Parafrase Puisi “Kehilangan Langit” Ciptaan Yetti Aka

Kembali lagi tugas kuliah menghampiri.  Kali ini datang dari dosen pengampu mata kuliah Keterampilan Berbahasa dan Sastra Indonesia. Beliau menyuruh mahasiswanya untuk membuat parafrase puisi yang tercetak di media massa.

Taraaa. Inilah hasilnya. Walau tak sempurna. 🙂

Kehilangan Langit
Oleh: Yetti AKA

Disini, kami kehilangan langit
Burung-burung terbang dengan kaki kuningnya yang gemetar
Menjauh, lalu samar
Mungkin mereka tak akan pernah sampai

(Koran Kompas, 24 Mei 2014)

Parafrase:

Dalam menulis puisi “Kehilangan Langit”, Yetti Aka memulainya dengan baris disini, kami kehilangan langit. Kata disini pada baris tersebut, menggambarkan kehidupan di dunia masa kini. Sedangkan kata kami menggambarkan bahwa penulis ingin mengisahkan kisah beberapa/sekumpulan manusia. Kata kehilangan langit menggambarkan impian-impian yang harus hilang.   Sehingga baris disini, kami kehilangan langit itu sendiri memiliki makna manusia-manusia yang memiliki mimpi-mimpi namun harus kandas karena faktor kehidupan.

Selanjutnya di baris kedua, Yetti Aka menulis burung-burung terbang dengan kaki kuningnya yang gemetar. Kalimat burung-burung terbang kian menjelaskan bahwa yang dimaksud penulis adalah impian-impian yang tinggi yang ingin digapai oleh manusia. Kemudian dilanjut dengan kalimat dengan kaki kuningnya yang gemetar. Dalam hal ini, kaki pada burung menggambarkan ketangkasan dan kekuatan. Ketika penulis menulis kaki kuning yang gemetar, dapat diartikan manusia yang sudah tidak memiliki daya lagi untuk berjuang. Sehingga baris kedua puisi “Kehilangan Langit” memiliki makna manusia-manusia yang memiliki mimpi-mimpi namun tidak mau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperjuangkan mimpi-mimpinya.

Di baris ketiga, Yetti Aka menulis menjauh, lalu samar. Baris ketiga ini jika kita lihat, berkaitan dengan baris kedua. Yakni bagaimana bisa burung ini terbang jauh ketika untuk terbang saja ia tertatih. Jadi menjauh, lalu samar dalam puisi ini dapat diartikan arah dan tujuan yang tak jelas dalam menggapai impian.

Kemudian di baris yang terakhir, Yetti Aka menulis mungkin mereka tak akan pernah sampai. Untuk memaknai baris ini, kita dapat melihat kembali pada baris pertama, kedua, dan ketiga. Secara sederhana dapat bermakna pesimis dalam mewujudkan mimpi.

Dari uraian-uraian tersebut, dapat ditarik simpulan sebagai berikut, setiap manusia pastilah memiliki impian. Sejauh mana impian itu terwujud, tergantung sejauh mana pula usaha manusia dalam mewujudkannya. Sebagaimana hukum fisika Newton yakni setiap ada aksi senantiasa ada reaksi. Itulah kehidupan. Namun dalam puisi tersebut, Yetti Aka lebih menggambarkan manusia yang putus asa dan pesimis. Manusia yang memiliki mimpi/idealita namun kalah dengan realita yang ada. Manusia yang pesimis dengan mimpi-mimpinya karena ketika melihat realita ternyata susah untuk mewujudkannya. Manusia yang enggan berusaha, hanya bisa mengeluh, dan berpangku tangan, akan jadi manusia biasa yang akan tertinggal. Karena kesuksesan sejatinya luar biasa yang sepantasnya untuk orang luar biasa pula.

Mungkin Penat

Ini hanya sekedar coretan. Biarkanlah jari ini menari di atas tuts-tuts, sesukaku, seinginku.

Mungkin aku mulai lelah. Lelah dengan pilihanku. Aku melepas sesuatu yang aku sukai. Aku lebih memilihmu daripada sesuatu yang aku minati. Aku pun tak tahu kenapa aku memilihmu. Hati ini yang menuntunku. Dan aku hanya menjalaninya.

Semakin aku menapaki langkah bersamamu. Kepenatan ini semakin membuncah hingga ingin meledak. Selalu ada kebahagiaan setiap bersamamu, namun bersamaan dengan lelah dan penat. Tujuan muliamu kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan islam. Itu yang membuatku hingga sekarang turut melangkah membersamaimu. Hingga ku lepas sebagian mimpi-mimpiku karena tuntutan-tuntutan yang harus aku lakukan saat aku menetapkan hati padamu.

Pleno, sarasehan, nge-tim, rapat, turba, dan lainnya. Aku harus hadir. Aku harus turut berkontribusi. Sekecil apapun. Sesedikit apapun. Ini untuk umat. Demi terbentuknya generasi muslim cendekia pemimpin. Aku harus mau berkorban, berkorban tenaga, batin, dan dana, bahkan impian. Bahkan pengorbananku belum seberapa dibandingkan mereka yang sudah lama terjun bersamamu. Dan aku disini masih mengeluh lelah dan penat? Mereka juga lelah dan penat, namun mereka tetap membersamaimu. Jauh lebih lama dibanding denganku.  Kenapa aku masih mengeluh?

Astagfirullah. Mungkin aku perlu kembali meluruskan niat perjuanganku. Lelah dan penat adalah cobaan untuk mengukur sejauh mana keimananku. Dunia merupakan tempat manusia selalu merasa lapar, haus, ngantuk dan lelah. Kalau tak ingin merasa lapar, haus, ngantuk, dan lelah, tempatnya di akhirat. Pergilah ke akhirat. Pertanyaannya, sejauh mana persiapanku? Sejauh mana bekal untuk akhiratku?

Sekedar renungan jiwa yang penat.

Sejauh Mana Bekalmu?

Kadang kita merasa tak sempat untuk bermanja dengan-Nya
Barangkali bukan kita yang tak sempat
Namun tak menyempatkan

Layaknya pagi ini, ketika daun masih tampak gelap, suara burung masih jernih bersahutan, disertai suara ayam sesekali menambah semarak pagi. Bukankah hari yang indah? Namun mengapa nampak guratan-guratan beban di wajah ayumu?

Ada banyak hal yang menunggu kita hari ini. Ada yang mau ulangan 3 SKS, rapat organisasi, pergi jalan-jalan, hingga seabrek tugas yang menunggu, dan beragam hal lainnya. Lalu kapan waktu untuk Rabb-mu?

Ada semacam kata-kata bijak, “bacalah Al-Qur’an, maka Allah akan mempermudah urusanmu”. Logikanya, ketika memutuskan untuk menyempatkan membaca Al-Qur’an akan banyak waktu yang terpakai untuk membacanya. Waktu itu harusnya dapat digunakan untuk mengerjakan hal yang lain. Sehingga ketika memilih membaca Al-Qur’an, konsekuensinya banyak hal yang akan terabaikan.  Benarkah demikian? Bertolak belakangkah dengan kata-kata bijak yang tadi disampaikan?

Kita coba gali ke pertanyaan mendasar.
“Siapakah Rabb-mu?”
“Siapakah yang menciptakanmu?”
“Mengapa kamu diciptakan?”

Ingatkah dengan firman-Nya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (51:56)?

Bukankah itu alasan utama penciptaan manusia? Namun mengapa manusia masih sibuk dengan segala urusan kebendaanya?

Bahkan gunung yang sangat tinggi pun menolak diberikan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Manusia berkata sanggup menerima amanah ini. Lalu apa bukti kesanggupan itu?

Barangkali kita terlalu mencintai dunia
Hingga kita lupa ada hari saat dunia diguncang dengan dahsyatnya
Hari saat manusia-manusia bangkit dari kuburnya
Hari saat mulut terkunci dan segalanya menjadi saksi
Apa bekalmu untuk menghadapi hari itu?

 

*sekedar renungan untuk diri.

🙂

Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Di semester 4 ini, dosen pengampu mata kuliah pendidikan inklusi, menugaskan pada mahasiswanya, termasuk saya, untuk mengidentifikasi anak yang berkebutuhan khusus.

nah, dari tugas tersebut, berikut kurang lebih, hasil identifikasi yang saya peroleh, yang kemudian saya analisis dan simpulkan.

yah, sekedar ingin sharing aja sih. hehe.

Well, taraaaaa…. 🙂

ISIAN FORM 1

INFORMASI PERKEMBANGAN ANAK

Identitas Anak :

  1. Nama                                                         : Ichda Alimul Khakim
  2. Tempat dan tanggal lahir/umur    : Rembang, 25 Juli 2006
  3. Jenis kelamin                                         : Laki-laki
  4. Agama                                                       : Islam
  5. Status anak                                              : Anakkandung
  6. Anak ke dari jumlah saudara           : 1dari 1 bersaudara
  7. Nama sekolah                                        : SDN Sendangmulyo I
  8. Kelas                                                         : I
  9. Alamat                                                      : Jetak Kedungdowo RT 03 RW V Kaliwungu Rembang

Riwayat Kelahiran :

  1. Perkembangan masa kehamilan    : Baik
  2. Penyakit pada masa kehamilan      : –
  3. Usia kandungan                                    : 9bulan
  4. Riwayat proses kelahiran                 : Normal
  5. Tempat kelahiran                                 : Rumah Bersalin Budi Luhur
  6. Penolong proses kelahiran               : Bidan
  7. Gangguan pada saat bayi lahir        : –
  8. Berat bayi                                                : 3,2  kg
  9. Panjang bayi                                           : 49 cm
  10. Tanda-tanda kelainan pada bayi    : –

Perkembangan Masa Balita :

  1. Menetek ibunya hingga umur                     : 1 tahun
  2. Minum susu kaleng hingga umur               : 7 tahun
  3. Imunisasi (lengkap/tidak)                            : Lengkap
  4. Pemeriksaan/penimbangan rutin/tdk           : Rutin
  5. Kualitas makanan                                        : Baik
  6. Kuantitas makan                                          : Baik (Teratur)
  7. Kesulitan makan (ya/tidak)                    : Tidak

Perkembangan Fisik :

  1. Dapat berdiri pada umur                               : 8 bulan
  2. Dapat berjalan pada umur                             : 12 bulan
  3. Naik sepeda roda tiga pada umur               : 2 tahun
  4. Naik sepeda roda dua pada umur               : 6 tahun
  5. Bicara dengan kalimat lengkap                    : 2 tahun
  6. Kesulitan gerakan yang dialami                  : –
  7. Status Gizi Balita (baik/kurang)                  : Baik
  8. Riwayat kesehatan (baik/kurang)             : Baik
  9. Penggunaan tangan dominan                      : TanganKanan

 Perkembangan Bahasa :

  1. Meraba/berceloteh pada umur                        : 6 bulan
  2. Mengucapkan satu suku kata yang bermakna kalimat (mis.Pa berarti bapak) pada umur                                          : 6 bulan
  3. Berbicara dengan satu kata bermakna pada umur      : 1 tahun
  4. Berbicara dengan kalimat lengkap sederhana pada umur       : 2tahun

Perkembangan Sosial :

  1. Hubungan dengan saudara    : Baik
  2. Hubungan dengan teman       : Baik
  3. Hubungan dengan orangtua  : Baik
  4. Hobi                                                 : Mengaji dan Membaca
  5. Minat khusus                                : Ingin jadi profesor

Perkembangan Pendidikan :

  1. Masuk TK umur                                : 5 tahun
  2. Lama Pendidikan di TK                  : 2 tahun
  3. Kesulitan selama di TK                   : –
  4. Masuk SD umur                                 : 7 tahun
  5. Kesulitan selama di SD                   : –
  6. Pernak tidak naik kelas                   : Tidak
  7. Pelayanan khusus yang pernah diterima anak         : –
  8. Prestasi belajar yang dicapai                                           : Hafal 2 juz
  9. Mata Pelajaran yang dirasa paling sulit                      : Seni Rupa
  10. Mata Pelajaran yang dirasa paling disenangi            : Matematika
  11. Keterangan lain yang dianggap perlu                           : –

 

ISIAN FORM 2

DATA ORANG TUA/WALI SISWA

1. Nama           : Ichda Alimul Khakim

2. SD/MI         : SDN Sendangmulyo I

3. Kelas           : I

Identitas Orang tua/wali

    Ayah :

  1. Nama Ayah                         : Muhammad Syaiful Arif
  2. Umur                                     : 39 tahun
  3. Agama                                   : Islam
  4. Status ayah                          : Kandung
  5. Pendidikan Tertinggi       : SMA
  6. Pekerjaan Pokok                : Wiraswasta
  7. Alamat tinggal                    : Jetak Kedungdowo RT 03 RW V Kaliwungu Rembang

Ibu :

  1. Nama Ibu                            : Ani Rahmawati
  2. Umur                                    : 37 tahun
  3. Agama                                  : Islam
  4. Status Ibu                           : Kandung
  5. Pendidikan Tertinggi     : SMA
  6. Pekerjaan Pokok              : Wiraswasta
  7. Alamat tinggal                  : Jetak Kedungdowo RT 03 RW V Kaliwungu Rembang

Hubungan Orang tua – anak

  1. Kedua orang tua satu rumah                                 : Ya
  2. Anak satu rumah dengan kedua orang tua      : Ya
  3. Anak diasuh oleh salah satu orang tua              : Tidak
  4. Anak diasuh wali/saudara                                      : Tidak

C. Sosial Ekonomi Orangtua

  1. Jabatan formal ayah di kantor (jika ada)                         : –
  2. Jabatan formal ibu di kantor (jika ada)                            : –
  3. Jabatan informal ayah di luar kantor (jika ada)            : –
  4. Jabatan informal ibu di luar kantor (jika ada)               : –
  5. Rata-rata penghasilan (kedua orangtua) perbulan      : Rp 1.000.000,00

D.Tanggungan dan Tanggapan Keluarga

  1. Jumlah anak                                                                       : 1
  2. Ysb. Anak yang ke                                                            : 1
  3. Persepsi orang tua terhadap anak ysb                               : Anak Cerdas
  4. Kesulitan orang tua terhadap anak ysb.                            : Suka banyak tanya
  5. Harapan orang tua terhadap pendidikan anak ysb.           : Sekolahsetinggi-tingginya
  6. Bantuan yang diharapkan orang tua untuk anak ysb.       : Diberipelayanankhususataubimbingantambahan untuk pencapaian prestasinya

ANALISIS DATA

 

Nama L/P Uraian/kasus Masalah
Ichda Alimul Khakim 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Membaca pada usia lebih muda
  2. Membacalebihcepatdanlebihbanyak
  3. Memiliki perbendaharaan kata yang luas
  4. Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat
  5. Mempunyaiminat yang luas, terhadap masalah orang dewasa
  6. Mempunyaiinisitifdandapatbekerjasendiri
  7. Memberijawaban, jawaban yang baik
  8. Dapatmemberikanbanyakgagasan
  9. Luwesdalamberpikir
  10. Terbuka terhadaprangsangan-rangsangandarilingkungan
  11. Dapat berkonsentrasidalamjangkawaktu yang panjangterutamadalamtugasataubidang yang minati
  12. Senangmencobahal-halbaru
  13. Senangkegiatanintelektualdanpemecahanmasalah
  14. Mempunyaidayaimajinasi yang kuat
  15. Mempunyai banyak kegemaran/hobi
  16. Mempunyaidayaingat yang kuat
  17. Tidak cepat puas dengan prestasinya
  18. Menginginkankebebasandalamgerakandantindakan

KESIMPULAN

Ichda Alimul Khakim adalah seorang  siswa kelas I SDN Sendangmulyo I Sarang Rembang. Iik (panggilan kesayangan untuk Ichda) merupakan anak tunggal dari pasangan Muhammad Syaiful Arif dan Ani Rahmawati.

Menurut orangtuanya, Iik  adalah anak yang cerdas, suka bertanya banyak hal kepada orang tuanya. Rasa ingin tahu Iik yang tinggi, terkadang sampai membuat orang tuanya kebingungan.  Iik termasuk anak yang menginginkan kebebasan dalam gerakan, sehingga dia tidak suka apabila terlalu dikekang.  Iik mempunyai kegemaran/hobi yang banyak, yakni dia sangat gemar mengaji dan membaca. Walaupun baru duduk di bangku kelas I SD , Iik sudah hafal 2 juz. Selain pandai mengaji, iik juga sangat menyukai hal yang berbau sains. Bahkan cita-citanya adalah menjadi seorang profesor.

Dalam prestasi akademiknya di sekolah pun dia sangat menonjol dibanding teman seumuranya. Dia selalu dapat mengerjakan tugas dengan cepat dan tepat dibanding teman-temannya. Menurut gurunya, apabila disuguhi hal-hal baru, iik terlihat sangat antusias dan cekatan dalam meresponnya. Hal itu menyebabkan iik memiliki prestasi belajar tertinggi di kelasnya.

Dari permasalahan diatas, perlu adanya suatu bimbingan atau pelayanan khusus dalam penyaluran bakat, minat, dan intelegensi yang dimiliki oleh iik sehingga kemampuan yang dimilikinya dapat tersalurkan secara optimal. Perlu adanya fasilitas ekstra dari orangtua untuk dapat mengoptimalkan kemampuan iik sehingga dapat mencapai prestasi-prestasi yang luar biasa. Terlebih dalam observasi  ini, iik termasuk dalam kategori anak berbakat, anak dengan kecerdasan di atas rata-rata. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru dan orang tua untuk mengasah lebih dalam potensi iik agar lahir masterpiece generasi muda Indonesia.

Metode Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan

  1. Metode Eja

               Pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan metodenya ini memulai pengajarannya dengan memperkenalkan huruf-huruf secara alfabetis.Huruf-huruf tersebut dihafalkan dan dilafalkan anak sesuai dengan bunyinya menurut abjad. Sebagai contoh A/a, B/b, C/c, D/d, E/e, F/f, dan seterusnya, dilafalkan sebagai (a), (be), (ce), (de), (e), (ef), dan seterusnya. Kegiatan ini diikuti dengan latihan menulis lambang, tulisan, seperti a, b, c, d, e, f, dan seterusnya.

Setelah melalui tahapan ini, para siswa diajak untuk berkenalan dengan suku kata dengan cara merangkaikan beberapa huruf yang sudah di kenalnya misalnya :

B, a, d, u menjadi b-a ba (dibaca atau dieja/be-a/(ba)

d-u du (dibaca atau dieja/de-u/(du)

ba-du dilafalkan badu

Proses ini sama dengan menulis permulaan,setelah anak-anak bisa menuliskan huruf-huruf lepas, kemudian dilanjutkan dengan belajar menulis rangkaian huruf yang berupa suku kata. Sebagai contoh, ambilah kata ‘ badu’ tadi, selanjutnya, anak diminta menulis seperti ini : ba-du      badu.

Proses pembelajaran selanjutnya adalah pengenalan kalimat-kalimat sederhana. Contoh-contoh perangkaian huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat diupayakan mengikuti prinsip pendekatan spiral, pendekatan komunikatif, dan pengalaman berbahasa.

  1. Metode Bunyi

Proses pembelajaran membaca permulaan pada metode bunyi ini berasal dari pertama atau pemula dari kata yang ia dengar ,melalui proses pelatihan dan proses tubian. Prinsip dasar dari proses pembelajarannya tidak jauh berbeda dengan metode eja/abjad. 

  1. Metode Suku Kata

Proses pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan metode ini diawali dengan pengenalan suku kata, seperti: ba, bi,bu,be,bo / ca, ci, cu, ce, co,/ da, di, du, de, do/ ka, ki, ku, ke, ko/., dan seterusnya. Suku-suku kata tersebut, kemudian dirangkaikan menjadi kata-kata bermakna.Sebagai contoh, dari daftar suku kata tadi, guru dapat membuat berbagai variasi paduan suku kata menjadi kata-kata bermakna, untuk bahan ajar membaca, menulis permulaan.

Kata-kata tadi misalnya :

ba-bi                cu-ci                da-da               ka-ki

ba-bu               ca-ci                 du-da               ku-ku

bi-bi                 ci-ca                 da-du               ka-ku

ba-ca                ka-ca                du-ka               ku-da

Proses perangkaian suku kata menjadi kata,kata menjadi kalimat sederhana,kemudian ditindaklanjuti dengan proses pengupasan atau penguraian bentuk-bentuk tersebut menjadi satuan-satuan bahasa terkecil di bawahnya, yakni dari kaliamat ke dalam kata dan dari kata ke dalam suku-suku kata.Proses pembelajaan MMP yan melibatkan kegiatan merangkai dan mengupas,kemudian di lahirkan istilah lain untuk metode ini yakni Metode Rangkai Kupas.

  1. Metode Kata

               Proses pembelajaran membaca, menulis permulaan seperti yang digambarkan dalam langkah-langkah di atas dapat pula dimodifikasi dengan mengubah objek pengenalan awalnya. Sebagai contoh proses pembelajaran membaca, menulis permulaan diawali dengan pengenalan sebuah kata tertentu. Kata ini kemudian dijadikan lembaga sebagai dasar untuk pengenalan suku kata dan huruf.

  1. Metode Global

               Metode ini sering dikatakan dengan metode kalimat. Dikatakan demikian karena alur proses pembelajaran membaca, menulis permulaan yang diperlihatkan melalui metode ini diawali dengan penyajian beberapa kalimat secara global. Sebagai contoh : memperkenalkan gambar, mengurangi salah satu kalimat menjadi kata; kata menjadi suku kata; dan suku kata menjadi huruf-huruf.

Sebagai contoh,di bawah ini dapat anda lihat bahan ajar untuk membaca dn menulis permulaan yang menggunakan metode Global.

1. Memperkenalkan gambar dan kalimat

images

Ini buku

2. Menguraikan salah satu kalimat menjadi kata,kata menjadi suku kata.suku kata menjadi huruf-huruf.

Ini buku

i n i              b u k u

i-ni                     bu-ku

i-n-i                              b-u-k-u

 

  1. Metode Struktural Analitik Sintetik (SAS)

               Metode ini merupakan salah satu jenis metode yang bisa digunakan untuk proses pembelajaran mambaca dan menulis permulaan bagi siswa pemula. Kemudian melalui proses analitik, anak-anak diajak untuk mengenal konsep kata,.Kalimat utuh yang dijadikan tonggak dasar untuk pembelajaran membaca permulaan ini diuraikan ke dalam satuan-satuan bahasa yang lebih kecil di sebut kata. Proses penganalisisan atau penguraian ini terus berlanjut hingga pada wujud satuan bahasa terkecil yang tidak bisa diuraikan lagi, yakni huruf-huruf.

Proses penguraian ini dalam pembelajaran dengan metode SAS meliputi : kalimat menjadi kata-kata, kata menjadi suku-suku kata, suku kata menjadi huruf-huruf.