Asrama Cup

21 Maret 2013
Hari Puncak Asrama Cup. Ada banyak lomba-lomba yang harus anak asrama ikuti. Mulai dari lomba Tilawah, lomba Makan Krupuk, lomba Belut-Kepiting-Karung, lomba Pecah Air, lomba Menghias Tumpeng, lomba Miss Fashionable, Miss Busana Terbaik, dan Miss Intelegensia, serta lomba Kebersihan Blok.
Dari seluruh perlombaan tadi, -alhamdulillah- blok-ku berhasil memenangkan 2 perlombaan. Pertama, juara 2 Lomba Belut-Kepiting-Karung. Kedua, memperoleh penghargaan sebagai Miss Busana Terbaik. 🙂
Teman-teman Blok-ku sangat berharap dapat menjadi juara 1 Lomba Kebersihan blok. Namun, qadarullah, Allah berkehendak lain. 🙂
No problem,Kami terus berbahagia di Puncak Asrama Cup ini dalam kebersamaan. 🙂
Lomba diakhiri dengan memakan tumpeng hiasan kami bersama-sama. Aku kenyang, kak… 😀

Namun kak, hatiku malah merasa hampa. Apakah karena ini bukan merupakan hakikat kehidupan yang hakiki???
Di tengah keramaian, keceriaan dan kebersamaan, tapi hatiku begitu hampa.
Aku melihat temen-temenku di ma’had, aku merasa hatinya mereka jauh lebih berisi dari hatiku selama ini.  Berisi dengan keimanan, keteduhan dan keilmuan. Ah, aku iri.

Sebuah Piala Kehormatan

20 Maret 2015
Kakak, hari ini adalah hari penilaian kebersihan asrama. Blok-ku sangat ingin memperoleh sebuah Piala Kehormatan ‘Blok Terbersih’ dan mengalahkan blok-blok lainnya. Lomba kebersihan ini adalah ajang yang paling bergengsi bagi seluruh penghuni asrama PGSD. Kami membersihkan tempat jemuran, kamar mandi, teras depan, kamar-kamar, dan ruang bercengkrama. Kami membuangi barang-barang yang sudah tak terpakai agar spacenya terlihat lebih longgar. Kami mengusir debu-debu yang ada. Kami sapu dan pel secara rutin. Alhasil blok kami pun tampak jauh lebih bersih dan rapi.
Kata salah seorang temen blok-ku, mendapat Piala Kehormatan ‘Blok Terbersih’ sama bergengsinya dengan mendapat stempel ‘calon istri idaman’. Kami harus mengusahakan yang terbaik untuk blok kami agar dapat menyabet Piala Kehormatan tersebut.
Karena memperoleh Piala Kehormatan merupakan tujuan kami bersama, aku pun turut mengusahakan yang terbaik dengan membersihkan kamarku yang tak terawat dan berantakan. Aku bukan orang yang peka terhadap kebersihan. Kalau ada kotor dikit, paling cuma aku lirik dengan tak terlalu peduli, kalau kotornya banyak baru aku peduliin. Benar-benar orang yang tidak peka terhadap kebersihan. Yah, kakak masih punya banyak waktu berpikir ulang sebelum menyesal.
Dan bagiku sendiri, memperoleh Piala Kehormatan ‘Blok Terbersih’ tidak dapat dibandingkan dengan label ‘Calon Istri Idaman’. Apakah calon istri idaman harus selalu dilihat dari kebersihannya? Kenapa ‘kebersihan sebagian dari iman’ selalu dibawa-bawa sebagai pengingat terhadap orang yang kebersihannya biasa-biasa aja atau cenderung menengah ke bawah? Bukan berarti aku tidak suka kebersihan. Aku tetap menyukai kebersihan. Aku tegaskan lagi, aku menyukai sesuatu yang bersih. Akan tetapi,  barangkali kebersihan versi-ku (orang-orang dengan tingkat kepekaan kebersihan menengah ke bawah) berbeda standarisasinya dengan kebersihan versi-mereka (orang-orang dengan tingkat kepekaan kebersihan menengah ke atas). Ini hanya hipotesisku sih. Belum diteliti secara ilmiah. Barangkali ada yang mau menjadikan sebagai wacana skripsi. 😀
Tepat pukul 9.15 tadi, dewan juri memasuki blok-ku. Salah satu jurinya adalah dosen yang sangat mengenalku, sebut saja Bu Madam. Beliau mengenalku karena aku sering buat masalah saat kuliah, entah itu karena sering terlambat, atau tidak masuk kuliah tanpa izin, atau ngomong sendiri di kelas, atau bengong, atau apapun lah, Bu Madam sering sekali menyorotku. Aku sangat tidak suka dikenal oleh dosen, siapapun.
Pertama kali menginjakkan kaki ke teras depan blokku, Bu Madam melihat sosokku duduk di depan teras. “Oh, Mbak asrama disini to?”
Aku menjawab dengan malu,”iya, Bu.”
Kemudian Bu Madam masuk ke ruang bercengkrama, kemudian bertanya lagi, “Kamarnya Mbak dimana?”
Deuuuh,, dibandingkan kamar-kamar yang lain, kamarku termasuk yang paling kurang bersih, karena ruangannya kecil, banyak barang, dan aku kurang pandai dalam menata ruangan. Dan satu-satunya kamar yang ditanyakan Bu Madam adalah kamarku. Huhuhu… Aku berharap kamar yang lain saja yang dilihatnya dengan saksama, bukan kamarku. 😦
Yah,, entahlah apakah kamarku dan aku turut mempengaruhi penilaiannya atau tidak, tapi sungguh aku sudah mencoba dengan keras membersihkan semampuku.
Bagaimanapun juga aku tak ingin mengecewakan teman-teman blok-ku yang sangat ingin memperoleh Piala Kehormatan ‘Blok Terbersih’. Semoga saja blok kami mampu memperoleh Piala Kehormatan tersebut. Doakan kami ya Kak… 🙂
Ya Allah, semoga blok G dapat memperoleh Piala  Kehormatan ‘Blok Terbersih’. Aamiiin….
^__^

(May be) Karena Apatis

Kakak, di perjalanan sore tadi, aku melihat 2 hal. Sebenarnya aku sering menjumpai 2 hal ini, namun aku tetap ingin bercerita padamu.
Saat melewati jalanan depan Solo Square, aku melihat seorang kakek mengendarai sepeda tua dengan banyak bola-bola plastik kecil di jok belakang sepedanya . Kakek itu sudah sangat tua sambil tertatih dan sangat pelan, ia mengayuh sepedanya, demi sesuatu yang kita sebut rupiah. Ayolah, aku bahkan tak tahu, apakah dalam sehari kakek tersebut berhasil mendapatkan satu rupiah atau tidak. Aku iba, karena kakek itu menjajakan sesuatu yang tidak marketable. Siapakah yang mau membeli dari kakek itu? Entah laku atau tidak, kakek itu tetap mengayuh sepedanya sambil berharap seseorang mau membeli dagangannya. Aku juga iba, dimana keluarga kakek itu? Dimanakah anak-anaknya sehingga membiarkan orang setua itu masih bekerja mencari nafkah? Dan aku dengan sepedaku sebatas melewatinya.
Masih di sore yang sama, di bangjo UMS, aku melihat seorang nenek tua yang sedang mengemis. Paradoks dengan kakek tadi.
Aku pernah membaca bahwa dalam sehari ada pengemis yang dapat mencapai penghasilan 1juta. Sehingga pengemis pun dijadikan profesi yang banyak diminati bagi orang yang mengesampingkan harga dirinya bahkan menjualnya murah meriah seratus rupiah. Entah nenek yang aku temui tadi sore termasuk dalam kategori ‘pengemis kaya’ tersebut atau tidak. Atau nenek itu mengemis karena  kebutuhan yang mendesak dan benar-benar tak mampu. Aku tak tahu. Aku iba, mengapa nenek itu rela menjual dirinya dengan sebegitu murahnya? Aku juga iba, dimana keluarga nenek itu? Dimanakah anak-anaknya sehingga membiarkan orang setua itu mengemis di jalanan yang padat polusi? Dan aku dengan sepedaku sebatas melewatinya.
Sejenak aku teringat nenekku di rumah. Nenekku selama 24 jam dapat dikatakan hidupnya di rumah. Kalaupun keluar hanya sebatas di pekarangan rumah dan kalau ada perkumpulan keluarga besar saja. Nenekku jalannya sudah tertatih, kakinya sudah tidak kuat berjalan jauh, sehingga kalau berjalan harus dibantu dengan tongkat atau dituntun. Tapi dari kami sekeluarga, nenek lah yang paling jago memasukkan ayam dan bebek ke kandangnya. Bahkan aku tidak bisa melakukan hal itu. Nenekku di masa tuanya hidup nyaman di rumah sambil ditemani kucing, sapi, ayam, dan bebek. Di rumahku memang ada banyak hewan. Tapi rumahku bukan peternakan apalagi kebun binatang.
Aku tak bisa membayangkan jika yang menjajakan dagangan itu adalah nenekku. Atau yang mengemis tadi adalah nenekku. Orangtuaku tak akan membiarkan hal itu terjadi pada nenekku. Tapi kenapa hal tadi dapat terjadi pada kakek dan nenek yang aku temui di jalan sore tadi? Dimanakah anak mereka? Dimanakah keluarga mereka? Aku iba. Dan aku dengan sepedaku sebatas melewati mereka. Apatis, mungkin..

(May be) Pinky Day

17 Maret 2015
Kakak, hari ini hari selasa, seperti biasa, anak FKIP wajib untuk memakai atasan hitam dan bawahan putih pada hari senin dan selasa. Namun hari ini ada yang berbeda, aku memakai jilbab berwarna pink baby. Aku tidak suka warna pink. Tapi apa mau dikata, ini merupakan maklumat dari ketua kelasku yang baru, sehingga harus dipatuhi. Kalau tidak memakai jilbab pink, akan didenda 10ribu. Sekali lagi, aku tidak suka jilbab pink maupun warna pink. Agak aneh pertama kali memakainya di kampus. Kondisi ini harus ku jalani selama 1 semester ini. Cukup menenangkan karena kuliahku tiap hari senin libur. Sehingga aku cukup memakainya pada hari Selasa.
Semua temen putri di kelasku pada hari ini memakai jilbab pink. Banyak yang menyebutnya ‘6A Pinky Day’. Kami berselfie ria untuk mengabadikan the first moment tersebut. Dan aku harus mulai membiasakan diri untuk memakai jilbab pink tersebut. 
Aku tidak suka warna pink bukan karena Dinullah memerintahkan kaum wanita untuk berpakaian yang tidak mencolok. Aku tak sealim itu, kak. Aku cuma seorang wanita labil yang childish. Aku  tidak suka warna pink sebagaimana wanita kebanyakan karena memang aku tidak menyukainya. Just a simple thing, no more.
Aku lebih menyukai warna hijau dan coklat. Banyak sekali bajuku yang berwarna hijau dan coklat. Ada beberapa warna biru juga sih, tapi tak terlalu mendominasi. Eh, aku juga punya kaos pink sih. Itu satu-satunya kaos pink that I ever have. Hehe.. Kalau kakak, warna yang kakak sukai apa?
Karena saking sukanya sama warna hijau dan coklat, kadang aku juga membayangkan pengen rumah warna hijau kalem yang menyejukkan mata, terus asri semilir karena banyak pohonnya. Kalau bisa juga ada kolam renangnya biar bisa renang di dalam rumah, nggak usah jauh-jauh ke tempat renang karena selain bayar mahal juga harus jauh-jauh ke luar rumah. Walaupun aku nggak bisa renang,  tapi aku tetep suka berenang. Jadi rumahnya dominan warna hijau, dengan sedikit tambahan coklat karena gradasi tanahnya dan biru karena pantulan langit dari kolam renang. Rumahnya nggak harus besar-besar banget, yang penting cukup. Cukup buat mobil, kamar-kamar, kolam renang, pekarangan depan dan belakang, taman-taman kecil buat belajar dan bermain, dan cukup buat yang lainnya. Hehe.. Pun kalau belum diridhoi Allah untuk memiliki rumah seperti itu, maa fii musykilah. Hehe. Terpenting ada kakak disamping adek. Kita belajar, beramal, berdakwah,bersabar, dan saling mengkoreksi bersama. ^_^
Lhoh, lhoh, kok malah nyerempet ke situ,, Hehe…Kakak, adek sedang kangen seseorang. 🙂