Pelajar Melek Literasi

Pelajar merupakan ujung tombak di masa depan. Penerus estafet kepemimpin generasi mendatang adalah pelajar. Kaum intelektual yang bisa baca tulis adalah pelajar. Bahkan tak sekedar baca tulis, pelajar pula lah yang digadang intelektualitasnya untuk membangun negeri. Semua amanah tersebut tak diserahkan kepada tukang becak yang sejak pagi hingga malam mengayuh becak untuk mencari nafkah. Tak diserahkan kepada para orang tua lanjut usia yang tak paham aksara. Tak diserahkan kepada peminta-minta, pengamen, pedagang pinggir jalan yang berlelah demi mencari sesuap nasi tiap harinya. Bukan pula kepada kaum hedonis yang gemar berfoya. Amanah tersebut berada di pundak pelajar.
Lantas pertanyaannya, siapkah pelajar menerima amanah sebagai konsekuensi atas keterpelajarannya?
Menilik kondisi pelajar sekarang yang turut terjebak dalam fase hedonisme dan sekulerisme dunia. Sebagaimana media-media yang memberitakan kebobrokan-kebobrokan pelajar. Berita pelajar yang menggunakan narkoba,minuman keras, tawuran hingga seks bebas. Pelajar yang digadang sebagai pembangun bangsa akankah justru menjadi pembobrok bangsa? Tentunya tak ada yang menginginkan hal tersebut terjadi.
Pelajar masa kini mulai kehilangan aspek penting dalam dirinya, yakni citra diri sebagai seorang pelajar. Di tengah gempuran arus globalisasi yang melenakan dengan segala kenyamanan fasilitas yang ada, membuat hakikat citra diri pelajar luntur. Pelajar tak paham hakikatnya sebagai seorang pembelajar. Rutinitas harian pergi ke sekolah lah yang masih menyisakan embel-embel bahwa ia seorang pelajar. Ilmu yang didapat di bangku sekolah menjadi tak terlalu penting, yang penting berangkat ke sekolah, duduk mendengarkan penjelasan guru atau mengobrol dengan teman sebelah, dan mendapat nilai bagus saat ujian dengan beragam cara instan. Seperti itukah citra diri pelajar tumpuan bangsa?
Citra diri utama pelajar adalah belajar. Definisi belajar bukan hanya sekedar membaca buku-buku teks pelajaran. Banyak pelajar yang salah kaprah menganggap belajar hanya sekedar sekolah dan membaca buku pelajaran. Belajar memiliki definisi yang lebih luas dan tak sesempit itu. Belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Salah satunya dengan membaca buku di luar buku-buku pelajaran sekolah. Namun, seberapa banyak pelajar yang gemar membaca buku? Alih-alih baca buku, baca buku pelajaran saja dilakukan hanya saat mau ujian. Lantas, bagaimana nasib sebuah bangsa jika diserahkan kepada generasi yang minus budaya baca?
Sebagai pelajar muslim, hendaknya kita berkaca pada para pendahulu kita. Salah satunya yakni Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i atau terkenal dengan nama Imam Syafi’i. Tradisi keilmuan muncul dari Imam Syafi’i semenjak beliau kecil. Bahkan hasil ijtihadnya menjadi rujukan utama dalam mengkaji hukum islam. Di Indonesia, madzhab syafi’i menjadi mafzhab utama yang banyak digunakan. Keilmuan yang mendalam tersebut tentunya tidak dimiliki oleh Imam Syafi’i secara instan. Penguasaan keilmuan Imam Syafi’i  dibarengi dengan kegemaran membaca yang beliau budayakan sejak dini. Karena sebuah ilmu tak dapat diperoleh dengan instan dan tergesa-gesa, melainkan harus tahap demi tahap dan sabar. Oleh karena itu, salah satu langkah berilmu yakni menjadikan membaca sebagai budaya.
Budaya baca di Indonesia masih terbilang rendah. Hasil data UNDP menunjukkan indeks minat baca di Indonesia masih 0,01 (termasuk kategori rendah). Lantas bagaimana sebuah bangsa dapat berkembang jika budaya membacanya masih rendah? Padahal melalui membaca lah ilmu dapat diperoleh. Alhasil, minusnya budaya baca akan mengakibatkan kurangnya ilmu. Terlebih jika sosok yang minus budaya baca adalah seorang pelajar. Lantas bagaimana nasib Indonesia mendepan di tangan pelajar yang budaya bacanya rendah?
Sebagai pelajar muslim, upaya menumbuhkan semangat baca sejak dini untuk menjawab tantangan zaman yang semakin menuntut tingginya intelektualitas manusia hendaknya digalakkan. Bagaimanakah caranya?
Pertama, membangun kesadaran. Generasi yang giat berliterasi dapat diwujudkan dengan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya membaca. Coba tengok, berapa lama waktu yang pelajar habiskan untuk melakukan hal-hal kurang bermanfaat? Dan berapa banyak waktu yang pelajar habiskan untuk membaca? Inilah kenapa, kunci utamanya adalah menumbuhkan kesadaran. Karena tanpa kesadaran yang kuat, rasa malas, bosan, dan berbagai alasan lainnya akan menghambat terwujudnya budaya baca. Kesadaran ada di dalam diri pelajar masing-masing. Dengan kata lain, pelajar lah yang dapat memotivasi dan memaksa dirinya untuk menjadikan membaca sebagai budaya.
Kedua, mengesampingkan perhitungan. Banyak anggapan membaca berarti harus membeli buku dan mengeluarkan kocek lebih dan boros. Namun, jika dibandingkan kebutuhan tersier lainnya, membeli buku jauh lebih bermanfaat. Bagi yang sadar bahwa membaca adalah suatu kebutuhan, akan menganggap membeli buku justru sebagai investasi ilmu. Dengan bertambahnya buku, banyak manfaat keilmuan yang diperoleh dengan membacanya.
Ketiga, menjaga konsistensi.  Banyak yang mengatasnamakan kesibukan membuat membaca sebagai kegiatan yang tak disempatkan. Konsisten membaca artinya menyisihkan waktu untuk melahap bacaan buku secara istiqomah. Untuk itu, diperlukan jadwal waktu membaca yang rutin tiap harinya, misalnya 10 atau 15 menit per hari di waktu pagi, siang, atau malam. Rutinitas semacam ini akan melatih diri untuk membudayakan membaca.
Keempat, mewariskan pada generasi. Jika pelajar sudah terdidik dengan rutinitas budaya baca. Selanjutnya adalah menularkan kepada keluarga dan teman-teman untuk mencintai buku. Sehingga generasi melek literasi akan dapat dicapai dengan mudah.
Pelajar melek literasi merupakan sebuah harapan bangsa untuk menjadi bangsa yang berilmu dan beradab. Maka, sudahkah kita membaca hari ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s