Soal Daging yang Ibarat Dokter Salah Resep

Aku suka sapi :’)
*berdoa untuk Indonesia lebih baik dan ampunan dari Allah* :’)

Catatan Dahlan Iskan

23 Februari 2015

“Ini” tidak pernah dibahas di pusat pengambilan kebijakan. Saat saya menjadi menteri pun tidak pernah memikirkan yang “ini”. Saya memang tidak tahu bahwa ternyata “ini”-lah pangkal penyebab mahalnya daging.

Begitu naifnya saya.

Saya ingat, setiap terjadi gejolak harga daging, pembahasannya selalu sangat ilmiah. Ilmu supply and demand, ilmu dagang, ilmu hewan, ilmu logistik, serta segala macam ilmu diperdebatkan.

Kesimpulannya pun sangat ilmiah: Indonesia hanya cocok untuk penggemukan sapi, tapi tidak cocok untuk pembibitan sapi. Biaya membuat seekor anak sapi hingga berumur enam bulan sampai Rp 6 juta. Di Australia hanya Rp 2 juta. Tapi, biaya membesarkan dan menggemukkan sapi di Indonesia lebih murah.

Maka, logikanya pun ilmiah: beli saja peternakan sapi di Australia. Khusus untuk pembibitan. Lalu, anak sapi itu dikirim ke Indonesia. Untuk digemukkan. Jangan impor sapi potong dari Australia. Bisa mematikan peternak kita.

Maka, penjajakan untuk membeli peternakan sapi di Australia pun dilakukan. Bahwa…

Lihat pos aslinya 736 kata lagi

Iklan

Titik Dua

berkata Fadhilatus Syeikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah-:

ينبغي للإنسان أن يسأل الله دائما أن يُطهر قلبه ، وأن يعتني بأعمال القلب ، واعتناء المرء بأعمال القلب يجب أن يكون أشد من اعتنائه بعمل الجسد؛ لأن عمل الجسد يقع من كل إنسان من مؤمن ومنافق.

“Sepantasnya bagi seseorang untuk terus menerus meminta kepada Allah untuk mensucikan hatinya, dan hendaklah ia memiliki perhatian terhadap amalan-amalan hati, dan perhatian seseorang terhadap amalan-amalan hati haruslah lebih besar daripada perhatiannya terhadap amalan anggota badan, karena amalan anggota badan itu bisa terjadi pada seorang mukmin maupun munafik”.
Tafsir surah Al Maidah ayat 6.

(Tidak) Bertahan

Di PII itu pilihan.
Setiap kader akan tersaring secara alamiah.
Ada yang bertahan dan tak sedikit yang hengkang.
Karena apa sih yang diberikan PII pada kadernya?
Adanya cuma penderitaan, perjuangan, kesibukan, dan jarang pulang.
Lalu kenapa masih bertahan di PII?
Kenapa mau-maunya menderita di PII?

Itulah kawan, aku masih bertahan di PII hingga kini. Jika ditanya alasan, sungguh aku bingung menjelaskan.
Karena hal tersebut, memang, sesuatu yg susah dijelaskan pada orang yang tak terlibat.

No More

Jangan panggil  aku ukhti
Jangan panggil  aku piiwati
Jangan panggil  aku ustadzah
Aku tidak suka jika sebutan sebutan itu mengarah padaku.
Cukup panggil aku ATIN.
Ditambahi ‘mbak’ atau ‘dek’ didepannya bolehlah.
Asal bukan embel embel di atas.
Telingaku risih dengernya..