bagian bawah membocori kapal sedangkan orang-orang di bagian atas tidak mau menegur dan menasehati mereka, bersiaplah-siaplah kapal itu untuk tenggelam. Itulah mengapa, Allah memerintahkan orang yang beriman dengan ilmu tak hanya beramal, melainkan turut menebar nasehat dan manfaat pada sekitarnya.

Dan mengapa kita harus bersabar? | Dalam hidup, Allah akan menguji kita dengan berbagai musibah dan kesenangan yang melenakan. Kenapa kita diuji? Yaitu untuk mengukur sejauhmana tingkat keimanan kita. Maka bersabarlah dan janganlah berbalik ke belakang.

Tanggapan Imam Syafi’i terhadap surat Al-‘Ashr:

“Jika tidak diturunkan hujjah kepada makhluk-Nya, kecuali hanya surat ini, surat ini saja sudah mencukupi.”

Apa maknanya? | Maknanya, surat Al-‘Ashr adalah surat yang agung. Jika ingin menjadi orang beruntung dunia akhirat, cukup dengan amalkan surat Al-‘Ashr. Adapun maksud ‘mencukupi’ adalah bukan cukup dalam hal syariat, karena dalam surat Al-‘Ashr tak dijelaskan terkait puasa, haji, dan syariat lainnya. Melainkan cukup untuk membuat orang terdorong berpegang teguh dalam agama Allah serta cukup sebagai hujjah bagi Allah bahwa Allah telah memberikan tips agar manusia bebas dari kerugian. Walaupun, banyak manusia yang melalaikan. 

Ikuti sebaik-baik apa yang padamu Tuhan turunkan
karena azab datang tiba-tiba
sedang banyak insan tak sadar
(Az-Zumar:55) 

Serta merugi diri
orang dengan timbangan ringan
enggan berkebajikan
(Al-Mu’minun:103) 

Maknailah masa
bil ‘ilmi, dengan ilmu
bil ‘amali, dengan amal
bid da’wati, dengan dakwah
wa bish shabri, dan dengan sabar