#Bersamamu2

Suatu hari saat makan di warung lele saus tiram favoritku. Seperti biasa, mas penjualnya suka godain mbak-mbak yang beli disitu. Iseng-iseng aku bilang padamu, “mas itu sudah tua tapi belum nikah lho.”
Lantas kau menjawab, “pertimbangan lelaki saat memutuskan untuk menikah salah satunya adalah keuangan. Sudah mampu atau belum kiranya menafkahi keluarganya kelak.”
Aku pun kembali menjawab iseng, “Tapi kan mas itu kayaknya keuangannya sudah mapan. Warungnya juga rame. Kalau lelaki lain mau nikah itu masih mikir-mikir soal nafkah, kenapa kakak tidak seperti itu?”
“Kakak juga khawatir tidak dapat memberikan nafkah dengan layak. Namun kakak percaya pada Allah,” ujarmu bijak.
Aku hanya bisa diam dan tersenyum, kemudian kembali asik menikmati lele saus tiramku.
Yah, aku tahu saat kita awal menikah, kau bahkan belum punya pekerjaan sama sekali. Selama sebulan lebih kau bersusah payah mencari pekerjaan yang cocok untukmu. Hampir tiap pekan kau membeli koran untuk mencari lowongan pekerjaan. Kau kirim CV-mu, namun masih nihil hingga sebulan lebih. Bahkan hampir 2 bulan kita menikah, namun belum juga kau mendapat pekerjaan. Hari-hari kita bergantung pada uang kiriman dari mak’e, uang pernikahan, dan beasiswaku yang kian hari makin menipis. Hingga akhirnya, alhamdulillah kau diterima bekerja di sebuah warung makan. Aku tahu, saat itu kau pasti bahagia, karena mulai saat itu kau dapat menafkahiku dengan hasil jerih payahmu, tidak bergantung orang lain lagi. Aku pun bahagia. Aku bahkan tak begitu memperdulikan berapa besar gaji yang kau dapat, asalkan halal dan barokah. Karena waktu bekerja yang bertabrakan dengan jadwal kuliahmu, kau bahkan kini harus melepaskan kuliahmu di ma’had untuk sementara. Ya, karena untuk menafkahiku. Aku, amanah baru yang dibebankan Allah di pundakmu.
Awalnya aku tak tahu kau juga memiliki kekhawatiran yang sama tentang nafkah, sebagaimana lelaki pada umumnya. Namun semenjak hari pertama kita menikah hingga kini, aku mulai memahami bahwa kau juga khawatir, terlebih sebentar lagi kita akan dikaruniai amanah dedek mungil dari Allah. Tentunya pengeluaran kita juga akan lebih banyak dari sebelumnya.
Sebagai muslim, kita harus percaya pada Allah. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya yang mau berusaha, berdoa, dan bertawakkal pada-Nya. Itulah pesan tersiratmu yang dapat aku pahami.
Sayang, kau tak perlu khawatir karena aku bahagia bersamamu. Dan ada Allah bersama kita. šŸ™‚ :*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s