Rapuhnya Fondasi Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan dasar secara formal dapat dikatakan sebagai fondasi dari praktik pendidikan formal  pada jenjang selanjutnya. Tanpa fondasi pendidikan dasar yang kuat hampir dapat dipastikan bahwa praktik pendidikan pada jenjang selanjutnya akan rapuh. Selain itu, posisi pendidikan dasar sangat strategis, alasannya antara lain adalah: akses terbesar yang dapat dijangkau oleh masyarakat secara luas adalah pendidikan dasar, kecuali itu pendidikan dasar adalah awal yang bagus dan tepat dalam membentuk pengetahuan dan karakter seseorang.

Renstra Pembangunan Pendidikan Nasional 2005-2009 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) bertujuan agar semua anak usia dini (0-6 tahun), baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya, sesuai tahap-tahap perkembangan atau tingkat usia mereka. Secara garis besar sesuai dengan Renstra 2005-2009 terdapat penekanan terhadap pemerataan dan perluasan partisipasi PAUD. Pada pemerataan dan perluasan akan diupayakan bersama-sama oleh pemerintah dan swasta, dimana pemerintah lebih berkonsentrasi pada pendidikan formal TK/RA  dan mendorong swasta melakukan perluasan PAUD non-formal (kelompok belajar, TPA). Penyediaan sarana prasarana dan biaya operasional pendidikan juga akan diberikan pemerintah dalam bentuk subsidi kepada penyelenggara PAUD baik negeri maupun swasta.

Dalam beberapa pemberitaan yang dapat diakses di website resmi PAUD (www.paudni.kemdiknas.go.id) pendanaan PAUD tidak hanya diambilkan dari dana APBN saja, melainkan juga dari utang luar negeri, yakni dari Bank Dunia yang diberikan pada tahun 2005 untuk periode 2006-2013, besarannya mencapai 158 juta dolar AS. Kampanye yang begitu gencar dari masyarakat dengan didukung gelontoran biaya yang lumayan banyak bagi para penyelenggara PAUD di kota maupun daerah, pada akhirnya telah menimbulkan fenomena menjamurnya PAUD hingga sekarang, kecuali di desa-desa yang memang jauh dari kota.  Ironisnya, walaupun sudah mendapat subsidi dari pemerintah, seringkali biayanya juga tetap mahal.

Wabah pendidikan PAUD telah menjadi lahan pembuka mata pencaharian baru bagi masyarakat yang bernalar kapitalis, mereka ramai-ramai mendirikan lembaga pendidikan PAUD dimotivasi hasrat profit oriented dengan harapan mendapat bantuan dari pemerintah dan kelak gurunya dapat diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ketika sebuah institusi pendidikan sudah didasari oleh motif mencari duit, maka biasanya praktiknya akan mengabaikan prinsip-prinsip utama pedagogi dan lebih mengacu pada target-target luaran yang pragmatis belaka.

Beberapa PAUD terutama di kota-kota besar dengan latar belakang anak dari keluarga menengah ke atas, anak-anak sudah diberikan pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung tingkat lanjut. Bahkan juga banyak yang sudah memberikan dasar-dasar bahasa inggris dan ataupun bahasa arab. Hal ini sebagian besar karena permintaan dari masyarakat yang menginginkan anaknya agar dapat calistung dan berbahasa asing, sehingga peluang untuk masuk ke SD favorit lebih besar.  Betul bahwa program pengembangan materi ajar tidaklah salah dan sah-sah saja. Tapi bila dikaitkan dengan kebutuhan dengan perkembangan anak usia PAUD, yakni untuk lebih banyak mengeksplorasi bakat dan minat mereka, apa yang sah-sah saja itu belum tentu tepat. Padahal bila mengacu pada konsep yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara (2004), pendidikan usia dini itu lebih banyak untuk mengembangkan aspek indera anak-anak. Jadi, semestinya anak usia dini tidak dibebani dengan aktivitas yang terlalu serius untuk mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan yang lebih cocok diberikan pada jenjang SD.

Orang tua kerap kali terjebak dalam pusaran ketidaktahuan. Mereka punya perspektif bahwa PAUD yang bagus adalah yang lulusannya sudah mampu membaca, menulis, dan berbahasa Inggris. Pusaran ketidaktahuan orang tua itu ditimpali dengan kebijakan para pengelola SD, terutama SD favorit dan bertaraf Internasional yang menerima calon muridnya dengan menggunakan sistem tes baca, tulis, berhitung, dan bahkan kemampuan berbahasa inggris. Mereka menggunakan sistem tes dengan dalih mendapatkan bibit-bibit unggul terbaik. Sehingga dalam konteks ini, PAUD semata dilihat sebagai batu loncatan untuk memenuhi prasyarat studi lanjut di SD favorit, bukan olah potensi anak. Orang tua sebetulnya bukan berada dalam pusaran ketidaktahuan saja, tapi juga sering memiliki obsesi berlebihan terhadap anak-anak mereka sendiri agar menjadi anak yang pintar dan serba bisa. Untuk itulah mereka bukan hanya memasukkan anaknya ke PAUD yang dikenal bagus, tapi sejak dini memasukkan anaknya ke segala macam les privat. Sehingga anak hanya menjadi korban dari orang tua yang obsesif terhadap masa depan anak-anaknya tanpa pernah mempertimbangkan minat dan kemampuan anaknya sendiri.

Meskipun demikian, pemerintah juga dibuat seperti tidak berkutik atau pura-pura tidak tahu, atau bahkan mungkin malah menikmati suasana tersebut karena dapat dibanggakan sebagai hasil jerih payah mereka meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Dalam Permendiknas, kemampuan berbahasa asing tidak diatur. Dalam bahasa hukum, hal demikian dapat ditafsirkan tidak dilarang, tapi juga tidak dianjurkan, sehingga sekolah juga punya kebebasan untuk menyelenggarakannya. Sebaliknya pemerintah tak dapat menindak karena tak memiliki dasar yang kuat. Ini sebenarnya seperti main petak umpet, dimana pemerintah leluasa bersembunyi ketika terjadi keriuhan masyarakat yang tidak puas terhadap praktek pembelajaran PAUD kita saat ini, yang mana akan mempengaruhi praktek pendidikan di jenjang selanjutnya, dan juga bisa ikut bertepuk tangan tatkala segala bentuk inovasi pembelajaran dapat diterima masyarakat secara terbuka. Fenomena inilah yang disebut sebagai “kurikulum sarat materi” hingga membebani anak-anak.

Cara pandang yang melihat pendidikan dasar sebagai batu loncatan ke jenjang pendidikan berikutnya sangat tidak produktif dan mematikan sensitivitas dalam mengolah potensi  diri peserta didik. Cara pandang seperti itu akan membuat pendidikan hanya sebatas syarat yang dibutuhkan peserta didik untuk studi lanjut saja. Padahal sejatinya, proses pendidikan jauh lebih bermakna dari sekedar hal tersebut. Fokus pendidikan yang lebih penting adalah mengolah potensi peserta didik. Dengan cara pandang mengutamakan murid inilah praktik pendidikan menjadi lebih menghargai kebutuhan, keunikan, karakteristik, bakat, minat, dan potensi diri peserta didik. Namun, banyak orang tua yang melupakan kodrat ini dan justru menumpuk beban di pundak anak untuk menjadi “anak kebanggaan” yang diharapkan dapat melakukan mobilitas sosial dan ekonomi untuk kesejahteraan keluarga. Para penyusun materi pun lupa bahwa upaya instan dengan memberikan banyak materi justru memangkas kesempatan dan potensi kritis dan kreatif anak-anak. Karena sejatinya, anak-anak memiliki dunia dan imajinasinya sendiri yang patut dihargai.

Sumber Referensi:

Darmaningtyas, Edi Subkhan. 2012. Manipulasi Kebijakan Pendidikan.Resist Book.
Dewantara, Ki Hadjar. 2004. Pendidikan. Cetakan Ketiga. Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa.

Paradoks Akar

aku memiliki tanaman
tanaman itu cantik
daunnya merekah kehijauan
menyejukkan dan menentramkan
bunganya kecil-kecil lembut
menyenangkan yang memandang
awalnya aku kerap menyiraminya
lama-lama aku membiarkannya
tak merawatnya
lalu aku tergerak untuk merawatnya lagi
lalu aku biarkan lagi
lalu aku rawat
dan lalu aku biarkan
aku bingung sendiri harus bagaimana
aku rawat atau biarkan
terbersit untuk melepasnya di tangan yang lain
lalu ku tarik lagi pikiran itu,
aku tak mampu melepasnya pergi
dan kini aku merawatnya kembali
tak sekedar merawat,
kini ku beri pupuk hingga kukuh
karena ku tak ingin melepaskan
aku tak sanggup
karena akar ini sudah menghujam terlalu kuat
salahkah aku?

Perjalanan Panjang

Awal mula perkenalan saya dengan PII adalah ketika basic training, atau biasa disebut Batra. Bagi sebagian orang Batra adalah gerbang awal memahami PII. Pemahaman yang dimaksudkan masih belum tumbuh tatkala episode seminggu batra saya lalui. Sebatas mengenal PII di kulit luarnya saja, itu pun kulit luar yang berbentuk serpihan-serpihan, tidak utuh.  Sebagian besar orang tertarik ber-PII setelah mengikuti Batra. Apakah saya ber-PII karena kesadaran pasca batra? Tidak.

Pasca batra saya tak pernah mengikuti kegiatan di PII lagi, sampai 6 bulan kemudian, saya mengikuti intermediate training, atau biasa disebut intra. Ketika intra, doktrin-doktrin yang sudah menancap di kepala didobrak kemudian dicekoki dengan beragam pemikiran. Benih-benih kritis terhadap ragam pemikiran pun disemai. Namun, saya masih belum mengerti sepenuhnya tentang arah gerak PII. Apakah saya ber-PII karena kesadaran pasca intra? Jawaban jujur atas pertanyaan itu adalah tidak. Pasca intra masih belum muncul rasa tertarik dan butuh untuk ber-PII, apalagi rasa cinta.

Kurang lebih 8 bulan pasca intra, saya mengikuti jenjang pentrainingan konvensional terakhir di PII, yakni advanced training, atau advant. Pasca batra hingga mau advant, saya sebelumnya tak pernah aktif di daerah. Dapat dikatakan saya benar-benar buta kondisi daerah, apalagi wilayah. Padahal advant adalah bertemunya kader-kader se-nasional, bukan untuk membicarakan tentang kedaerahan lagi, tapi lebih ke ranah filosofis dan konsep gerak dengan berpedoman pada Islamic World View yang dapat diimplementasikan secara strategis di wilayah masing-masing pada khususnya dan nasional secara global. (Well,  boro-boro mau mengonsep, lha wong arah geraknya seperti apa saja saya tidak paham. :D)

Keputusan untuk mengikuti advant dengan bekal pengetahuan yang minim tentang kondisi daerah dan wilayah Jawa Tengah serta minim pemahaman agama, sebenarnya merupakan keputusan yang keliru bagi kader advant. Minimal calon kader advant itu pernah aktif di struktural daerah. Saya mementahkan kriteria minimal itu. Saya juga bingung mengapa saya diijinkan untuk mengikuti advant. Penyeleksian kader advant saat itu memang tidak terlalu ketat seperti  periode sekarang. Sehingga kader yang tidak pernah aktif di struktural daerah pun bisa mengikuti advant. Bisa dibayangkan jika pasca advant, saya kabur, tanpa memberi kontribusi apapun. Karena tak ada jaminan pasca advant saya akan aktif berstruktur.

Sebenarnya ada jauh lebih banyak kader yang pemahaman ke-PII-an dan ke-islam-an jauh lebih mumpuni dari pada saya, serta pernah aktif di struktural daerah. Keputusan untuk mengikuti advant adalah keputusan yang besar dan harus penuh dengan banyak pertimbangan bagi seorang kader yang  paham PII, pergerakan dan kaderisasinya, karena konsekuensi setelahnya bukan main-main. Tak hanya advant, pasca batra dan intra pun memiliki konsekuensi yang tak main-main. Kesadaran ber-PII memang belum muncul kala itu. Saya seolah sekedar ikut training selama seminggu, kemudian keluar, dan semua selesai.

Pemahaman saya yang kurang tentang PII, membuat saya santai-santai  saja mencoba ikut-ikutan advant dengan persiapan ala kadarnya.  Di pikiran saya, advant adalah tempat belajar dan menjalin ukhuwah dengan teman-teman se-nasional serta tempat mengisi liburan. Tak ada di bayangan saya tentang konsekuensi dan komitmen berstruktur setelahnya. Akan tetapi, saya tak pernah menganggap itu sebuah keputusan keliru. Karena di titik inilah saya tergerak untuk mulai mengenal PII.  Walaupun sebenarnya telat, harusnya titik tolak pertama seorang kader dan rasa ketergerakan hati ini muncul tatkala batra ataupun intra, bukan advant.

Iya, memang agak telat, namun belum terlambat. Setelah advant, saya lanjut mengikuti pelatihan instruktur dasar (PID). Konsekuensi mengikuti PID adalah menjadi instruktur. Oke, kan tadi ceritanya saya hanya coba untuk ikut-ikutan tanpa mengetahui konsekuensi yang ada. Dapat dibilang saya terperangkap oleh konsekuensi yang mengikat. Mau tidak mau, lulus dari PID, secara sah saya dilantik menjadi instruktur. Dan beberapa minggu kemudian, saya dilantik menjadi Pengurus Wilayah (PW) Jawa Tengah.

PW Jateng periode 2011-2013 telah melakukan 2 hal cukup berani, yakni:

  1. mengadvantkan kader yang tidak pernah aktif di daerah
  2. melantik PW dari kader yang sama sekali belum pernah menjadi PD yang mana kapasitasnya belum memenuhi syarat sebagai PW. (Jangankan kapasitas sebagai PW, punya kapasitas sebagai PD saja tidak)

Saya sampai sekarang masih bingung, 2 keputusan PW kala itu apakah benar ataukah salah?
Yang mana dua hal ini belum pernah dilakukan kembali oleh kepengurusan periode setelahnya, PW Jateng Periode 2013-2015.

Pasca advant dan PID, jujur saya belum benar-benar paham tentang PII. Belum ada rasa ketertarikan yang mendalam dengan PII, apalagi untuk ber-PII. Namun terbersit kesadaran berpikir, saya harus menunaikan komitmen yang telah saya tulis, yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya.  Jika pasca batra dan intra dulu saya kabur. Pasca advant saya tidak boleh melakukan hal serupa. Kesadaran berpikir inilah yang membuat saya mulai melangkah membersamai teman-teman di PW. Bagaimanapun saya harus melaksanakan amanah ini, terlebih tujuan yang ingin dicapai sungguh mulia, yakni izzul islam wal muslimin. Secara sadar, saya ingin turut ambil bagian dalam memperjuangkan hal tersebut.

Berkecimpung di dunia PW tanpa sebelumnya pernah menjadi PD adalah suatu hal yang tidak mudah. Saya harus banyak belajar, belajar untuk menyesuaikan diri, belajar untuk memahami kaderisasi dan administrasi di PII, belajar untuk berdialog dengan daerah, belajar untuk mengayomi daerah, belajar untuk menjadi pemandu, belajar untuk menjadi observer, belajar untuk menjadi instruktur, belajar untuk mengejar ketertinggalan, belajar mengontrol emosi, belajar memahami karakter manusia, serta banyak pelajaran-pelajaran lainnya yang tak terhingga. Semuanya saya mulai dari nol, benar-benar nol. Di awal belajar memang agak terseok-seok dan sangat berat. Terlebih merasa rendah diri karena tidak tahu apa pun, walaupun label saya saat itu adalah instruktur. Suatu kondisi yang sangat memalukan dalam dunia keinstrukturan ketika tentang ke-PII-an saja tidak paham. Mau dibawa kemana kader PII, jika arah gerak PII saja tidak paham? Plis, sudah instruktur lho! Kata ‘sudah instruktur’ membawa beban berat tersendiri hingga sekarang.

Belajar dan terus belajar sampai sekarang di PII, mungkin itulah yang membuat saya kini mencintai PII.  Saya mencintai PII bukan sejak batra. Saya mencintai PII bukan sejak intra. Saya mencintai PII bukan sejak advant maupun PID. Saya mencintai PII  bukan sejak saya dilantik menjadi Pengurus Wilayah. Seiring saya mencoba untuk terus belajar di PII selama menjadi Pengurus Wilayah, seiring itu pula rasa cinta ini tumbuh dan bersemi. Saya belajar mencintai PII dengan adanya acuan kepada sikap kritis dan pertimbangan matang. Sehingga membuat saya tidak mencintai dengan membabi buta, tapi tetap kritis dengan pertimbangan akal sehat.

Saya mencintai PII secara sadar. Dengan kesadaran itu, saya yakin bahwa PII mampu mengembalikan spiritnya yang telah lama padam. Spirit perjuangan PII di masa lampau yang kini hanya menjadi kenangan sejarah yang terpendam, yang tak akan berkompromi terhadap idealisme walau dibujuk dengan harta dan tahta. Spirit perjuangan yang membentuk kadernya  sebagai penggerak dan penegak dalam mencapai izzul islam wal muslimin.

Perkenalan saya dengan PII memang terlambat tapi di momen yang tepat. Qadarullah.

Saya belajar,
Menjadi Pengurus Wilayah tidaklah buruk. Semuanya menyenangkan jika diniatkan karena Allah.
Mengikuti advant juga tidak buruk. Bertemu hal-hal baru dan belajar hal-hal baru.
Jenjang training konvensional terakhir adalah advant.
Namun, kader PII tak akan benar-benar mengenal PII jika belum advant.
Advant bukan berarti akhir segalanya,
karena advant adalah titik loncatan pertama ber-PII secara sadar.
secara sadar untuk terus lanjut belajar dan bergerak di PII, atau secara sadar memilih keluar.
PII hanya sebagai wadah, layaknya kawah candradimuka, kader digodok dan ditempa.

Tamaklah terhadap segala sesuatu yang memberi manfaat kepadamu
dan mintalah pertolongan kepada Allah
dan janganlah engkau melemah..
(Hadits Riwayat Muslim dalam Shahih Muslim)

Long Road on 2015

Resolusi 2015 yang sempat ditulis di tahun 2013 dan 2014 yang sebagian besar masih menjadi impian, kemudian di gubah ulang sesuai realitas kekinian.

Tak ada salahnya bermimpi, bukan? setidaknya sebagai pemantik di kala azzam melemah.

Tahun 2015, tahun untuk sepenuhnya belajar. 🙂

Bismillaaah…

  1. di akhir tahun 2015 sudah hafal 15 juz.
  2. Tadarus one day one juz
  3. minimal shalat rawatib 3x sehari
  4. minimal shalat tahajud 3x per minggu
  5. minimal shalat dhuha 3x per minggu
  6. minimal puasa senin-kamis 4x per bulan.
  7. minimal berdzikir 100x per hari
  8. minimal baca buku 3 buku perbulan
  9. minimal review 1 buku per bulan
  10. minimal menulis 3x per minggu.
  11. minimal bersedekah 100ribu per bulan.
  12. minimal mengikuti kajian 1 minggu 1 kali
  13. IP semester 6, 7, 8 cumlaude 4,0
  14. IPK akhir minimal 3,8
  15. mustawa tsani, tsalits, dan rabi’ di ma’had ilmi dapat ranking 1
  16. lulus ma’had ilmi dengan predikat mumtazah.
  17. tidak menjadi Ketua Koorwil PIIWati dan tidak menjadi Kabid apapun lagi. melainkan menjadi staff yang amanah di BI dalam struktural PW PII Jawa Tengah periode 2015-2017.
  18. Pedagang yang sukses dan jujur dengan omset penjualan minimal 2 juta perbulan sehingga dapat membiayai kebutuhan pribadi tanpa meminta uang dari orang tua.
  19. Memiliki sepeda motor hasil biaya sendiri dan punya SIM serta tidak ditilang polisi.
  20. Instruktur yang profesional dan berkompeten. Menguasai semua materi batra dengan baik, menguasai metode pembelajaran paikem gembrot dan mampu mengubah mindset peserta untuk lebih meningkatkan ghirahnya dalam berjuang demi tegaknya izzul islam wal muslimin melalui wadah perjuangan umat islam yaitu PII.
  21. lancar berbahasa inggris dengan cara aktif belajar sendiri. di akhir tahun 2015 mampu membuat 3 esai berbahasa inggris dan memahami kandungan 1 buku bacaan berbahasa inggris.
  22. lancar berbahasa arab dengan cara aktif belajar di ma’had dan belajar sendiri. di akhir tahun 2015 mampu membuat 3 esai berbahasa arab.
  23. lulus tahsin, predikat terbaik.
  24. latihan memasak agar dapat menjadi calon istri dan ibu yang baik. di akhir tahun 2015 sudah mampu memasak masakan khas indonesia, kue, jajanan, minuman, masing-masing minimal 3 macam.
  25. menjadi pendidik umat. dengan mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang diperoleh lewat forum-forum diskusi ataupun kajian ataupun kelas konvensional.
  26. Mengucapkan perkataan yang baik atau lebih baik diam.
  27. Menebarkan senyum, salam dan sapa.
  28. Mencoba merasakan kesulitan orang lain. Lebih peka dan peduli. Tidak bersikap acuh dan egois.
  29. mencerminkan pribadi muslim dari dalam diri.
  30. Menjadi muslimah yang sholihah dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  31. di akhir tahun 2015 dilamar oleh seseorang yang sholih, baik akhlak, aqidah dan pemahaman din-nya, serta sevisi-misi, lalu di awal tahun 2016 menikah. 😀

Ya Allah, hanya kepada-Mu hamba meminta dan memohon pertolongan. Atas izinmu juga impian-impian hamba dapat terwujud. Serta luruskanlah niat hamba selalu, bahwa hamba melakukan semua ini hanya mengharapkan Ridha dari-Mu.

Dengan niat yang lurus, tekad yang bulat, dan usaha yang maksimal.
Atas Ijin Allah.
Bismillah.

Atin Chusniyah
15januari2015