Harapan-harapan

Hai readers…
Pernahkah kalian mempunyai harapan?

Ya, aku juga mempunyai harapan. Harapan-harapan yang aku bangun sebelum menikah hingga sekarang. Harapan-harapan yang tinggi sebagai bentuk penghambaan.

Aku mempunyai banyak harapan. Salah satunya harapan-harapanku bersama imam yang membimbingku menuju surgaNya. Harapan-harapan sejak mataku terbuka hingga hendak terpejam.

Aku mempunyai banyak harapan.

Di pagi hari, jam 3 pagi, entah aku atau imamku yang bangun terlebih dulu, kami berdua saling membangunkan untuk melaksanakan solat qiyamul lail. Sambil menunggu solat shubuh, waktu kami habiskan untuk memperbanyak dzikir, berdoa, dan menghafal alqur’an. Detik-detik shubuh adalah waktu kami untuk bersama menghafal alqur’an.

Saat subuh tiba, imamku segera bergegas menuju masjid untuk solat subuh berjamaah. Aku juga sudah siap untuk solat subuh di awal waktu sambil kuselingi solat sunnah di dalamnya. Kemudian aku menunggu imamku pulang dari masjid sambil menghafal alqur’an. Sepulangnya imamku dari masjid, kami saling setoran hafalan alqur’an. Setelah itu, imamku mengisi pagi ini dengan tausiyah paginya yang diambil dari buku minhajul muslim, dan aku mendengarkan dengan khidmat sambil bertanya banyak hal. Yah, setiap pagi kami mengkaji minhajul muslim bersama.

Setelah itu, aku dan imamku jalan-jalan pagi ke pasar agar badan sehat dan pikiran segar. Sepulang dari pasar, kami bergantian memasak. Ketika aku memasak, maka imamku mandi, dan sebaliknya, ketika aku mandi, imamku gantian memasak. Jika aku sudah selesai mandi, maka aku kembali memasak, dan imamku membersihkan rumah atau kadang-kadang gantian. Kemudian kami sarapan bersama.

Sehabis sarapan, imamku siap-siap pergi belajar dan bekerja. Aku pun juga begitu. Tak lupa sebelum berangkat, kami melaksanakan sholat dhuha. Kemudian imamku berangkat lebih dahulu, aku belakangan. Namun, aku harus sampai di rumah lebih dahulu daripada imamku, agar aku dapat menyambutnya pulang.

Di rumah, sambil aku menunggu imamku pulang, aku mencuci pakaian, merapikan rumah, dan berhias untuk imamku. Setelah semua pekerjaan rumah selesai, aku membaca-baca buku, atau menulis, atau mendengarkan kajian, atau menyelesaikan tugas lain yang harus ku kerjakan.

Sepulangnya imamku, dia pasti sangat lelah. Aku memberikan senyum terbaikku untuk menyambutnya. Aku memijat sebentar badannya untuk menghilangkan sedikit lelahnya. Kemudian aku mempersiapkan makanan untuk kami santap berdua. Sambil makan, aku menceritakan aktivitas apa saja yang telah aku lakukan pada hari itu, aku juga menceritakan tentang buku yang aku baca, dan imamku menanggapi dengan hangat setiap celotehanku. Setelah aku selesai bercerita, gantian imamku bercerita. Ya, kami saling berbagi kisah dan berusaha menarik hikmah di dalamnya.

Setelah itu, kami istirahat. Jika imamku masih punya amanah yang harus diselesaikan, imamku begadang hingga larut. Namun imamku tak pernah lupa untuk bangun qiyamullail. Dan aku memilih untuk tidur terlebih dahulu, karena tugasku sudah aku selesaikan saat aku menunggunya pulang. Aku tahu imamku sangat lelah, tapi kami sudah berkomitmen untuk bangun qiyamullail. Kami harus saling membangunkan dan mengingatkan.

Aku mempunyai banyak harapan.

Ketika aku dan imamku libur berbarengan, seharian penuh waktu kami habiskan berdua. Kalau biasanya setelah sarapan, kami sibuk belajar, bekerja, dan bergelut dengan urusan masing-masing. Saat libur adalah quality time kami berdua. Setelah sarapan, kami pergi jalan-jalan. Ya, kemana saja. Ke tempat-tempat yang ingin kami kunjungi. Kadang kami mengunjungi tempat wisata, perpustakaan, warung makan, tempat kajian, pameran, dan banyak tempat yang kami kunjungi bersama. Namun tempat yang paling sering kami kunjungi adalah tempat kajian.

Maksimal sebelum asar, kami harus sudah sampai rumah. Asar tiba, imamku segera bergegas ke masjid. Aku pun segera bergegas solat. Setelah solat, kami mencuci baju bersama. Kemudian berbersih-bersih diri lalu bersantai-santai sejenak sambil bercerita bercanda ria menunggu maghrib tiba.

Adzan maghrib berkumandang, imamku segera pergi ke masjid. Aku segera solat maghrib. Sambil menunggu pulangnya imamku dari masjid, aku membaca alqur’an. Sepulangnya imamku, di maghrib itu, kami saling menyimak bacaan alqur’an. Jika aku salah membaca, imamku mengingatkan dan sebaliknya. Kemudian imamku memberikan tausiyah hingga waktu isya’ tiba. Imamku segera bergegas ke masjid lagi untuk sholat isya berjamaah. Aku pun bergegas solat isya di rumah awal waktu.

Setelah itu, kami makan malam di luar, layaknya pemuda-pemudi yang dinner berdua dengan kekasihnya. Saat makan malam, seperti biasa, kami saling bercerita banyak hal. Sepulang makan malam, kami segera istirahat, tapi kalau kami masih punya banyak tenaga, kami masih kuat berbincang dan bercanda ria hingga akhirnya kami tertidur. Itulah quality time saat kami sama-sama libur.

Ya. Aku mempunyai banyak harapan. Harapanku untuk imamku. Harapanku untuk keluarga kecilku. Harapanku sebagai wujud penghambaan padaNya.

Harapan-harapanku yang sangat banyak.
Apakah terlalu muluk-muluk?

Harapan-harapanku yang banyak, aku mengharapkan teman hidup yang dapat saling mengingatkan dalam kebaikan dan menasehati dengan lemah lembut saat dalam kebatilan.

Harapan-harapan.
Harapan-harapan.
Harapan-harapanku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s