Resep Kue Leker ala Magic Com

Pagi ini ceritanya kelaparan. Pagi-pagi sudah ditinggal kesayangan pergi kerja. Mau pergi ke luar buat beli sayuran, eh bawaanya mager (males gerak).
Eng ing eng, alhasil bahan-bahan yang sudah ada di kamar kos tercinta pun semua disatupadukan untuk membuat sebuah masakan. Jadi nggak perlu keluar lagi buat beli bahan. 😀

Setelah jalan-jalan di fesbuk, akhirnya nemu sebuah resep, yaitu Kue Leker. Resepnya yang asli sebenarnya nggak pakai magic com, tapi karena sudah terbiasa dan mau nggak mau harus memasak dengan peralatan ala kadarnya, buat kue leker pakai magic com pun jadi.

Nah, pertama siapin bahan-bahannya dulu ya..
– 100 gr tepung terigu
– 1 btr telur
– 1/2 sdt garam
– 1 sdm gula pasir
– vanili bubuk secukupnya (kalau gak punya vanili gak apa-apa. Saya juga gak pakai vanili karena gak punya persediaannya) 😀
– air secukupnya
Bahan Isi :
– pisang raja secukupnya, iris bulat tipis (gak pakai pisang gak apa-apa. Misal mau diganti buah yang lain juga gak masalah, yang penting pilih buah yang manis dan lembut ya.) 😉
– susu kental manis cokelat secukupnya (karena stok susu kental manis saya habis, jadi saya gak pakai susu kental manis. Tapi rasa tetep oke kok. Asal nanti kasih mesesnya yang banyak :D)
– gula pasir secukupnya
– meises cokelat secukupnya

Yuuk, masuk langkah selanjutnya. Yaitu masak-memasak. Hihi..
– Siapkan mangkuk agak besar, ayak-lah tepung terigu.
– Lalu masukkan telur yang sudah dikocok, vanili, garam, dan air.
– Aduk hingga tercampur rata dan biarkan selama kurang lebih 15 menit.
– Setelah itu, panaskan sedikit mentega di atas wadah magic com. Tunggu hingga menteganya meleleh ya..  Agar magic com selalu masuk mode “cook”, pencetan magic com jangan lupa diganjal pakai kertas. 😀
– Tuang satu sendok sayur adonan, buat dadar tipis dari adonan. (Buat setipis mungkin agar matang sempurna. Ingat jangan tebal-tebal dadarnya. Tipis-tipis aja. Semakin tipis semakin gurih. Semakin tebal semakin susah matangnya)
– Tambahkan bahan isi. Lalu lipat adonan. (Ingat, penutup magic com selalu dibiarkan terbuka. Tidak usah ditutup)
– Tekan-tekan kuenya pakai sendok atau benda yang tidak tajam agar tidak melukai magic com.
– Kalau sisi sebelah sudah matang, balik ke sisi satunya lalu tekan-tekan pakai sendok.
– Kue leker siap dihidangkan

Yaah kalau buat di magic com memang rasa kue lekernya tidak segurih aslinya. Tapi soal rasa, kue leker ala magic com tak kalah duanya.
Bisa nih jadi alternatif cemilan buat anak kos yang gak punya kompor. Dont worry, rasanya enaaaak lhoo.. Hehe…

Oh iya, ini nih hasil kue leker ala magic com buatan saya.

image

image

image

Mana nih kreasi buatanmu?? 😀

Selamat berkreasi ^_^

#Bersamamu4

Saat kita jalan-jalan di malam itu, kau berkata padaku, “Menjadi pedagang pinggir jalan itu rekoso. Tapi mereka punya harga diri yang tinggi, karena mereka berusaha berpijak di atas kakinya sendiri. Kakak salut dengan mereka. Berbeda dengan kakak, yang menjadi seorang pelayan, menjadi bawahan orang.”
Lalu aku pun mengomentari, “Lha kenapa kakak ndak menjadi pedagang aja kalo gitu?”
“Semua ada waktunya dek,” jawabmu.
“Semoga waktu itu segera datang sehingga harapmu untuk bekerja bukan di bawah naungan orang lain segera terwujud,” batinku. Aku tersenyum. Begitulah kau, memiliki harga diri yang tinggi.

Yah, bicara tentang harga diri, sampai-sampai saat aku meminta membelikan gorengan  2000 kau menjawab, “nek tuku 2000 tok isin aku. Tak beliin 5000 wae ya.” Yah, harga diri dan gengsi itu beda tipis barangkali? Hehe..

Bicara tentang rizqi. Allah sudah menetapkan bagian rizqi setiap makhluk. Termasuk rizqi kita. Ya, biasanya kita tak memiliki banyak uang seperti bulan ini. Karena bulan ini kita butuh uang untuk membayar kontrakan yang kita idamkan, Allah pun menurunkan rizqinya sesuai kadar kebutuhan kita. Rizqi yang alhamdulillah cukup di bulan ini, alhamdulillah cukup pula untuk menyicil kontrakan, uang untukku seminar proposal, dan uang makan kita sehari-hari.
Ah, harus seperti apa lagi aku berprasangka baik terhadap Allah. Sungguh Allah Maha Pengasih dan Pemurah.

Padahal berulangkali kita dan aku khususnya seringkali mengabaikan Allah, namun Allah kerap kali menunjukkan tanda kuasaNya pada kita. Allah tak pernah melupakan kita.

Sungguh benar firman Allah, nikmat Allah mana lagi dan mana lagi serta mana lagi yang kerap kali manusia dustakan???

Harapan-harapan

Hai readers…
Pernahkah kalian mempunyai harapan?

Ya, aku juga mempunyai harapan. Harapan-harapan yang aku bangun sebelum menikah hingga sekarang. Harapan-harapan yang tinggi sebagai bentuk penghambaan.

Aku mempunyai banyak harapan. Salah satunya harapan-harapanku bersama imam yang membimbingku menuju surgaNya. Harapan-harapan sejak mataku terbuka hingga hendak terpejam.

Aku mempunyai banyak harapan.

Di pagi hari, jam 3 pagi, entah aku atau imamku yang bangun terlebih dulu, kami berdua saling membangunkan untuk melaksanakan solat qiyamul lail. Sambil menunggu solat shubuh, waktu kami habiskan untuk memperbanyak dzikir, berdoa, dan menghafal alqur’an. Detik-detik shubuh adalah waktu kami untuk bersama menghafal alqur’an.

Saat subuh tiba, imamku segera bergegas menuju masjid untuk solat subuh berjamaah. Aku juga sudah siap untuk solat subuh di awal waktu sambil kuselingi solat sunnah di dalamnya. Kemudian aku menunggu imamku pulang dari masjid sambil menghafal alqur’an. Sepulangnya imamku dari masjid, kami saling setoran hafalan alqur’an. Setelah itu, imamku mengisi pagi ini dengan tausiyah paginya yang diambil dari buku minhajul muslim, dan aku mendengarkan dengan khidmat sambil bertanya banyak hal. Yah, setiap pagi kami mengkaji minhajul muslim bersama.

Setelah itu, aku dan imamku jalan-jalan pagi ke pasar agar badan sehat dan pikiran segar. Sepulang dari pasar, kami bergantian memasak. Ketika aku memasak, maka imamku mandi, dan sebaliknya, ketika aku mandi, imamku gantian memasak. Jika aku sudah selesai mandi, maka aku kembali memasak, dan imamku membersihkan rumah atau kadang-kadang gantian. Kemudian kami sarapan bersama.

Sehabis sarapan, imamku siap-siap pergi belajar dan bekerja. Aku pun juga begitu. Tak lupa sebelum berangkat, kami melaksanakan sholat dhuha. Kemudian imamku berangkat lebih dahulu, aku belakangan. Namun, aku harus sampai di rumah lebih dahulu daripada imamku, agar aku dapat menyambutnya pulang.

Di rumah, sambil aku menunggu imamku pulang, aku mencuci pakaian, merapikan rumah, dan berhias untuk imamku. Setelah semua pekerjaan rumah selesai, aku membaca-baca buku, atau menulis, atau mendengarkan kajian, atau menyelesaikan tugas lain yang harus ku kerjakan.

Sepulangnya imamku, dia pasti sangat lelah. Aku memberikan senyum terbaikku untuk menyambutnya. Aku memijat sebentar badannya untuk menghilangkan sedikit lelahnya. Kemudian aku mempersiapkan makanan untuk kami santap berdua. Sambil makan, aku menceritakan aktivitas apa saja yang telah aku lakukan pada hari itu, aku juga menceritakan tentang buku yang aku baca, dan imamku menanggapi dengan hangat setiap celotehanku. Setelah aku selesai bercerita, gantian imamku bercerita. Ya, kami saling berbagi kisah dan berusaha menarik hikmah di dalamnya.

Setelah itu, kami istirahat. Jika imamku masih punya amanah yang harus diselesaikan, imamku begadang hingga larut. Namun imamku tak pernah lupa untuk bangun qiyamullail. Dan aku memilih untuk tidur terlebih dahulu, karena tugasku sudah aku selesaikan saat aku menunggunya pulang. Aku tahu imamku sangat lelah, tapi kami sudah berkomitmen untuk bangun qiyamullail. Kami harus saling membangunkan dan mengingatkan.

Aku mempunyai banyak harapan.

Ketika aku dan imamku libur berbarengan, seharian penuh waktu kami habiskan berdua. Kalau biasanya setelah sarapan, kami sibuk belajar, bekerja, dan bergelut dengan urusan masing-masing. Saat libur adalah quality time kami berdua. Setelah sarapan, kami pergi jalan-jalan. Ya, kemana saja. Ke tempat-tempat yang ingin kami kunjungi. Kadang kami mengunjungi tempat wisata, perpustakaan, warung makan, tempat kajian, pameran, dan banyak tempat yang kami kunjungi bersama. Namun tempat yang paling sering kami kunjungi adalah tempat kajian.

Maksimal sebelum asar, kami harus sudah sampai rumah. Asar tiba, imamku segera bergegas ke masjid. Aku pun segera bergegas solat. Setelah solat, kami mencuci baju bersama. Kemudian berbersih-bersih diri lalu bersantai-santai sejenak sambil bercerita bercanda ria menunggu maghrib tiba.

Adzan maghrib berkumandang, imamku segera pergi ke masjid. Aku segera solat maghrib. Sambil menunggu pulangnya imamku dari masjid, aku membaca alqur’an. Sepulangnya imamku, di maghrib itu, kami saling menyimak bacaan alqur’an. Jika aku salah membaca, imamku mengingatkan dan sebaliknya. Kemudian imamku memberikan tausiyah hingga waktu isya’ tiba. Imamku segera bergegas ke masjid lagi untuk sholat isya berjamaah. Aku pun bergegas solat isya di rumah awal waktu.

Setelah itu, kami makan malam di luar, layaknya pemuda-pemudi yang dinner berdua dengan kekasihnya. Saat makan malam, seperti biasa, kami saling bercerita banyak hal. Sepulang makan malam, kami segera istirahat, tapi kalau kami masih punya banyak tenaga, kami masih kuat berbincang dan bercanda ria hingga akhirnya kami tertidur. Itulah quality time saat kami sama-sama libur.

Ya. Aku mempunyai banyak harapan. Harapanku untuk imamku. Harapanku untuk keluarga kecilku. Harapanku sebagai wujud penghambaan padaNya.

Harapan-harapanku yang sangat banyak.
Apakah terlalu muluk-muluk?

Harapan-harapanku yang banyak, aku mengharapkan teman hidup yang dapat saling mengingatkan dalam kebaikan dan menasehati dengan lemah lembut saat dalam kebatilan.

Harapan-harapan.
Harapan-harapan.
Harapan-harapanku.

Warna-warni Mahasiswa

Mahasiswa baru. Banyak hal yang ingin dilakukan. Ada yang menuangkan hasrat itu dalam bentuk mengikuti banyak organisasi kemahasiswaan, mengikuti lomba-lomba keilmiahan, fokus study oriented, bahkan yang bermalas-malasan sekedar kuliah pulang-kuliah pulang pun ada. Beragam warna mahasiswa baru menjadikan kampus laksana pelangi (tapi bukan LGBT lho yaa :D).

Mahasiswa pertengahan semester. Kini mulai melepas satu per satu organisasi yang diikuti dan fokus pada salah satu atau salah dua organisasi yang benar-benar menjadi passionnya. Itu untuk mahasiswa yang katanya organisatoris. Lain halnya dengan mahasiswa yang suka mengikuti lomba-lomba. Dulu yang masih cupu dan belum berpengalaman dalam hal lomba-lombaan, kini mulai menampakkan taringnya. Mulai rajin jalan-jalan ke luar kota gratis, beberapa kadang harus merogoh kocek jika dana yang turun dari kampus untuk lomba masih kurang. Tak hanya luar kota,  ada pula yang berkesempatan ikut lomba ke luar pulau bahkan luar negeri. Itu buat mahasiswa yang katanya ilmiah. Beda lagi dengan mahasiswa yang fokus nugas-nugas-nugas, yang sangat mengejar cumlaude. Sampai pertengahan semester pun masih bersemangat nugas. IP turun dikit langsung nangis guling-guling (hehe, terlalu mendramatisir). Itu buat mahasiswa yang katanya study oriented. Ada pula mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) yang masih stay cool dengan kupu-kupunya. Filosofi yang dipakai umumnya jalani hidup bak air mengalir.

Mahasiswa akhir. Tujuannya sama: pengen segera lulus, kelar skripsinya dan diwisuda. Namun jalan yang ditempuh berbeda-beda. Ada yang nyaman dengan organisasinya sampai keasikan ngurus organisasi. Ada yang cepet banget ngurus skripsinya sehingga cepet lulus. Ada yang cepet ngurusnya tapi pihak luar seperti dosen pembimbing yang tidak mendukung karena susah ditemui atau revisi yang lama atau terlalu banyak revisi dan lainnya. Pun ada pula yang bersantai mengerjakan skripsinya.
Ya. Mahasiswa dari awal hingga akhir beragam warnanya. Tentunya tak hanya sebatas pengamatan yang tidak ilmiah yang saya tulis ini. Masih banyak ragam pilihan lainnya menjadi mahasiswa yang ‘gue banget’ menurut mindsetnya masing-masing.

Bagaimanapun jalan yang dipilih mahasiswa, itu akan membentuk pribadinya selama kurang lebih 4 tahun di bangku kuliah. Apapun jalan yang dipilih mahasiswa, semoga mahasiswa tidak menjadi ‘pelacur intelektual’.
Mahasiswa harapan bangsa. Akankah masih tetap menjadi harapan?

*maafkeun tulisannya blepotan. Tanpa editing hehe

#Bersamamu3

“Menikah adalah bersepakat untuk ketaatan”, tulismu di undangan pernikahan kita yang sederhana. Jika memang kita menikah semata karena Allah, ingatkanlah aku untuk senantiasa dekat dengan Allah. Ingatkan aku saat aku tak sholat tepat waktu. Rengkuh aku saat aku sedang futur. Motivasi aku untuk senantiasa semangat dalam beribadah dan berdakwah. Nasehatilah aku dengan lembut saat aku lalai dengan amanahku sebagai seorang hamba, istri, anak, maupun ibu.

Sayang, aku membaca kembali surat yang kau tulis dulu. Di surat itu tertulis, “Maukah bersama membina generasi kecil untuk peradaban besar yang diridhoi Allah?” Lantas, sudahkah hari-hari yang kita lalui semenjak awal menikah telah benar arahnya menuju kesana? Membina generasi kecil untuk peradaban besar yang diridhoi Allah, sudahkah kita melangkah kesana? Atau jalan kita masih terseok-seok.

Oleh karena itu, sayang, aku butuh bimbinganmu selalu. Aku membutuhkan uluran tanganmu untuk menggandengku, lalu kita melangkah bersama. Seperti katamu ‘membina generasi’. Membina bukanlah hal sepele. Butuh perjuangan, bertahap, dan periode yang panjang.

Membina generasi tak dapat dilakukan jika kita hanya bermalas-malasan. Aku tahu lelahmu. Namun jangan jadikan itu alasan untuk melalaikan amanah sebagai hamba, suami, anak, dan ayah. Terlebih sebagai hambaNya, sayang. Ingatlah untuk selalu sholat berjamaah di masjid. Ingatlah untuk menjalankan ibadah-ibadah sunnah lainnya.

Membina generasi membutuhkan ilmu dan keteladan. Sudah berbekal ilmukah kita? Sudah pantaskah kita menjadi teladan bagi generasi kecil kita?

Sayang, aku ingin kita bisa selalu saling menasehati dan memotivasi. Aku ingin kita bisa selalu belajar bersama. Maafkan jika aku terlalu banyak menuntut dan meminta. Sayang, aku ingin kita dekat dengan Allah. Bantu aku ya.. Aku juga akan membantumu.. Kita saling membantu untuk generasi kecil kita… Demi peradaban besar yang diridhoiNya, insyaallah..