Sejarah yang Terlupakan: Latarbelakang Melawan Feodalisme

Terkisah di suatu daerah, lahirlah seorang bayi mungil. Wajahnya jernih tanpa dosa. Kulitnya putih bersih. Sang ibu memeluk bayinya erat-erat. Seakan tak ingin kehilangan sang bayi. Hingga muncullah dua orang pengawal yang kemudian mengambil sang bayi dari dekapan ibunya.

***

15 tahun kemudian.

“Ini makanan untuk Ndoro Putri. Silakan dimakan Ndoro.” Si Mbok masuk ke kamar menghampiri Ndoro Putri.

“terimakasih Mbok,” jawab Ndoro Putri ramah.

“Mbok, aku boleh cerita?” terlihat wajah muram Ndoro Putri.  Mbok turut merasa sedih melihat raut kesedihan dari wajah majikan yang selama ini ia sayangi.

“Mbok, Ayahanda ingin menikahkanku dengan laki-laki yang tak ku kenal. Aku belum ingin menikah Mbok. Apalagi menikah dengan lelaki asing yang aku tak tahu seperti apa dia.” Ndoro Putri menangis terisak-isak. Mbok ikut-ikutan menangis. Ia tak tahan melihat majikannya menangis.

“Nduk, anakku cukup Nduk, jangan menangis.”

Ndoro Putri kaget, “Tadi Mbok bilang apa? Anakku? Iya Mbok?”

Mbok gelagapan, “Ampun Ndoro, hamba khilaf. Bukan maksud hamba memanggil Ndoro sebagai anak. Ampun.”

Mbok lalu pergi meninggalkan beribu pertanyaan di kepala Ndoro Putri.

Ndoro Putri masih bertanya-tanya, apa benar ia adalah anak dari orang yang selama ini menjadi pembantunya. Ia mulai bertanya kepada para pengawalnya. Namun tak satupun yang memberi jawaban yang memuaskan hatinya. Tak ada pengawal yang berani menjawab pertanyaannya. Semuanya membisu.

Hingga suatu hari, ia mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada Ayahandanya.

“Ayahanda, tolong katakan yang sebenarnya, apakah benar Mbok adalah ibu kandungku?” Ndoro Putri bertanya sambil terisak-isak.

Awalnya Ayahanda bersikukuh tak mau mengungkapkan yang sebenarnya. Namun akhirnya hatinya luluh. Ia pun mulai mengungkapkan kenyataan yang selama ini telah tersembunyi.

Ibu kandung Ndoro Putri adalah Mbok yang selama ini menjadi pembantu dan pengasuhnya. Mbok dihamili oleh Pangeran yang sekarang menjadi ayahandanya. Karena Mbok bukan keturunan bangsawan, maka Pangeran tidak dapat menikahinya. Karena itu, Mbok tidak dapat menjadi istri dari Pangeran. Kemudian lahirlah Ndoro Putri.  Pangeran membawa Ndoro Putri ke istana untuk dijadikan sebagai anak dan agar dapat hidup enak. Sementara Mbok rela menjadi pembantu agar tetap dapat mengasuh anaknya.

Mendengar pengakuan dari ayahandanya, Ndoro Putri menangis hebat. Orang yang selama ini ia anggap pembantu adalah ibu kandungnya. Seorang ibu yang harus berlutut dan tunduk kepada anak kandungnya sendiri. Seorang wanita yang harus rela melihat orang yang disukainya memiliki banyak selir. Sementara ia hanya menjadi pembantu yang kerap dipandang sebelah mata.

Ndoro Putri merenungkan nasib ibunya. Kepedihan teramat sangat yang dialami ibunya coba ia rasakan. Mengapa ibunya harus bernasib seperti itu. Mengapa ibunya harus menderita. Mengapa ia tak dapat menentukan nasibnya? Mengapa? Mengapa?

Ndoro Putri merasa hidup tak adil untuk dia dan ibunya. Tatkala dalam perenungan dan depresi yang amat mendalam itu, tumbuhlah benih-benih dalam dirinya untuk melawan system feodalisme yang selama ini mengungkung harkat dan martabat kaum wanita.

Kapada ayahnya, ia berpesan untuk mendatangkan ulama’ yang dapat membimbingnya untuk mengaji. Ndoro Putri pun mulai mengaji. Ia menjadi sosok muslimah yang rajin dan taat. Hingga sampailah ia di sebuah ayat dalam Al-Qur’an. “Minadz dzulumati ilan nuur”. Dari kalimat dalam Al-Qur’an inilah yang menginspirasi tulisan-tulisannya.

“Minadz dzulumati ilan nuur” yang mana dalam bahasa Indonesia sering kita kenal sebagai habis gelap terbitlah terang. Tulisan-tulisan inilah yang menjadi isi dari hatinya. Ia ingin sekali menentang sisem feodalisme. Walaupun saat itu ia masih belum bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan. namun ia memiliki semangat gigih untuk melawan.

Itulah kisah Ndoro Putri Kartini. Kisah yang melatarbelakangi perlawanannya terhadap system feodalisme. Sosok Kartini yang tak terima melihat ibunya sendiri menjadi pembantu dan diperlakukan semena-mena. Kisah yang jarang kita dengar.

Ya, Kartini adalah sosok muslimah yang dengan hatinya melawan sistem feodalisme yang mengungkung hidupnya, mengungkung hidup ibunya, dan mengungkung harkat dan martabat wanita pada umumnya. Seorang yang menjadi tokoh besar karena pemikirannya.

Iklan

Selalu Salah

Aku tak pernah melakukan segala sesuatu dengan benar. Apa yang aku lakukan selalu saja salah. Aku hanya ingin membuat orang bahagia. aku tak ingin membuat mereka susah. Tapi mengapa aku tak bisa.

Sejak kecil, ketika aku ingin bereksplorasi, mereka sering menyalahkanku. Mereka menyuruhku untuk tidak begini dan begitu. Aku pun tumbuh menjadi pribadi yang malas untuk melakukan apapun. Malas untuk begini dan begitu karena setiap aku mencoba begini dan begitu selalu ada kesalahan yang terjadi padaku. Padahal aku hanya ingin mencoba dan belajar, namun sepertinya setiap yang aku coba selalu merupakan kesalahan.

Seiring dengan pertumbuhanku, jadilah aku pribadi pemalas, acuh, tak peduli dengan orang lain, dan egois. Banyak sekali teman baik SD, SMP, dan SMA yang aku buat mati sebel kepadaku karena polahku. Aku tak bisa diam, sulit diam, namun gerakan yang aku lakukan tak pernah menjadi suatu hal yang penting. Setiap gerakan yang aku lakukan selalu salah, salah, salah. Ditentang, ditentang, ditentang. Aku pun tumbuh menjadi sosok yang tak peduli dengan pertentangan itu. Seolah aku melawan pertentangan itu namun sejatinya aku merasa tertekan dengan pertentangan itu.

Aku cuma ingin meluapkan uneg-unegku disini. Setelah lama terpendam. Aku ingin sekali menangis sekencang-kencangnya jika itu bisa membuatku menjadi lebih baik dan tak terus menerus disalahkan. Tapi aku tahu, itu tak sepenuhnya berhasil mengobati kegalauan hatiku.

Ya Allah, bukankah dengan mengingat-Mu hati menjadi tenang? Ya Allah, aku mencoba mengingat-Mu, mencoba mendekat pada-Mu. Ya Allah, bimbing hamba ke jalan yang Engkau ridhai. Aku ingin bisa membuat orang tersenyum bahagia. Aku tak ingin membuat mereka marah atau sebel bahkan sampai terluka. Ya Allah, tenangkanlah hati hamba ini, hamba hanya ingin menjadi hamba yang senantiasa lebih baik dari hari ke hari di hadapan-Mu. Ya Allah, hamba tahu Engkau Maha mendengar dan Maha Mengetahui apa yang ada dalamisi hati hamba. Mudahkanlah urusan hamba. Rahmatilah dan ridhailah jalan yang hamba tempuh. Hamba mohon Ya Allah. Aamiin. 

Kegalauan Per Semester

Sewaktu semester 1 dan 2, aku sibuk berorganisasi di kampus. Pergi dari pagi hingga petang. Sedikit waktu untuk mengaji. Sedikit waktu untuk belajar islam dan berislam. Sedikit pula waktu untuk mendekatkan diri pada Allah. Hati lebih sering dipenuhi kekalutan karena aktivitas beragam.  Walaupun aku melakukan semua hal itu karena ingin sekali mengharapkan rahmat dan ridha dari-Nya, namun tetap saja ada suatu ruang hampa di sudut hati terdalam.  Adakah yang salah Ya Allah dengan niatku dan aktivitasku?

Di awal semester 3 ini, aku ingin lebih banyak belajar. Lebih banyak belajar tentang ilmu agama-Nya, lebih banyak belajar untuk mendekatkan diri pada-Nya. Untuk sementara waktuku masih banyak yang longgar. Tugas kuliah pun belum terlalu banyak. Waktu masih dapat ku habiskan untuk lebih banyak mengkaji dan belajar. Semoga saja senantiasa istiqomah. Aamiin.

Semoga dengan aktivitasku yang baru ini, hatiku bisa menjadi lebih tenteram. Allah lebih mencintaiku sehingga berkenan memberikan rahmat dan ridha-Nya padaku. Aku harap begitu. Ya Allah, tunjukilah hamba-Mu ini ke jalan lurus-Mu. Aamiin.