Ta’lim, Tauhid, dan Cinta

Ta’lim sebagai sarana pen-charge ruhiyah kita. Itu yang saya dapatkan pada jum’at sore, 6 juni, kemarin. Materi pokok yang sudah sering saya dapat. Walaupun sudah sering mendengar, walaupun sudah paham, namun masih butuh selalu diingatkan. Karena manusia sering kali lupa dan terlena.

Materinya yaitu Tauhid. Allah menciptakan manusia untuk menyembah-Nya. Namun baik disadari atau tidak, manusia sering berkiblat pada tuhan-tuhan yang lain. Manusia menuhankan televisi. Ketika datang panggilan shalat, kita berkata, “aduh, bentar, tanggung nih, filmnya lagi bagus!”. Manusia menuhankan handphone (HP). Ketika HP tertinggal di rumah, kita buru-buru pulang untuk mengambilnya. HP selalu dibawa kemanapun kita pergi.  Kalau kita pergi dan ternyata kita lupa membawa Al-Qur’an untuk turut serta menemani perjalanan kita, apakah perlakuan kita akan sama seperti saat kelupaan membawa HP? Manusia menuhankan makhluk. Manusia yang sibuk mencari penghargaan dan pujian dari manusia yang lain. Manusia yang terjerat dalam kisah kasih cinta yang semu. Manusia yang bersedia melakukan apapun demi sang pujaan hati. Serta beragam tuhan-tuhan kecil lainnya yang membuat kita lalai terhadapap Sang Maha Pencipta, Allah azza wa jalla.

Ketika kita menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, itulah yang disebut dzolim. Berbicara tentang dzolim, saya ingin lebih fokus ke masalah pemuda masa kini yang kerap dikenal dengan istilah pacaran.  Bolehkah pacaran? Jawabannya bisa dilihat di dalam Al-Qur’an.

Mari kita tengok surat Al-Isra’ ayat 1, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji  dan suatu jalan yang buruk.”

“Kan aku pacarannya nggak ngapa-ngapain?”

Mengutip jawabannya ustadz Felix,”kalau nggak ngapain-ngapain, buat apa pacaran?” Pun dalam hadits telah dijelaskan bahwa setiap bagian tubuh manusia memiliki bagian zinanya masing-masing. Zina mata dengan melihat senyum indah dari lawan jenis yang berhasil meluluhkan dinding keimanan. Zina hati dengan selalu berangan-berangan membayangkan sang kekasih. Zina tangan dengan menyentuh lawan jenis yang belum halal. Zina kaki dengan melangkahkan kaki untuk bertemu kekasih hati. Dan beragam zina yang lainnya yang baik sadar atau tidak, sengaja atau tidak, kita melakukannya.

“Kan antara zina dan pacaran itu beda?”

Bisakah kita berpacaran tanpa melakukan perbuatan-perbuatan zina yang disebutkan tadi? Zina dalam hal ini cakupannya luas bukan diartikan secara sempit sebatas berhubungan badan saja.

Dari sini, sudah terlihat secara gamblang ketidak ridho-an Allah kepada makhluknya yang berpacaran. Karena apa? Karena makhluk yang Dia ciptakan tidak mau berpedoman pada petunjuk kehidupan yang Dia tetapkan, yaitu  Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bukankah kita hidup karena diciptakan Allah? Lalu untuk apa kita hidup, jika Allah saja sudah tidak ridha pada perbuatan-perbuatan kita?

Berbeda dengan orang yang masih awam, mereka yang menyandang gelar aktivis dakwah sudah pasti paham tentang hukum pacaran. Namun, tak sedikit pula yang tergoda. Justru kisah cinta itu dibungkus dengan bombastis atas nama dakwah.

Ketika bertemu dengan lawan jenis sikapnya biasa saja, bahkan tenang, kalem dan jaim (jaga image). Namun, ketika hidup dalam dunia maya, tangan dengan lincah mengetik kata-kata yang menggetarkan rasa kepada lawan jenis. Sanjungan, pujian, perhatian, nasehat, dan beragam kalimat manis lainnya yang membuat hati klepek-klepek. Kadang saya sering bertanya-tanya, apa bedanya dengan pacaran? Bedanya kalau pacaran itu ada status yang jelas, yaitu “berpacaran”, sedangkan kalau yang tadi statusnya tak jelas, menggantung antara ya dan tidak, antara suka dan tidak, antara mau maju atau mundur. Ujung-ujungnya menjadi “berpengharapan lebih” agar semoga bisa berjodoh. Padahal, jodoh itu rahasia Allah. Sekuat apapun kita setia, selama apapun kita menunggu, sekeras apapun kita bersabar, dan sejujur apapun kita menerima orang yang kita sukai saat ini, jika Allah tak menakdirkan dia sebagai jodoh kita, kita TETAP tidak akan bersamanya.

Kembali lagi ke tauhid. Mengharapkan sesuatu kepada manusia, berarti menodai ketauhidan kita. Karena hakikat tauhid adalah menyembah hanya pada Allah, berharap hanya pada Allah, melaksanakan segala sesuatu hanya untuk Allah. Itulah konsekuensi hakiki dari tauhid. Pertanyaannya, “Sejauh mana kemurnian tauhid kita kepada Allah? Apakah kita masih melalaikan perintahnya dan lebih sibuk dengan urusan pribadi kita?”

Tulisan ini lebih kepada mengingatkan diri saya sendiri. Setelah ta’lim kemarin sore, saya kembali teringat akan pelajaran berharga ini. Saya dulu sempat memahami hal ini, namun kemudian terlebur oleh hawa nafsu sehingga saya menjadi buta akan cinta. Bahkan beberapa minggu ini sempat menjadi korban “berpengharapan lebih”. Astaghfirullah… Sekarang sudah tahu ilmunya, mari diamalkan. Sebenarnya dari dulu sudah tahu ilmunya, tapi masih belum diamalkan. Nah, itulah manusia yang senantiasa lalai, karena itu sangat penting untuk menghadiri majlis ilmu. Majlis yang senantiasa mengingatkan kita dalam kebaikan, kesabaran, dan kerahmatan. Layaknya seorang yang bepergian ke suatu tempat, adakalanya ia tersesat, kemudian ia bertanya arah yang benar untuk pergi ke tempat tersebut. Bahkan ada yang sampai bertanya lebih dari sekali. Masih bingung tentang arah tempat, lalu tanya lagi ke orang lain. Majlis ilmu laksana orang yang ditanyai oleh orang yang tersesat untuk menuntunnya menuju arah yang benar.

Pelajaran berharga sore kemarin untuk kembali giat menghadiri majlis ilmu. Hati kita yang kering akan tersiram oleh sejuknya air ilmu. Mungkin kita sudah mendapatkan ilmu itu, namun barangkali kita lupa untuk mengkajinya kembali, sehingga kita lupa untuk mengamalkannya.

Semoga ketika kita kembali lupa dan kembali terlena dengan cinta dunia, Allah dengan segera menuntun kita untuk berjalan di rambu-rambu yang digariskan-Nya. Aamiin.

Kembali meluruskan niat.
Kembali menata hati untuk Sang Ilahi Robbi.

Semacam Reminder

ehmm,, ini tadzkiroh buat asisten AAI PGSD/PGPAUD..

karena saya diberikan amanah sebagai  pengurus Biro AAI PGSD/PGPAUD UNS, saya diminta untuk membuat tadzkiroh, bismillah, taraaa..

semoga bermanfaat. 🙂

 

TADZKIROH

Seringkali aku berkata, ketika orang memuji milikku,

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan-nya,

bahwa rumahku hanya titipan-nya,

bahwa hartaku hanya titipan-nya,

bahwa putraku hanya titipan-Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

Aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak rumah,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:

Aku rajin beribadah maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan , hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

(“Makna Sebuah Titipan” Puisi Rendra)

 

Puisi di atas menjadi awal renungan kita untuk memaknai hakikat kehidupan. Akan kita bawa kemana hidup yang dititipkan Allah ini?

Jika kita analogikan hidup ini adalah lembaran dan lembaran itu berisi catatan kehidupan yang akan dimintai pertanggungjawaban saat di mahkamah Allah, sudahkah kita mengisinya dengan kebaikan-kebaikan? Atau, malah kita telah mengisinya dengan menyakiti dan mengecewakan hati orang?

Life is too short to waste, hidup ini hanya sekali. Bermanfaatlah untuk sebanyak-banyaknya manusia yang lain. Hidup itu terlalu singkat untuk disia-siakan dengan menjadi bagian dari manusia rata-rata, manusia yang tidak jelas kemana melangkah.

Kita tak pernah tahu kapan napas akan berhenti, bukan?

Ketika hari ini masih dititipi napas, artinya masih ada mimpi yang harus diwujudkan.

Mari kita buat tapak, jejak, dan berbagi dengan orang lain.

Terlebih kamu, kamu, iya kamu….

Kamu wahai para asisten AAI…

Tetaplah istiqomah berjuang di jalan dakwah ini.

Allah tahu lelahmu.

 

Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup.

Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja.

(Buya Hamka)

 

Selamat beraktivitas.

🙂

Apa Warna Auramu?

Sekitar beberapa menit yang lalu tangan dan mata ini berselancar di dunia per-facebook-an.  Eh, tiba-tiba nemu postingan seorang teman tentang “quiz: apa sih warna auramu?”. Nah, menurut quiz tersebut, teman saya memiliki warna aura kuning. Saya jadi penasaran pengen nyoba juga.  Dan saya pun akhirnya main quiz dan eng ing eng…. taraaaaa…. diketahuilah warna aura saya yaitu BIRU. 😀

Tak berhenti hanya disitu. Setelah main quiz, saya masih penasaran dengan apa yang disebut “aura”. Lalu saya mencoba mengetik “warna aura” di kotak google yang serba tahu. Kurang lebih inilah yang saya temukan. (Baik, saya akan mencoba berbagi dan merangkainya dengan kata-kata saya sendiri.) 😀

Menurut yang saya baca (sumbernya dari website seseorang, jadi kevalidannya tergantung persepsi masing-masing, you can believe or not), setiap makhluk hidup memiliki energi kehidupan yang disebut aura. Aura ini mempunyai medan energi yang disesuaikan dengan keadaan makhluk hidup tersebut. Umumnya medan energi itu berkisar antara 15 cm – 2 m. Aura seseorang mempunyai warna. Warna aura inilah yang menentukan karakter dari orang tersebut.

Nah, berikut ini arti serta makna warna aura:

MERAH
Berarti ia dipenuhi sifat kuasa dan ego untuk mencapai kesuksesan. Sifatnya suka memerintah, berani, bertanggung jawab dan mempunyai sifat pemimpin.

PINK
Berarti mempunyai sifat alami kemampuan intuitif, peduli, bijaksana, juru damai, praktis, dan mudah bergaul.

KUNING
Berarti sifatnya antusias, mengasyikkan, berpikir dengan cepat, menghibur orang lain, senang berkumpul, menikmati percakapan yang panjang, senang coba-coba, suka dengan gagasan dan berekspresi.

HIJAU
Berarti ia bersifat kooperatif, dapat dipercaya, murah hati, menyukai tantangan, bekerja tanpa kenal lelah, dan mudah dimintai tolong.

BIRU
Berarti ia bersifat positif, antusias, berhati muda, tulus, jujur, jika bertindak sesuai pikirannya, idak suka dibatasi atau dilarang, menyukai perjalanan, menyaksikan tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru, bisa menutupi perasaan dan bisa menyimpan rahasia.

NILA
Sifatnya hangat, menyembuhkan, mengasuh, senang memecahkan masalah, dan senang menolong.

UNGU
Berarti ia menyukai kegiatan-kegiatan spiritual dan metafisika.

PERAK
Berarti ia mempunyai gagasan-gagasan besar, namun sebagian diantaranya tidak praktis.

EMAS
Berarti ia mempunyai kemampuan menangani proyek-proyek dan mampu bertanggung jawab dalam skala besar, mempunyai sifat kharismatik, pekerja keras, dan sabar.

MERAH JAMBU
Bersifat tegas, sederhana, keras kepala, cita-citanya tinggi dan mempunyai perencanaan.

PUTIH
Sifatnya tidak menonjolkan diri, sederhana, sangat manusiawi, intuitif, bijaksana, idealis, dan cinta damai.

HITAM
Berarti ia diselubungi kemisterian karena sifatnya yang tertutup.

Nah, selain lewat quiz, bagaimana cara kita melihat aura? Wah, kalau itu perlu belajar.
Bagaimana belajarnya? Penasaran? Yah, silakan cari tahu sendiri ya. 😀

Sebagai tambahan, pancaran aura kita saat ini dipengaruhi oleh emosi kita saat ini ataupun merupakan aura yang terdapat dalam diri kita melalui kepribadian atau karakter yang dibentuk oleh diri kita. Terimakasih. 🙂

Kembali lagi, you can believe it or not.

Fine, tanggapan saya: NO SARA. 🙂

*untuk refreshing