Road to PKM

Road to PKM (21/3)

Seharian tadi habis berjuang mengurus PKM. Sedikit banyak mulai memahami hal penting yang harus dikerjakan dalam mengurus PKM. Ini nih 11 tips jitu jadi JAWARA PKM.

1. Siapkan tekad bulat membuat PKM

Mengapa harus tekad bulat?

Karena berpegang pada prinsip, “yang mengerjakan sesuatu totalitas saja biasanya hasilnya cuma dapat setengah, apalagi yang setengah-setengah?”

2. Pilih teman yang sevisi misi dalam membuat PKM

Mengapa harus sevisi misi?

Karena jika kita sembarangan memilih kelompok, yang ada hanya sebatas niat tanpa implementasi yang mumpuni. Kita perlu selektif dalam memilih kelompok yang sekiranya dapat diajak bekerja sama dan visioner ke depan.

3. Kumpul bareng merumuskan konsep PKM yang akan dibuat

Mengapa harus kumpul bareng?

Karena kepala masing-masing orang memiliki pandangan yang berbeda-beda. Dengan kumpul bareng inilah, kita dapat membentuk sudut pandang yang sama yang akan kita garap bersama.

4. Pembagian tugas sesuai keahliannya masing-masing.

Mengapa harus sesuai keahliannya?

Karena jika kita menyerahkan sesuatu kepada bukan ahlinya, hasil yang dikerjakan akan kurang begitu optimal.

5. Kumpul bareng untuk menyatukan pembagian tugas yang dibuat masing-masing

Mengapa perlu kumpul bareng lagi?

Karena kita perlu menyatukan kembali gagasan-gagasan yang berpencar tadi untuk kemudian dijilid dalam satu PKM.

6. Siapkan tenaga untuk meminta tanda tangan dan stempel serta bolak-balik kampus-fotokopian

Mengapa perlu menyiapkan tenaga?

Karena setelah kita selesai membuat PKM, perjuangan tak berhenti disitu. Kita perlu mengecharge tenaga untuk mengeprint lalu kemudian minta tanda tangan dosen pembimbing, PD III, PR III kemudian balik lagi ke tempat fotokopian lalu kembali lagi ke tempat dekanat dan rektorat untuk meminta stempel. Beruntung sekali jika dalam sehari seabrek hal birokratis tersebut dapat selesai karena biasanya PD III dan PR III punya banyak agenda sehingga susah untuk ditemui dan dimintai tanda tangan.

Setelah semuanya selesai lalu kita pergi ke bagian kemahasiswaan universitas untuk meminta password dan username agar dapat mengunggah file PKM kita ke website dikti.

7. Siapkan laptop dan modem untuk mengunggah file PKM.

Mengapa perlu menyiapkan laptop dan modem?

Karena kita akan mengunggah file PKM ke web. Itulah prosedurnya. Kita harus siap budget untuk membeli pulsa modem. Bagi yang tidak punya modem bisa numpang hotspot di kampus sehingga tak perlu repot-repot mengeluarkan uang.

8. Berdoa yang kenceng agar lolos didanai dikti

Insyaallah manjur dan jangan lupa bertawakkal

9. Berdoa yang kenceng agar lolos PIMNAS

Insyaallah manjur dan jangan lupa bertawakkal

10. Berdoa yang kenceng agar jawara PIMNAS

Insyaallah manjur dan jangan lupa bertawakkal.

11. Bersyukur dan tak lupa bershadaqah serta senantiasa tetap berdoa pada Allah

Insyaallah manjur dan jangan lupa bertawakkal.

Serta senantiasa bersemangatlah untuk senantiasa mencoba dan belajar belajar belajar. 🙂

 

KEEP FIGHTING!! 🙂 🙂 🙂

Sekedar Pembelajar

Dua hari lagi akan diadakan SAMREG (Sarasehan Muadib Regional). Sebagai ketua kaderisasi PII Wati yang baru sekaligus instruktur, saya masih bingung terkait apa yang harus saya kerjakan. Sebuah hal yang memalukan ketika saya masih berkutat dengan permasalahan internal dan belum sanggup menyelesaikan permasalahan eksternal. Kepada siapa saya harus bertanya? Ketika saya bertanya tentang sesuatu seolah mereka menganggap saya “bodoh”. Seolah “masak gitu aja gak tau?”. Dan seolah “itu pertanyaan anak kecil”. Kalaupun dijawab saya masih bingung karena banyak jawaban yang terlalu berputar-putar membuat saya tak mengerti. Harus dari mana saya mulai belajar? “Krik-krik, tak ada jawaban”. Terlalu banyak retorika sana-sini yang membuat saya makin bingung.

Astaghfirullahaladziim..

Atau itu semua hanya sekedar perasaan saya saja. Atau nyatanya mereka tak pernah beranggapan seperti itu? Mungkin sayalah yang mempersepsikan lain. Bagaimanapun juga saya harus berprasangka baik. Walaupun seringkali tanggapan mereka membuat saya lebih memilih bungkam daripada berpendapat. Kemudian merenung “saya sangat bodoh tak tahu apa-apa, lebih baik saya diam”.

Untuk persiapan samreg ini, saya mencoba membaca file-file kaderisasi dan hasil samnas 2010 serta mencoba menganalisis konsep dan rekomendasi untuk PII. Semoga saat samreg nanti saya dapat turut berkontribusi menyumbangkan gagasan-gagasan saya. Mungkin itu impian yang terlalu tinggi. Harusnya cukup dengan semoga ketika ditanya sesuatu saya bisa menjawab dengan tidak memalukan. Entahlah, 11:12 antara pesimis dan tidak.

Jadi teringat kata-kata seorang teman, “Mungkin ini hal kecil yang dapat aku lakukan untuk PII. Aku tak bisa melakukan hal-hal besar seperti mereka. Walaupun banyak yang menganggap hal kecil yang aku lakukan tak  berarti, namun aku senang melakukannya.” Dulu saya tak terlalu memahami maksudnya. Namun kini saya mengerti.

Saya sekedar pembelajar biasa.

Pencarian Imam di Masa Muda

Perjalanan BRI-PGSD, Surakarta (18/3).

Percakapan yang saya dengar sewaktu di angkot tadi mengusik batin dan kotak tertawa saya. Sebenarnya saya ingin tertawa tapi saya rasa cukup hanya dengan memendamnya dalam hati.

Waktu itu, ada dua anak SMP berjenis kelamin wanita masuk ke dalam angkot yang saya tumpangi. Angkot yang awalnya hanya ada dua personil, kini bertambah menjadi 4 personil, yaitu saya, pak sopir, dan dua anak SMP tadi. Sepanjang perjalanan kedua anak SMP tadi bercakap-cakap. Karena tidak kenal, saya lebih memilih diam. Kalau ikut nimbrung nanti dikiranya sok kenal. Well, saya dan pak sopir lebih memilih menjadi pihak pendengar.

Percakapan lucu (menurut saya) bermula ketika mereka melihat anak seusia mereka (sesama masih SMP) berjenis kelamin pria melenggang melintasi angkot yang mereka tumpangi. Anak SMP itu, sebut saja Bagus, menaiki motor Satria yang kelihatannya keren. Kemudian dua anak SMP yang naik di atas angkot tadi berkomentar. Sebut saja Mawar dan Melati.

“Cowok itu pasti pacarnya banyak,” ucap Mawar menunjuk pada Bagus.

“Iya, udah kelihatan tuh dari motornya. Kalau deketin cowok jangan pilih yang kayak gitu, karena ceweknya pasti banyak,” timpal Melati membeberkan pengalamannya.

“Iya sih. Kalau si Harum tuh milih cowok diliat dari motornya. Padahal kan belum tentu cowok dengan motor yang bagus nantinya dapat menjadi imam yang baik. Lha gimana, misal motornya Ninja tapi Al-Qur’an aja nggak khatam-khatam, kan nggak bisa jadi imam yang baik tuh.” Mawar berkata dengan bijak seolah-olah sudah sangat berkompeten dalam hal mencari pasangan.

Saya yang mendengarkan ingin tertawa tapi coba saya sembunyikan. Saya kaget, ketika anak seusia mereka sudah sangat jauh berpandangan ke depan tentang sosok yang disebut “imam”. Kalau dilihat dari tampilan luarnya, mereka mengenakan rok mini di atas lutut dan tak berkerudung. Kalau dilihat dari tampilan luar ini, mungkin banyak yang berpendapat mereka tak terlalu paham dengan agama. Akan tetapi, yang membuat saya heran adalah mereka mengerti arti kata “imam”. Mereka dapat mendefinisikan secara tidak langsung hakikat dari “imam yang baik”. Namun yang melenceng adalah ketika mereka mencoba menggapai “imam yang baik” dengan jalan pacaran di usia dini. Sehingga tak jarang ditemui kasus hamil di luar nikah, aborsi, seks bebas dan lainnya.

Pergaulan jaman sekarang yang membuat mereka dewasa sebelum waktunya. Mereka menjadi terbiasa dengan istilah pacaran dan segala tetek bengeknya. Kuno sekali jika tak punya pacar atau belum pernah pacaran. Padahal mereka masih SMP, yang menurut saya jalan hidup mereka masih terlalu panjang untuk sekedar mengurusi hal yang disebut dengan calon pendamping hidup. Jodoh itu akan datang kelak jika waktunya tiba. Masing-masing manusia memiliki jodohnya masing-masing. Janji Allah, wanita yang baik akan mendapat pria yang baik dan sebaliknya. Allah itu tak pernah ingkar janji. Hanya kadang manusia yang sering tak sabaran.

Harapan saya untuk bangsa Indonesia: Semoga pemuda-pemudi Indonesia segera terbebas dari virus galau karena cinta yang belum waktunya. Terlebih ditambah dengan perilaku asusila yang mengatasnamakan cinta.

Kusentuh tanganmu karena cinta. Jari-jari kita tertaut satu.

Kubelai pipimu karena cinta. Halus dan makin menggoda.

Kucium bibirmu karena cinta. Mulanya kau malu-malu namun makin lama bibir kita menggeliat lincah.

Kuraba mercusuar indah di tubuhmu karena cinta. Kau bilang jangan-jangan namun ku terus meminta dan kau pun mengalah.

Kemudian ku minta lebih dan lebih karena cinta. Kau tak kuasa menolaknya karena cinta pula. Lalu terjadilah apa yang dilaknat namun kita tak merasa terlaknat karena kita menikmatinya atas nama cinta.

Itulah masa muda yang penuh gairah namun tak ada berkah dari-Nya. Yang mana hidup hanya urusan perut dan dibawahnya.

Apa Golongan Darahmu?

Konon katanya, golongan darah mempengaruhi karakteristik seseorang. Banyak yang menilai saya memiliki golongan darah AB karena sikap saya yang kadang suka “aneh”.  Ada beberapa juga yang menganggap saya bergolongan darah B karena saya suka bersalaman sambil menggelitik perut orang. Tapi tak pernah ada yang menganggap saya bergolongan darah A karena saya orang yang sangat tidak disiplin. Sedangkan katanya lagi, golongan darah A itu kebanyakan orangnya disiplin dan perfeksionis. Tak ada pula yang menilai saya bergolongan darah O, entah kenapa, saya tak begitu paham penyebabnya. Padahal memiliki golongan darah O adalah salah satu dari impian saya.

Namun kemarin, momen yang akan saya kenang, yaitu Hari Senin tanggal 17 Maret 2014 kurang lebih pukul 12.30 sepulang dari kuliah, saya beranikan diri untuk mengikuti donor darah. Tetteretteteteeeeet..  Setelah penuh perjuangan dan penetapan hati untuk memberanikan diri menancapkan jarum suntik pada tubuh ini, akhirnya diketahuilah apa yang perlu diketahui. Saya memiliki golongan darah O. Ternyata tebakan teman-teman salah semua. Ternyata lagi, impian saya tercapai. Hehe.

Lalu saya penasaran untuk mencoba mencari tahu karakteristik golongan darah O seperti apa, ternyata seperti ini nih:

tipe-gol-darah

golongan darah part 1

images (1)

kwkwkw

Setelah tahu golongan darah saya apa, lalu saya mencoba donor darah pertama saya di umur saya yang sudah kepala dua ini. Semoga darah saya dapat bermanfaat bagi orang lain. Amin. Dan sekarang saya sudah punya kartu donor darah. Walaupun saya kemarin takut sekali saat dicoblos jarum. Badan jadi panas dingin tapi alhamdulillah lancar dalam prosesnya. Sampai ada teman yang tanya, “besok mau donor lagi?”. Saya jawab, “belum tahu, masih mikir-mikir. Hehe” Well, saya masih takut dengan jarum suntik.

17 Maret 2013 is awesome: di umur 20 tahun ini, saya jadi tahu golongan darah saya sekaligus menjadi momen donor darah pertama saya.

Layaknya Satu Tubuh

“Layaknya satu tubuh, jika satu anggota tubuh tak berfungsi dengan baik, akan menjadi kurang lengkap.”

Begitu halnya dalam suatu organisasi. Anggota yang satu saling melengkapi anggota lainnya dalam menjalankan peran, tugas dan fungsinya. Dalam keberjalanannya harus senantiasa beriringan. Tak dapat antara satu sama lain saling memaksakan kehendaknya atau lebih mementingkan kepentingan pribadinya. Organisasi membutuhkan satu frame yang menjadi dasar laju pergerakannya.

Namun adakalanya bagi orang-orang dalam suatu organisasi, merasakan kehadirannya tak begitu penting dan berharga dalam organisasi tersebut. Ada atau tak ada dirinya tak berpengaruh apapun dalam keberlangsungan organisasi tersebut. Hal inilah yang sempat saya rasakan, ketika saya harus memilih antara menghadiri rapat pleno atau bersantai di asrama. Ada atau tak ada saya tak memiliki andil besar dalam keberjalanan pleno. Mengapa saya katakan demikian? Ketika saya hadir saat sidang pun saya tak memberikan sumbangsih apapun. Saya hanya sekedar duduk diam mendengarkan. Saya hanya dapat membisu. Ketika ditanyai pendapat saya tak memberikan sesuatu yang solutif. Saya hanya sekedar manggut sepakat dengan pendapat teman-teman saya. Tak ada kritik. Taqlid. Itulah saya.

Bahkan kehadiran saya yang tak membawa kebermanfaatan apapun justru menambah beban dana BPH (Badan Pengurus Harian). Mengapa tidak, BPH harus menguras uang untuk mengganti ongkos PP (pulang-pergi) semarang-solo yang saya tempuh. Kehadiran saya hanya dapar mendzalimi teman-teman sesama pengurus. Terlebih ketika saya ditanya tentang suatu permasalahan namun tidak dapat memberikan pendapat solutif, saya merasa tertekan. Terutama jika ada yang mengatakan, “gimana sih, sudah instruktur lho!” Cap yang tertempel bahwa seorang instruktur harus cakap, baik berpendapat, membuat pertimbangan-pertimbangan, mengkonsep, memotivasi kader, berorasi, berwawasan luas, dan segala macam hal baik lainnya. Membuat beban mental tersendiri untuk saya yang tak bisa apa-apa. “Saya memang instruktur yang tidak berkompeten!” Ingin rasanya berteriak seperti itu. “Namun saya ingin dan akan terus belajar menjadi instruktur yang berkompeten!”

Sampai akhirnya saya putuskan untuk menghadiri rapat pleno dan meninggalkan kenyamanan di kamar asrama. Saya harus rela tidur di sekretariat, tepatnya di sebuah kamar yang bau dan pengap. Tapi itu tak menjadi masalah. Masalahnya ada pada saat diskusi di forum yang saya hanya duduk manis mendengarkan. “Ayo berpendapat!” pekik sebagian orang dalam hati. “Berpendapat seperti apa dan bagaimana? Saya sungguh tak paham.” Pekik diri saya sendiri yang tak dapat didengar orang lain.

Memang pleno ke-3 ini masih sama dengan pleno-pleno sebelumnya, dimana saya hanya duduk diam mendengarkan. Namun saya mencoba menggali hikmah dari kehadiran saya dalam pleno. Organisasi ini membutuhkan teman-teman pengurus dan saya. Karena dalam pleno membahas program kerja apa yang sudah terealisasi dan yang belum, perkembangan kondisi daerah, dan sinkronisasi bidang, bagi pengurus yang tak hadir, dapat dikatakan tidak mengikuti laporan perkembangan hal-hal tersebut. Walaupun hasil rapat sudah disebarkan di grup FB, akan tetapi rasa kebersamaan yang dibangun dalam pleno tak didapat oleh pengurus yag tak hadir. Bagi pengurus yang hadir, khususnya bagi saya (walau saya hanya diam), saya menjadi paham (red: mencoba memahami) hal apa saja yang harus saya lakukan selama 3 bulan ke depan, dan 1,5 semester kepengurusan.

Saya berpikir, teman-teman pengurus, apakah mereka tahu apa yang harus mereka lakukan? Seurgensi apakah amanah yang harus mereka pertanggungjawabkan, apakah mereka tahu? Saya yang hadir pleno masih merasa belum begitu mengerti, namun saya berusaha mencoba memahami. Semoga teman-teman pengurus yang lain pun demikian, baik yang hadir maupun tidak, sama-sama mencoba mengerti. Atau mungkin itu hanya pendapat subjektif saya karena sebenarnya teman-teman pengurus sudah paham lama akan hal tersebut dan hanya saya lah yang baru saja paham. Ternyata, saya sudah jauh tertinggal.

“Organisasi ini bukan hanya digerakkan oleh BPH. Organisasi ini juga butuh non-BPH, untuk bergerak bersama. Layaknya satu tubuh. Jika tak punya mata, tak dapat melihat. Jika tak punya mulut, tak dapat berbicara. Jika tak punya tangan, tak dapat menggenggam. Jika tak punya kaki, tak dapat berjalan,” tutur senior, yang membuat langkah kaki saya mantap berjalan menuju pleno.

Well, saya masih harus banyak belajar. 🙂