Origami dan Kehidupan

malam ini mencoba membuat origami.

terimakasih Dina cantik karena telah mengajariku. 

ternyata membuat origami butuh ketelatenan, kesabaran dan daya ingat yang tinggi untuk membentuk pola-pola tertentu.

semua butuh proses. termasuk dalam hal membuat origami malam ini. kita tak bisa dengan seenaknya membuat pola. sudah ada pola tertentu agar dapat menghasilkan burung, hati, kodok, dan lainnya. tak ada pola yang hampir serupa. masing-masing memiliki proses berbeda yang akhirnya terbentuk hasil yang berbeda pula. 

begitu pula hidup??

ini hasil origamiku bersama teman-temanku. 🙂

1512513_721535737856697_1900582352_n 

1506697_721535944523343_1689982583_n

rasanya bahagia dapat menyelesaikan origami. rumit-proses yang panjang- sabar-berharap indah pada akhirnya. 

namun kehidupan tak selamanya berakhir indah. layaknya origami yang aku buat malam ini. hasilnya tak begitu indah. origami temanku terlihat lebih indah. mungkinkah karena dia lebih telaten dan sabar dalam membuatnya? oh, berarti dalam proses kehidupan agar happy ending salah satu kuncinya yaitu: Sabar. 

iya Atin, kau harus sabar dalam menjalani hidup ini. setidaknya malam ini, ada salah satu pelajaran berharga yang dapat kau petik dari benda yang bernama origami. terimakasih origami, teman, dan Sang Pemberi Nafas dalam Hidupku. 🙂

Iklan

PUTIK: Puzzle Pembelajaran Tematik Bagi Siswa SD Melalui Metode PAIKEM

Ini salah satu abstrak dari karya tulis yang saya ikut sertakan dalam lomba KTI Ganesha di Universitas Brawijaya. Walaupun belum berhasil meraih juara, itu tak mengapa. Sejatinya, bukan tentang menang atau kalah, tapi proseslah yang berharga. Kesuksesan tidak datang tiba-tiba. Ia diperuntukkan bagi pembelajar yang senantiasa terus belajar.

semoga dapat menjadi salah satu referensi bagi kita semua. 🙂

ABSTRAK

Berdasarkan laporan National Human Development Reports pada tahun 2011, Human Development Index bidang pendidikan, Indonesia berada pada peringkat 119 dari 187 negara dan peringkat 12 dari 21 negara di Asia Pasifik. Salah satu penghambat meningkatnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah gencarnya arus globalisasi yang tidak di filterisasi secara kuat sehingga mengakibatkan krisis moral yang semakin merajalela.

Baru-baru ini pemerintah menggagas adanya kurikulum 2013 dimana mengupayakan pembangunana karakter bagi siswa. Pendidikan karakter  adalah pendidikan yang mengajarkan cara  berpikir  dan  berperilaku  yang  menjadi  ciri khas  tiap  individu  untuk  hidup  dan  bekerjasama,  baik  dalam  lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.  Didalam kurikulum 2013 pembelajaran terkonsep dalam pembelajaran tematik yakni beberapa mata pelajaran dikaitkan dalam satu tema tertentu. Pendidikan karakter sendiri dapat diintegrasikan kedalam mata pelajaran. Oleh karena itu didalam pembelajaran tematik perlu disisipi nilai-nilai karakter pada anak. Sementara itu anak SD masih berada pada tahap berfikir operasional konkrit sehingga anak perlu dibantu dengan media pembelajaran serta suasana pembelajaran yang menyenangkan untuk menarik minat siswa. Brown dalam (Indriana, D. 2011:15) mengatakan bahwa media pembelajaran adalah media yang digunakan dengan baik oleh guru atau siswa yang dapat mempengaruhi efektivitas program belajar-mengajar.

Berdasarkan permasalahan tersebut penulis menggagas adanya penggunaan PUTIK:Puzzle Pembelajaran Tematik Berbasis Pendidikan Karakter Bagi Siswa Sd Kelas Atas Melalui Metode Paikem (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan). Media ini berisiskan Puzzle yakni salah satu bentuk media belajar dan bermain yang membantu mengembangkan kecakapan motorik halus dan dengan koordinasi antara tangan dan mata. Media ini dapat mempermudah anak dalam memahami pelajaran yang disampaikan guru.

Media pembelajaran ini disusun disesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dibutuhkan siswa serta tema yang harus disampaikan pada siswa. Didalam mata pelajaran yang disampaikan disisip dengan nilai-nilai karakter seperti cinta tanah air dan mengenal kebudayaaan dalam negeri.

Adapun tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah memaparkan proses pembelajaran tematik berbasis pendidikan karakter bagi siswa SD kelas atas dengan metode PAIKEM,Memaparkan implementasi dan implikasi penggunaan Puzzle Pembelajaran Tematik dalam membentuk karakter siswa SD kelas tinggi melalui Metode PAIKEM.

Metode penulisan karya tulis ini antara lain melalui pendekatan penulisan deskriptif kualitatif. Karya tulis ini menggunakan sumber data primer yang berupa telaah pustaka, serta data sekunder. Setelah itu mengumpulkan data dari berbagai sumber baik buku, jurnal, maupun internet lalu melakukan analisis data.

Harapanya media pembelajaran ini dapat dimanfaatkan guru dalam mengajar anak sekolah dasar kelas tinggi dalam pembelajaran tematik berbasis pendidikan karakter.

Untuk Nora tentang Generasi Penerus Bangsa

Nora, aku ingin bercerita padamu. Aku tahu kalau bicara langsung padamu itu tidak mungkin. Sms pun sama saja. Kurang lebih aku sudah tahu bagaimana tanggapanmu. Apalagi telepon, itu mustahil. Hanya sekedar surat yang entah kau akan baca atau tidak. Namun setidaknya, ini membuatku lebih tenang.

Hari Jum’at tanggal 13 desember 2013 adalah hari terakhirku mengajar pramuka di SD Negeri Dukuhan Kerten. Sudah sekitar 3 bulan aku mengajar pramuka disana. Tepatnya aku ditugaskan  mengajar kelas 4A. Sungguh indah menjadi guru, Nora. Terlebih ketika kau disayangi oleh murid-muridmu. Walaupun kadang mereka sering cari-cari perhatian, manja, kadang juga masih egois, itu bukan masalah bagiku. Karena memang pada fase itulah mereka kini berada. Aku menganggapnya itu naluri alamiah anak seumuran mereka.

Dengan seabrek tugas kuliah, agenda organisasi yang begitu padat, dan pencapaian-pencapaian lainnya yang ingin ku raih, yang membuatku begitu suntuk dan lelah, dalam sekejap bisa hilang saat aku meluangkan waktuku untuk bercengkerama dengan mereka. Tawa riang mereka, rajukan mereka, senyum dan canda mereka, membuatku tak bisa bermuka suntuk apalagi muram. Terlalu perih jika kau tak bisa tertawa karena polah mereka. Aku merasa akan menjadi seseorang yang awet muda jika kelak benar-benar akan mengajar anak SD. Kau akan selalu tersenyum dan masalah-masalahmu tiba-tiba menghilang saat bersama mereka.

Terlalu indah diungkapkan ketika aku mengajar anak-anak SD dan melihat polah mereka yang khas anak SD. Apa adanya tanpa menutupi topeng kekanak-kanakan mereka.  Tiap dari mereka memiliki keunikan tersendiri. Aku menemukan murid yang mampu menjadi pemimpin yang baik bagi teman-temannya, murid yang suka cari perhatian dengan buat masalah, murid yang pintar dan cekatan saat ada tugas, murid yang telaten dan ambisius, manja dan suka merajuk, serta berbagai karakter lainnya. Ketika mengajar nanti, kau juga akan merasakan apa yang aku rasakan. Mungkin bisa lebih unik lagi, karena kau akan mengajar anak-anak yang akan tumbuh menjadi sosok remaja dewasa.

Di hari terakhirku mengajar pramuka, sempat aku menangis (tapi cuma sebentar). Aku tak ingin menjadi guru yang cengeng di hadapan muridku. Di setiap pertemuan memang selalu akan ada perpisahan. Itu hukum alam yang senantiasa berlaku. Walaupun cuma 3 bulan aku mengajar, namun serpihan hari-hari itu ingin senantiasa aku rangkai dan kenang dalam memori ingatanku.

Aku bahagia bisa menjadi guru. Aku senang dicintai murid-muridku. Namun kadang aku sering bertanya-tanya tentang banyak hal. Masih ingatkah mereka dengan apa yang aku ajarkan? Sudahkah aku mampu menanamkan akhlak baik pada diri mereka? Aku tak ingin menjadi guru yang hanya sekedar mencerdaskan mereka, namun juga dapat membawa perubahan akhlak yang berarti bagi mereka. Mampukah aku menjadi guru yang mampu melakukan misi perbaikan akhlak? Pendidikan karakter digembar-gemborkan kemana-mana namun kondisi pelajar Indonesia degradasi moralnya semakin parah. Itu tugasku, tugasmu, tugas kita sekaligus PR kita sebagai calon pendidik generasi penerus bangsa. Akankah kita bisa, Nora, membuat Indonesia ini menjadi lebih baik?

Persahabatan Gajah Cuncun dan Tikus Boni

Di sebuah hutan hijau yang penuh dengan panorama, nampak kerlip cahaya indah. Matahari pagi mulai menghamburkan kehangatannya. Menyusup di celah-celah rimbun dedaunan. Menghiasi pagi yang indah di hutan rimba Saksana. Terlihat dua hewan saling berkejaran dengan riang gembira. Mereka adalah Cuncun dan Boni. Cuncun seekor anak gajah baik hati. Boni seekor tikus kecil yang periang. Mereka tumbuh bersama dibawah rindangnya tumbuhan rimba. Persahabatan yang aneh antara seekor gajah dan tikus, namun ini nyata.

Pagi itu, ketika sedang asyik berkejaran, Cuncun melihat gajah-gajah kecil seumurannya sedang bermain bola.  Cuncun tertarik bergabung bersama mereka.

“Ayo kita ikut bermain bola, Boni!”

Tanpa mendengar jawaban Boni, Cuncun langsung lari ke arah kawanannya.

“Bolehkah, aku ikut bermain?” tanya Cuncun.

“Tentu saja”, jawab Ronron

Cuncun tersenyum gembira karena diterima oleh kawanannya. Namun ia merasa ada tatapan tak suka dari kawanan tersebut terhadap sesuatu yang berada di dekatnya. Tatapan itu ditujukan kepada Boni.

“Bolehkah temanku Boni ikut bermain bersama kita?” pinta Cuncun.

“Si Tikus ini temanmu? Yang benar saja? kami tak bisa bermain dengan pecundang kecil.” Salah seekor gajah berkata sekenanya dengan nada merendahkan.

Tampang Cuncun langsung terlihat sedih. Ia memandang ke arah Boni seolah meminta jawaban Boni.

“Kau bermainlah dengan mereka, Cun. Aku akan pergi mencari makanan untuk kita makan.” Boni tersenyum ramah pada Cuncun.

Awalnya Cuncun agak tidak enak hati dengan Boni. Namun, cuncun ingin sekali bermain bola. Mendengar jawaban Boni yang melegakan, Ia merelakan Boni pergi dan memilih asyik bermain bola dengan kawanan barunya sesama gajah.

Semakin hari, Cuncun lebih sibuk bermain dengan teman barunya. Ia sudah jarang bermain dengan Boni. Teman-teman barunya menerima dengan hangat kedatangan Cuncun. Namun ketika ia membawa Boni untuk ikut serta bermain, teman-temannya akan memasang wajah jengkel tanda tidak suka. Mereka tidak suka jika segerombolannya ada yang memiliki fisik berbeda. Boni bukan gajah, ia hanya tikus. Tak bisa dibandingkan antara tikus kecil dengan gajah besar. Bagi mereka itu persahabatan yang tak masuk akal. Gajah dengan badannya yang besar dapat melakukan apapun. Terlebih mereka mempunyai gading yang kokoh untuk pertahanan diri serta belalai yang panjang untuk melakukan apa saja. Sedangkan tikus, mereka kecil tak bisa apa-apa, hanya menyusahkan, pikir para gajah.

Hari baru di hutan rimba saksana mulai merekah. Fajar pagi menyibak cadarnya, helai demi helai, ada kawanan gajah yang tak sabar menjelajah dunia. Cuncun dan kawanannya bersiap menyusuri hutan rimba Saksana.  Mereka tak ijin pada orang tua karena tahu tak akan diijinkan. Hutan rimba Saksana sangat luas, ada banyak bahaya di luar sana yang dapat mengancam sewaktu-waktu.  Mereka nekad, dan pergi diam-diam.

Ketika sedang bersenandung di atas pohon yang rindang, Boni melihat Cuncun dan kawanannya pergi dengan gelagat yang mencurigakan. Ia merasakan kekhawatiran mendalam pada Cuncun. Ia lalu mengikuti kawanan gajah kecil tersebut secara sembunyi-sembunyi.

Setibanya di pinggiran hutan, tiba-tiba ada sesuatu yang menarik kaki Cuncun dan Ronron. Dalam sekejap mereka sudah bergelantungan di atas pohon dengan posisi terbalik. Jebakan pemburu telah berhasil menangkap Cuncun dan Ronron. Kawanan gajahnya yang lain panik. Mereka hanya anak gajah. Mereka bingung harus berbuat apa. Pohon itu terlalu tinggi bagi mereka. Mereka juga tidak dapat memanjat pohon.

Boni yang melihat dari kejauhan nampak cemas. Ia segera keluar dari persembunyiannya. Dengan segera ia berlari ke arah pohon tempat bergelantungnya Cuncun dan Ronron. Tali yang mengikat kaki Cuncun dan Ronron, ia koyak sedikit demi sedikit dengan giginya. Hingga lepaslah tali itu dari kaki Cuncun dan Ronron.

Cuncun, Ronron dan kawanan gajah lainnya sangat berterimakasih terhadap Boni. Selama ini, mereka salah menilai Boni.

“Boni, terimakasih atas pertolonganmu. Maafkan sikap kami selama ini,” sesal Ronron atas kelakuannya dan teman-temannya kepada Boni selama ini.

“Boni, maaf karena aku telah menjadi sahabat yang menyebalkan.” CUncun menyesal telah mengabaikan persahabatan yang selama ini ia jalin dengan Boni.

“kawan-kawanku, di dalam rimba ini kita ibarat bangunan, satu sama lain saling memperkokoh, bukan saling merobohkan dan mencemooh. Aku hanya ingin kita bisa bermain bersama dan mengisi hari-hari kita dengan penuh warna.” Boni tersenyum simpul.

Sejak saat itu, boni dan kawanan gajah lainnya senantiasa hidup rukun dan saling tolong-menolong. Mereka menikmati kebahagiaan dengan cara sederhana. Bersama pula mereka menikmati kesederhanaan dengan cara yang luar biasa. Matahari mengulum senyum mengiringi  indahnya persahabatan di hijaunya hutan rimba Saksana.

Hai Nora

Untuk Nora,

Hai Nora. Lama tak menyapamu. Rasanya sudah lama sekali sejak perbincangan kita yang hampir 6 bulan lalu.

Minggu kemarin kita bertemu tapi kau tak sedikitpun menyapaku. Apa kau marah padaku, Nora? Apakah aku sejahat dan semenjijikkan itu, hingga untuk melihatku pun kau enggan. Kau dan aku lebih memilih diam membisu.

Aku tak berani menyapamu, karena kau pun tak menyapaku. Haruskah aku menyapamu dulu? Kau tahu, aku memiliki gengsi yang sangat tinggi untuk memulai pembicaraan denganmu. Namun, dulu, aku kerap kali meninggalkan gengsi itu dan aku selalu menyapamu terlebih dahulu. Hatimu tak sedikitpun tergerak untuk menyapaku dulu dan kini?

Kau tahu, aku ingin sekali bercerita banyak hal padamu. Tapi sepertinya kau tidak peduli terhadap cerita-ceritaku. Aku mengagumi sosokmu yang dulu mau mendengarkan cerita-ceritaku. Entah dulu kau senang hati mendengarkanku atau terpaksa mendengarkan celotehanku, aku tak tahu. Tapi dengan bercerita padamu, aku merasa lebih tenang dan nyaman. Rasa nyaman itu yang membuatku mencurahkan semua kisah padamu. Walau aku juga merasa, kau agak tak nyaman dengan hal itu. Kadang aku egois dengan mencoba apatis terhadap rasa ketidaknyamananmu.

Kini aku juga egois. Mau kau nyaman atau tidak aku tetap ingin bercerita padamu. Mau tak mau dengarlah ceritaku, Nora. Ya, aku egois dan apatis, tapi itu aku.