Surat Kecil Untuk Al #1

Hai, Al.

Anggap saja kita sudah tidak bertemu sekian lama. Membiarkan tulisan ini mengalir. Yah, mugkin secara fisik kita dekat, akan tetapi kedekatan bukan soal apakah kita berada di jauh atau dekat secara fisik, namun lebih kepada sikap mengenang dan saling mempelajari tatkala jauh maupun dekat, iya kan, Al?

Layaknya seorang teman, ijinkan aku menanyakan pertanyaan klasik ini, “apa kabar, Al?”

Ku rasa kau akan menjawab keadaanmu baik-baik saja, walau selanjutnya kau akan menghujaniku dengan berbagai ceritamu yang panjang lebar. Kadang sampai bosan mendengarmu bercerita yang tiada habisnya.  Tapi lebih seringnya aku tertarik mendengar ceritamu dari pada mati bosan. Sering pula aku tidak fokus mendengarkan ceritamu karena kebiasaanku yang susah diam. Dan aku melihatmu masih bersemangat bercerita. Mungkin telinga ini, masih harus belajar untuk mendengar.

Al, mengapa aku menulis surat ini? Entahlah, aku dengan alasanku dan kau dengan alasanmu. Aku jadi teringat ucapan seseorang, “menulis merupakan proses masturbasi diri”. Ada kepuasan tersendiri setelah menulis. Seolah kemarahan, kesedihan, kegembiraan semua terluapkan dalam tulisan. Aku rindu semangat tatkala menulis tempo dulu. Kini aku ingin memupuknya kembali lewat surat kecil ini. Surat kecil untuk Al bisa jadi dapat menyaingi surat kecil untuk Tuhan. Atau mungkin dapat menyaingi surat-surat Kartini. Bisa jadi bisa jadi. Tapi siapalah aku dan siapalah kamu? Kita hanya makhluk dengan usia singkat yang sedang belajar mengeja makna.

Al, hari ini aku membaca buku Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan. Di dalamnya tertulis, “Seseorang yang meyakini kebenaran pemikiran orang kafir, yang bertentangan dengan ajaran Islam, juga sudah menjadi musyrik. Orang yang menerima ajaran Karl Marx, Lenin, Darwin, dan pemikir-pemikir Barat lainnya, sebenarnya sudah menjadi musyrik apalagi membela dan memperjuangkannya karena pemikiran mereka itu tidak berbeda dengan paham aliran, atau dalam bahasa Al Qur’annya disebut millah.”

Aku dengar kau sering mengutip pemikiran mereka. Kalau apa yang aku baca itu benar, berarti kau musyrik Al. Kau musyrik. Namun aku bukan Tuhan, yang dengan otoritasku dapat menilai kau musyrik atau bukan.

Aku mencoba membandingkan tulisan di buku itu dengan kajian yang pernah aku ikuti akhir Oktober lalu. Batas-batas orang dikatakan syirik yaitu ketika mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain (meminta bantuan kepada kekuatan gaib seperti jin dan setan), mensifati dirinya dengan sifat-sifat Allah (layaknya Fir’aun yang mengaku dirinya Maha Berkuasa), dan menyembah selain Allah dalam bentuk peribadatan.

Kalau pendapat yang aku dengar saat kajian itu benar, berarti kau bukan musyrik Al. Kau bukan musyrik. Namun, apakah sesama manusia pantas menilai musyrik tidaknya manusia yang lain?

Kau bisa jawab pertanyaanku Al? Seperti saat presentasi di kelas, kau selalu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan gayamu. Aku tunggu.

Satu pesanku. Kau tak perlu bersembunyi untuk dikasihani. Kau tak perlu menjadi orang lain untuk tidak dibenci. Cukuplah jadi dirimu sendiri. Kau sudah melakukannya? Kau harus selalu melakukannya. Bahkan keinginan bodohmu untuk mati, itu konyol Al. Kau kuat dan tunjukkan.

Salam Penuh Kasih,

Chu ^_^

Iklan