entah

Yang Maha Pemberi Hidayah,  apakah perbuatanku ini salah?
apakah mengikuti acara agar bisa fokus menghafalkan Al-Qur’an dan mendekat padaMu itu salah?
apakah mengikuti acara tersebut dan meninggalkan sarasehan Instruktur itu sesuatu yang salah?
apakah karena aku tidak memilih kepentingan umat itu salah?
bukankah aku hanya ingin mendekatiMu dengan tatih langkahku?

Mengenang: Wafatnya Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah, kerap kali saya mendengar nama itu disebut di mimbar-mimbar dan ditulis di buku-buku. Saya tak begitu mengenal seluk beluk kehidupan dan perjuangan beliau. Hingga akhirnya saya membaca sebuah buku berjudul Pemikiran Pendidikan Islam karya Abu Muhammad Iqbal. Salah satu tokoh yang pernah merumuskan konsep pendidikan islam adalah Ibnu Taimiyah. Di dalam salah satu bab dari buku tersebut dijelaskan konsep pendidikan islam versi Ibnu Taimiyah, yakni pendidikan islam berbasis Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sebelum masuk ke penjelasan konsep pendidikan islam versi Ibnu Taimiyah, penulis buku tersebut memaparkan biografi singkat Ibnu Taimiyah, kurang lebih 24 halaman. Hingga sampailah saya kepada salah satu sub-sub bab yaitu wafatnya Ibnu Taimiyah yang membuat saya meneteskan airmata. Saya merasakan sangat kehilangan akan sosok ulama sekaligus mujahid yang sangat hebat di masanya. Saya ingin mengenang dengan menulis ulang kisah wafat Ibnu Taimiyah dari buku yang saya baca tadi.
*****
Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da’i yang tabah, liat, wara’, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda.  Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat islam dari kedzaliman musuh dengan pedangnya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.
Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang memberikan kesaksiannya, “…tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari…” Akhirnya dengan izin Allah, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir, dan Hijaz.
Tetapi karena ketegaran, keberanian, dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama, dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di penjara, dibuang, diasingkan, dan disiksa.
Hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqun serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang, dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal’ah di Dimasyq. Dan beliau berkata: “Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.”
Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:
“Apakah yang diperbuat musuh padaku!Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku.Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamakudan tiada pernah tinggalkan aku.Aku, terpenjaraku adalah khalwat. Kematianku adalah mati syahid. Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.”
Beliau pernah berkata dalam penjara, “Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.”
Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyahnya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang aqidah, tafsir, dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid’ah.
Pengagum-pengagum beliau di luar penjara sangat banyak. Sementara dalam penjara, banyak penghuninya menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syariat Allah, selalu beristigfar, tasbih, berdoa, dan melakukan amalan-amalan shalih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.
Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahli bid’ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya  agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya menghantarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.
Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berpikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya. Aamiin.
Ibnu Taimiyah wafat di dalam penjara Qal’ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Al ‘Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah. Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih, Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur’an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur’an 80 atau 81 kali. Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, konon tidak pernah mau menerima pemberian apapun dari penguasa.
Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami’ Bani Umayah sesudah shalat zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara’, ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.
Seorang saksi mata pernah berkata, “Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa.”
Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.
Beliau wafat pada tanggal 20 Dzulhijjah tahun 728 H, dan dikuburkan pada waktu ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh salaf, da’i, mujahid, pembasmi bid’ah dan pemusnah musuh. Wallahu a’lam.