Semacam Teguran dan Hidayah dari Pencipta-Ku

Dua minggu terakhir menjelang semester 4 ini, banyak sekali hal-hal (semacam) teguran dari Allah yang ditujukan pada saya.

1. Terjebak banjir lalu naik truk

Ketika menuju ke solo, saya terjebak banjir sampai sepinggang. Tak ada bus yang dapat melewatinya. Well, akhirnya, saya naik jasa truk. Untungnya saat itu saya dapat tempat duduk yang lumayan enak, samping sopir.  😀 Setidaknya, saya lebih beruntung dibanding orang-orang yang naik di belakang truk. Terimakasih Allah. Alhamdulillah.

Dalam perjalanan ini, saya miris sekali melihat sepanjang jalan yang banjir. Terlebih melihat sawah-sawah petani yang kebanjiran. Mereka harus menanggung begitu banyak kerugian dikarenakan sawah yang terendam.  Sawahnya sudah tidak berbentuk sawah lagi. Saya seperti  naik kapal yang melewati sungai panjaaang sekali. Sepanjang mata memandang hanya ada air warna kecoklatan dengan beberapa pohon (tak banyak) yang menyembul setengah batangnya, setengah yang lain sudah terendam.

Semoga yang ditimpa cobaan dapat senantiasa bersabar dan tawakkal. Serta berilah kemudahan bagi mereka, orang-orang yang Engkau kenakan cobaan berupa air bah. Aamiin.

2. Beli lampu, masang lampu, 15 menit kemudian lampu mati.

Lampu di kamar saya mati. Saya segera pergi ke hypermart untuk membeli lampu.  Tak ada lampu yang murah. Paling murah 20ribuan. Setelah menimbang dan memilah, saya menetapkan membeli satu lampu yang harganya 24ribu. Karena tak ada orang lain di asrama. Saya putuskan untuk memasang lampu itu sendiri. Karena langit-langit kamar saya lumayan tinggi dan tidak mudah digapai hanya dengan satu kursi, saya putuskan untuk mendorong lemari tepat di atas lampu itu terpasang. Dengan kekuatan super samson dan wonder woman saya dorong lemari itu sekuat tenaga. Dan yeah, berhasil berhasil horay. Saya naik ke atas lemari dan taraaaa, lampu terpasang dengan baik. Lemari saya kembalikan ke posisi semula.  Saya sudah bisa tidur-tiduran dengan nyaman di kasur. 15 menit kemudian, blup blup blup,peet. Lampunya mati. Saya speechless.  Lampu yang baru saya beli dengan harga mahal mati. Antara sedih kalut galau dan bingung. Karena sebentar lagi maghrib, saya segera tancap gas lagi ke toko untuk membeli lampu (bukan ke hypermart lagi, mahal!) kau tahu berapa harga lampu di toko? Yeah, 7000. Saya segera beli satu dan tancap gas lagi ke asrama. Dengan mengulang episode yang lalu, saya kembali mendorong lemari dan naik di atasnya. Well, sekali lagi berhasil berhasil horay. Setelah mengerahkan sekuat tenaga saya mendorong dan mengembalikan kembali lemari itu ke tempat semula. Alhamdulillah, sampai sekarang lampunya masih kuat bertahan hidup. 🙂

Kali ini kisahnya 2 dulu deh. Lain kali nyambung lagi. Insyaallah.

taubat2

But all of my way, Allah always give me some stones but Allah is not forget to give me strength to get rid of the stones. 🙂

Fiqih Komunikasi: Antara “Saya” dan “Aku”

Saat liburan kemarin, saya sempat berdiskusi sebentar terkait penggunaan istilah “aku” dan “saya”.

Ternyata selama ini saya sangat tidak sopan ketika berbicara dengan orang lain terlebih pada yang lebih tua. Oleh karena itu, dalam episode kali ini dan seterusnya, kini saya akan menggunakan istilah “saya” untuk menyebut diri. Bukan “aku” lagi. Baik itu dalam tulisan-tulisan saya di blog, maupun dalam sms, ya kalau sudah bisa dan terbiasa semoga dapat saya terapkan dalam percakapan sehari-hari dengan orang yang lebih tua, orang yang baru kenal, dan orang yang memang pantas dihormati. Lalu kalau kepada teman sebaya bagaimana? Hmmm.. mungkin masih pakai “aku” . Hehe. Bukan bermaksud mendiskriminasi, tapi agak kurang sreg aja kalau bicara dengan teman sebaya memakai bahasa formal. Masih dalam tahap membiasakan diri. 😀

Ini beberapa alasan yang dapat saya tangkap dari hasil diskusi penggunaan istilah “aku” dan “saya”. Alasannya, pertama, “aku” menunjukkan ego dari sang pengucapnya yang tinggi. Kata “aku” dalam bahasa indonesia tak cocok dan tak sopan jika digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tua. Adat manapun senantiasa mengajarkan untuk bersikap hormat pada orang tua, bukan? Kedua, “saya” lebih mampu menjaga penghormatan kepada orang lain maupun diri sendiri ketika berbicara. Bedakan ketika orang berbicara “aku” dan “saya”. Orang akan lebih hormat pada seseorang yang berbicara “saya”. Bukan berarti dengan berbicara “saya” seseorang tersebut butuh akan eksistensi penghormatan dari orang lain, bukan demikian. Namun itulah cara seseorang dalam berkomunikasi efektif untuk senantiasa menghormati orang lain di satu sisi, yang berefek dirinya dihormati orang lain pula di sisi yang lain pula. Sebagaimana berjilbab dengan yang tak berjilbab, orang akan lebih sungkan menggoda wanita berjilbab dikarenakan penjagaan dan penghormatan yang dilakukannya terhadap dirinya sendiri. Tak jauh beda dengan penggunaan kata “saya” (menurut saya).  Sama halnya dengan jilbab, kata “saya” pun dapat menjadi benteng untuk menghargai diri kita sendiri sebagai manusia budiman.

Dari sini saya belajar, dalam berkomunikasi pun ada tatacara komunikasinya.  Mungkin kelak ada yang menerbitkan buku “fiqih komunikasi” yang dapat menambah wacana literatur Indonesia. Jadi, tak hanya fiqih dakwah, fiqih wanita, fiqih sunnah, dan fiqih yang lainnya yang patut kita ketahui, fiqih komunikasi juga tak kalah pentingnya (saya kira).

Yah, bismillah, semoga dapat berbahasa dan berkomunikasi dengan baik hingga tak menyinggung orang lain. Aamiin

Fighting!! 🙂