Berproses #10

Saat berkunjung ke rumah KB bertemu yunda yang dulunya aktivitas PII maupun yang bukan aktivitas PII tapi suaminya aktivis PII kemudian berdiskusi dan tanya-tanya pengalaman mereka dulu, banyak banget hal yang aku dapat. Tapi kali ini aku ingin membahas terkait ibu rumah tangga professional. Awalnya aku bertanya dalam diriku sendiri, mereka punya ijazah namun mengapa mereka tak bekerja? Mengapa mereka lebih memilih menjaga rumah, menjadi seorang ibu rumah tanga, mengapa? Namun hal itu tak aku tanyakan pada mereka. Aku tak cukup berani. Kemudian saat aku membaca faccebook di berandaku muncul berita tentang ibu rumah tangga professional, septi peni wulandari. Aku membaca kisah singkatnya dan sungguh luar biasa caranya mendidik anak yang out of the box.  Dia tidak menyekolahkan anaknya di sekolah formal karena anaknya tak menyukai sekolah formal. Anaknya lebih nyaman home schooling. Tak hanya 1 anak, ketiga anaknya memilih home schooling. Baginya tak masalah, asal tak melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya. Mencari ilmu dapat darimana saja, tak harus di sekolah formal. Walaupun demikian, saat anaknya umur 9 tahun, mereka harus membuat projek dan setiap minggunya harus mempresentasikan hasil dari proyek mereka. Keren banget lah intinya sistem pendidikan keluarganya. Bisa dibaca sendiri di web: http://azaleav.com/2013/08/01/inspirative-housewife-story/#more-1432

Bikin merinding saking kerennya.

Mungkin itu adalah sedikit dari sekian banyak alasan meninggalkan karir demi keluarga. Akankah aku begitu pula?

Berproses #9

Ada pohon

Pohon indah

Pohon di atas rumput

Rumput hijau keliling ling

Rumput hijau keliling

Ada batang

Batang indah

Batang di atas pohon

Pohon di atas rumput

Rumput hijau keliling ling

Rumput hijau keliling

Ada daun

Daun indah

Daun di atas batang

Batang di atas pohon

Pohon di atas rumput

Rumput hijau keliling ling

Rumput hijau keliling

Ada bunga

Bunga indah

Bunga di atas daun

Daun di atas batang

Batang di atas pohon

Pohon di atas rumput

Rumput hijau keliling ling

Rumput hijau keliling

Ada buah

Buah indah

Buah di atas bunga

Bunga di atas daun

Daun di atas batang

Batang di atas pohon

Pohon di atas rumput

Rumput hijau keliling ling

Rumput hijau keliling

Dan seterusnya..

Hehe…

Saat LMD (Latihan Manajemen Dasar) PII di karang pandan, tepatnya padepokan lir-ilir, aku ngasih ice breaking lagu di atas. Semuanya terlihat heboh dan gembira. Aku senang kalau mereka bahagia.

Semoga sepulang LMD ilmunya dapat bermanfaat ya adik-adik PII. Aamiin. 🙂

Berproses #8

Minggu terakhir di bulan januari bisa dikatakan amazing. Banyak kejadian suka dukanya. Mulai dari kejebak banjir terus numpang truk karena nggak ada bus. Wow! Tak hanya sampai disitu, ditambah berkesan dengan acara PII. Perjalanan dalam rangka silaturrahim bolak-balik jalan-jalan terus. Mulai dari karang pandan terus ke sragen silaturrahim ke rumah KB terus ke karangpandan lagi silaturrahim ke rumah KB juga terus balik lagi ke sragen buat istirahat karena sudah malam. Selama perjalanan  ditemani pepohonan dan rumput hijau keliling, indaaaaaaaah banget. Setelah itu balik ke solo. Nah, saat di solo hapeku ketinggalan di bus dan menghilang. Hmm,, ya tak apalah, mungkin sudah takdir. Aku percaya ketetapan Allah tak ada yang buruk. Itu yang terbaik yang diberikan Allah padaku dan aku harus menyukurinya. Bisa juga itu sebagai teguran untukku karena aku terlalu mencintai hapeku. Allah tak menyukainya sehingga menegurku langsung. Bersyukur juga karena Allah berkenan menegurku saat di dunia. Coba kalau Allah menegurku saat di akhirat, saat tak ada kesempatan lagi untuk bertobat? Mengerikan sekali. Itu tandanya Allah sayang banget sama aku. Terimakasih ya Allah karena Engkau masih menyayangi hamba walaupun hamba sering melupakan Engkau.

Bimbing atin untuk mencintai-Mu dengan setulus hati  Ya Allah.

Terimakasih juga atas segala rahmat dan hidayah-Mu.  Jadikanlah hamba makhluk yang senantiasa bersyukur pada-Mu Ya Allah.

Aamiin.

Berproses #7

Hadirmu selalu

Di awal tahun ini

Banjir melanda jalur pantura. Berita ini bertebaran dimana-mana. Di socmed, TV, radio, sms, maupun mulut ke mulut.

Awalnya aku tak terlalu yakin, apa iya? Aku tetap memutuskan untuk melakukan perjalanan melewati jalur pantura. Nyatanya benar, berita tak bohong. Banjir selutut menghambat perjalananku. Jarak rembang pati yang biasanya dapat aku tempuh 2 jam menjadi 4 jam. Well, aku positive thingking. All iz well. Aku kira perjalananku ke semarang tak akan tersendat. Nyatanya lagi, bus cuman mau melaju sampai pati. Itu saja harus melalui perdebatan antara penumpang dan sopir. Penumpang yang pada ngotot mau tak mau bus ini harus sampai pati. Dengan pendapat sopir yang tak berani menerjang banjir. Satu orang sopir melawan berapa puluh penumpang (tak dapat kuhitung), ya dapat diperkiran pihak mana yang menang. Sang sopir mengalah. Mau tak mau sopir mengikuti keinginan penumpang (mungkin takut dipukuli dan cekcok lebih lama). Hukum alam, salah satu harus mengalah agar kedamaian (bisa jati kedamaian semu, bisa jadi juga kedamaian sejati, tergantung konteksnya) segera tercipta.

Tujuanku adalah solo. Aku ingin lewat jalur semarang. Namun bus hanya sampai pati. Lalu, apa yang aku lakukan? Aku segera mengambil langkah seribu. Karena waktu itu jam menunjukkan pukul 4 sore, aku tak ingin kemalaman di jalan, segera aku mengetik sms kepada adikku tercinta di pati, sri yuli. Setelah sms aku segera menelponnya dan segera diangkat olehnya. Transaksi berlangsung dan deal. Aku menginap di kosnya malam itu, paginya, malamnya lagi, dan paginya lagi.

Bisa dibilang aku terjebak di pati. Tapi terjebak tak selamanya buruk. Aku dapat bernostalgia di kota yang selama 3 tahun aku menghabiskan masa-masa alay, jahiliyah, dan pencerahan di setiap harinya.

Seperti dugaanku yang tak meleset jauh, all iz well sejauh kita memandang demikian. Selalu ada jalan. Yakin. Seperti  itulah hidup. Simple sebenarnya. Seperti saat ini, saat aku memandang langit atap sambil mendengar banyak berita bahwa semua akses jalan ditutup karena banjir, bersama itu pula aku yakin, selalu ada jalan untukku ke solo.

Pati, 23 januari 2014.

 

Berproses #6

Hari ini aku berkunjung ke almamaterku SMA dulu, yaitu SMA N 1 Pati. Karena aku gak mau terlihat kayak orang asing gitu, aku putuskan buat pinjem baju osis adik kosku dulu sewaktu SMA. Well, hari ini aku menyelinap seolah jadi anak SMA padahal udah lulus 2 tahun yang lalu. Hehe.

Cukup banyak hal berubah di sekolahku. Sekarang banyak gedung-gedung baru yang dibangun. Di atas perpustakaan yang sering ku kunjungi sekarang sudah ada ruangan baru. Mungkin bakalan dijadikan ruang kelas. Lapangan basketnya sekarang sudah dicat berwarna. Ada hijau, merah, garis-garis yang lebih jelas menandakan bahwa itu adalah lapangan basket. Tentunya selain ring basket. Masjidnya tak banyak berubah, tapi menurutku agak terlihat berdebu. Mungkin karena musim hujan. Kantinnya masih seperti yang dulu. Makanan yang disajikan di kantin nomer 2 masih sama dengan ciri khasnya yang dulu, swike ayam dan telur dadar. Oya, hampir lupa, tatanan perpustakaannya sudah dirombak sedemikian rupa dan dibuat senyaman mungkin. Namun aku masih belum tahu, apakah perubahan juga terjadi pada kebiasaan sang penjaga perpus. Mungkin jadi lebih ramah dan murah senyum atau bagaimana lah, asal tak killer kayak dulu. Pengalaman menyedihkan sewaktu SMA karena aku sering dimarahin ibu penjaga perpusnya. Emang sih aku suka teledor, aneh dan macem-macem serta kadang agak blo’on, tapi seharusnya itu tak membuat ibunya gampang marah, kan aku juga manusia yang penuh salah dan dosa. #pembelaandiri. Semoga ibunya sudah berubah ke arah yang lebih baik sehingga adik kelasku tidak terdzalimi lagi. Cukup aku saja. Hehe.

Setelah capek-capek muter-muter mulai dari kantin, ruang-ruang kelas, perpus, masjid, sampai parkiran juga, akhirnya aku putuskan menjemput adikku tercinta, YULI. Dia masih unyu, lugu, dan polos eperti dulu. Itulah yang membuatku menyayanginya hingga sekarang. (Serta yang membuatku sering merepotkannya). Hehe. Misalnya saja kemarin dan hari ini hingga besok (mungkin lusa juga (who knows)) aku merepotkan dia lagi (seperti dulu). Kali ini aku menginap di kosnya. Dia harus repot ijin ibu kos. Repot pindah kamar buat aku. Repot bawa bantal, seprai dan selimut, serta buku-buku. Repot gangguin belajarnya. Repot ngobrol dan cekikikan. Haha. Ya, mungkin aku memang merepotkan tapi semoga dia tak berpikir aku merepotkan. Aamiin. Soalnya kadang aku suka tak tahu diri dan tak tahu malu. Oh God.

Lalu, apa kesimpulan dari tulisan ini. Yah, ini hanyalah sekedar curhatan tak berujung kalau tak segera diakhiri. Cuma sekedar coretan tak penting, luapan dari kegembiraan karena dapat bersama lagi dengan kalian adik-adikku, Yuli, Nurul, dan Sinta.  Miss You. Walaupun agak kurang karena tak ada Lina disini membersamai kita.

Aku senang dapat berjumpa, bercanda, bercerita, dan ber ber lainnya bersama kalian.

Tumbuhlah dewasa. Gapai mimpi-mimpi kalian. Untuk kehidupan yang lebih baik masa depan.  Indonesia gemilang dan kejayaan Islam.

Salam sayang,

Atin