Mozaik Kasih Ramadhan #14

Lidah tidak bertulang

Pantas ia mudah bergoyang

Tanpa takut tulangnya patah

Seringkali manusia berbicara cas-cis-cus. Mereka berbicara menggunakan seperangkat alat yang telah dianugerahkan oleh Allah, yaitu lidah, gigi, mulut, dan pita suara. Ketika alat tersebut bekerja berbarengan, keluarlah suara. Seperangkat alat yang berfungsi bersama inilah yang dikenal dengan istilah lisan.

Ngomong-ngomong soal lisan, tahukah bahwa lisan manusia begitu luar biasa? Lisan dapat mengangkat pemiliknya ke derajat yang tinggi di hadapan Allah. Yaitu ketika manusia menggunakan lisannya dalam perkara kebaikan semisal berdoa, berdakwah, membaca Al-Qur’an, belajar, dan mengajar. Namun lisan juga dapat menjerumuskan pemiliknya ke derajat yang amat rendah di hadapan Allah. Yaitu ketika manusia menggunakan lisannya dalam perkara yang tidak diridhai Allah semisal ghibah dan berbohong.

Bagaimana bisa?

Sebagaimana yang tertulis dalam surat Qaaf ayat 18, Allah berfirman,” Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” Tiap kata yang muncul dari lisan manusia akan dicatat oleh malaikat yang telah ditugaskan Allah. Kelak di yaumul Hisab, catatan malaikat diperlihatkan kepada manusia untuk ditimbang. Banyak manakah lisan kita berujar? Perkataan baikkah atau perkataan burukkah?

Keberadaan amalan ditulis sangat objektif oleh malaikat. Namun bukan berarti kalau tidak ditulis lantas Allah tidak mengetahuinya. Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui, tak ada satupun yang tersembunyi bagi-Nya. Hanya saja ditulisnya amal perbuatan untuk lebih menandaskan penegakan hujjah terhadap anak Adam. Kalau dianalogikan layaknya pengadilan di bumi, maka harus ada bukti otentik untuk menyatakan orang itu bersalah atau tidak, berhak masuk penjara atau tidak. Begitupun dengan pengadilan di akhirat kelak. Bedanya, pengadilan akhirat jauh lebih objektif dibanding pengadilan dunia yang tumpul ke atas dan runcing ke bawah. Di pengadilan akhirat, malaikat telah memiliki bukti-bukti otentik yang akan menentukan manusia berhak memperoleh rahmat Allah atau tidak.

Kebaikan dan keburukan sekecil dzarrah akan dibalas-Nya. Demikian halnya dengan perkataan yang keluar dari lisan manusia. Bermanfaat atau tidak? Menyakiti hati orang lain atau tidak? Memfitnah atau tidak? Gosip atau tidak? Semua dicatat oleh malaikat tanpa ada salah catat sedikitpun. Kemudian kelak akan dipublikasikan unuk dimintai pertanggungjawaban dan diberikan balasan yang setimpal.

 

Manusia seringkali lupa

Lupa untuk menjaga lisannya

 

Manusia seringkali lupa

Lupa akan ada hari yang amat besar

Yang kata orang kafir saat hari itu tiba

“Andai dulu mereka adalah tanah”

 

 

“Makanya, tin. Jaga lisanmu!” *getir

Mozaik Kasih Ramadhan #13

Umur itu sangat pendek masanya

Daripada untuk disia-siakan dalam Hari Perhitungan

Lebih baik manfaatkanlah waktu-waktunya

 

Waktu adalah sesuatu yang mudah untuk pergi. Ketika berlalu sebutlah ia masa lalu yang tak kan terulang kembali. Bahkan detik yang baru saja terlewati, saat aku mulai menulis catatan ini pun tak dapat ku ulangi. Padahal baru sedetik yang lalu tapi seakan sudah pergi begitu jauh. Bukan seakan lagi, tapi nyatanya memang telah pergi jauh. Untuk dijangkau sudah tak bisa. Waktu begitu cepat datang, lebih cepat saat pergi.

 

Kalau kata filsuf (anonim), “Waktu itu amat berharga bila kau sungguh menjaganya. Dan waktu adalah sesuatu yang paling mudah hilang darimu.”

 

Entah apa yang telah aku lakukan kemarin? Entah apa yang telah aku lakukan tadi? Bermanfaatkah?

 

Hari-hari yang ku lalui di bulan Ramadhan ini memberikanku banyak sekali waktu luang. Jauh berbeda ketika berada di perantauan yang hampir susah menemui waktu luang. Aku berharap, waktu luang ini tak menjadikanku bagian dari orang-orang yang tertipu di dunia. Karena katanya (lupa kata siapa), orang yang tertipu di dunia adalah orang-orang yang Allah beri kesehatan dan waktu luang tapi tak digunakan untuk perkara yang bermanfaat bagi dirinya. Naudzubillahi min dzalik.

 

Di bulan ramadhan ini, tak sepantasnya aku menodainya dengan kefuturanku. Layaknya teman-teman yang lain, mereka berusaha meraih Lailatul Qadar, sedangkan aku? Oh, setan, kau berhasil merayuku. Oh, tidak, tidak, kau tak boleh. Bukankah selama Ramadhan kau di rantai? Mengapa kau masih menggodaku? Oh, pergilah. A’udzubillahiminasysyaithanirrajiim.

 

“Ayo, tin, charge kembali iman dan semangatmu!”

Mozaik Kasih Ramadhan #12

Setelah puas bermain, seorang anak akan kembali pulang ke rumahnya.

Setelah menyelesaikan pekerjaan di kantornya, seorang ayah akan pulang ke rumahnya.

Setelah menyelesaikan studi di negeri rantaunya, seorang perantau akan kembali pulang ke kampung halamannya.

Bahkan, seekor semut pun akan kembali pulang ke sarangnya setelah memperoleh makanan.

Semua makhluk akan kembali pulang ke asal mulanya.

 

Pulang adalah kembali. Setelah bepergian, kita akan kembali ke rumah. Pun setelah perjalanan panjang semasa di dunia, kita akan kembali kepada Sang Pemilik Jiwa.

Adakalanya kita tersesat saat menempuh perjalanan panjang dalam babak kehidupan. Lalu apa yang harus kita lakukan? Katakan peta. Saat kita tersesat maka jalan satu-satunya adalah bertanya pada peta.

Peta sebagai penunjuk arah. Kemana tapak kaki ini harus melangkah telah ditunjukkan oleh peta. Ketika jiwa kita tersesat, penuh sesak dan galau, lalu kita ingin kembali ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diliputi rahmat, maka bacalah peta, yaitu AlQur’an dan Hadist. Disana telah tertulis secara jelas jalur mana yang harus kita tempuh dan jalur mana yang harus kita hindari agar tak tersesat.

Kalau peta mengatakan berzina adalah dosa, ya jangan berzina. Kalau peta mengatakan berjilbab itu wajib, pakailah jilbabmu. Kalau kata peta sabar, ikhlas, dan tawakkal adalah jalan menuju keselamatan, ikutilah.

Sungguh merugi bagi orang-orang yang peta sudah di tangan namun masih saja tersasar. Petanya tak pernah dibaca, tak pernah dipelajari, sehingga tersesat. Jangan salahkan Pemilik peta jika tak peduli lagi terhadap kita karena membaca peta-Nya saja kita enggan dan malas-malasan. Ketika Allah sudah tak peduli lagi terhadap kita, tak ada sesuatu pun yang dapat menolong kita. Malang dan terlunta-lunta dalam kebimbangan dan kegelapan. Na’udzubillahi min dzalik.

Seringkali dalam perjalanan panjangnya, baik manusia itu masih berada di jalan yang tersesat atau sudah berada di jalan yang lurus, secara tiba-tiba, suka tak suka, Allah akan menyeret kita pulang. Nafas kita berhenti seketika. Sementara nafas berhenti dan kita masih tersasar di jalan, ironis kan?

Mumpung masih diberi kesempatan melakukan perjalanan di muka bumi, segeralah putar haluan, kembali kepada jalur keselamatan yang telah diterangkan secara jelas oleh peta.

Hati nurani saya berkata,”makanya baca, Tin! Baca tuh Al-Qur’an!”

Mozaik Kasih Ramadhan #11

Aku tertegun ketika ada yang menanyakan komitmenku terhadapmu. Mungkin aku belum bisa menjadikanmu yang pertama dan yang utama. Saat ini aku masih menjadikanmu yang ke-2, kadang kala bahkan yang ke-3. Mungkin karena aku belum sepenuhnya mencintaimu.

Awalnya aku diajak seseorang untuk mengikutimu. Ucapan terimakasihku sungguh tak terkira pada orang yang mengajakku untuk mengikutimu. Kala itu perkenalan pertamaku denganmu. Aku merasa sangat bahagia dipertemukan Allah denganmu.  Dan perkenalan itu terus berlanjut hingga sekarang. Kadang aku merasa menyesal sekali, mengapa tidak dari dulu aku mengenalmu? Mengapa tidak dari dulu aku berjuang bersamamu? Mengapa baru sekarang? Penyesalanku mungkin tak berguna. Masa lalu tak dapat diulang kembali. Aku tak punya Doraemon yang dengan mesin waktunya dapat mengantarku ke masa lalu. Itu tak penting. Terpenting, kini aku bersamamu. Iya kan?

Setelah pertemuan pertama kita dulu, aku hampir saja melupakanmu. Lalu aku mencoba untuk mengikutimu kembali hingga tibalah pertemuan itu, pertemuan kedua kita. Di sana aku merasa bahagia, tentram, dan nyaman. Kemudian aku putuskan untuk menemui ketiga kalinya. Di pertemuan ketiga inilah aku semakin mengenalmu. Aku semakin tahu siapa kamu sebenarnya, untuk apa kamu ada dan mengapa kamu harus ada.

Mungkin komitmenku untuk membersamaimu tak seberapa jika dibanding mereka yang telah lama berjuang bersamamu. Pengetahuanku masih minim tentangmu walaupun aku sudah berusaha kepo-in kamu. Mungkin masih kurang kepo kali ya? Jika dibandingkan dengan mereka yang sudah banyak mencicipi manis asin asem pahit kecut bersamamu, seolah ilmuku tak sebanding. Tapi tak apa, aku belajar, mereka juga belajar. Kita semua belajar. Belajar demi menggapai ridha Sang Maha Pemberi Rahmat.

Sebelumnya aku minta maaf jika adakalanya aku menduakan atau menigakanmu untuk berdiri di barisan yang lain. Itu bukan karena aku tak totalitas berjuang denganmu. Bukan demikian. Walaupun aku tak dalam barisanmu tapi bukankah tujuan kita masih sama?

Maaf pula jika aku tak sengaja mengabaikanmu. Aku bilang ingin membersamaimu namun aku malah mengabaikanmu. Maaf. Bukan aku tak amanah. Aku hanya manusia yang sering lalai. Kau tak perlu sungkan untuk menegurku jika aku melakukan kesalahan. Aku akan berusaha untuk tidak mengabaikan amanah ini (InsyaAllah). Aku akan berusaha sekuat-kuatnya usahaku. Doakan aku ya, agar senantiasa menjadi orang yang amanah.

Mungkin saja suatu saat aku bisa berpaling darimu. Aku tak tahu bagaimana perasaanku kelak terhadapmu. Apakah perasaan ini masih sama ataukah berubah kelak? Aku berharap rasa cintaku maupun rasa tak cintaku padamu semata karena Penciptaku. Namun kalau kau mempertanyakan bagaimana perasaanku kini terhadapmu, sungguh aku bingung mengutarakannya. Yang aku tahu, orang-orang itu sudah aku anggap kakak, guru, dan saudara yang berharga bagiku. Aku ingin berjuang bersama mereka. Episode manis pahit asam asin kecut nano-nano senantiasa ada di setiap masa. Dulu aku telat merasakan nano-nano bersamamu. Memang, aku telat tapi aku percaya aku belum terlambat. Maka biarlah kini aku menyusun sketsa nano-nano itu dalam jejak langkahku bersamamu dan mereka.

Walaupun tak utuh, penuh rasa nano-nano.

Aku ingin mengeja cintaku padamu walaupun tak sempurna.

Karena Dia, aku mencintaimu dan pejuang di barisanmu

Mozaik Kasih Ramadhan #10

Malam yang penuh pertukaran pendapat. Ada yang terlihat sedang menjelaskan dan ada yang bertanya. Kemudian disusul pertanyaan dari yang lainnya. Lalu terjadilah apa yang terjadi. Sharing yang panjang.

Di sudut yang lain, terlihat bocah kecil yang sedang berusaha keras memahami pembicaraan orang-orang dewasa di hadapannya. 10 menit, 20 menit, hingga 30 menit berlalu. Ia sedikit memahami apa yang orang dewasa perbincangkan. Ia menatap lekat-lekat wajah mereka satu persatu. Seolah menatap dengan wajah penuh tanya. 1 jam telah terlewati, kini ia mulai bosan karena tak begitu mengerti apa yang orang dewasa perbincangkan.

Bocah kecil mulai mencoret-coret kertas yang ada di mejanya. Ia mulai menggambar sesuatu. Ia terlihat akan menggambar pohon. Rupanya benar, ia sedang menggambar pohon yang besar. Pohon itu tumbuh sendirian di antara padang rumput yang luas. Nampak guratan tebal dan tipis yang mulai tak menentu di atas kertas. Ia kembali bosan. Oh ya, bocah kecil ini memang mudah sekali bosan. Ia sangat sulit untuk diam. Badannya suka bergerak-gerak. Sungguh, sangat susah diatur.

Sementara orang dewasa di hadapannya masih sibuk dengan perbincangan mereka yang makin lama sepertinya kian menarik versi orang dewasa. Namun bagi bocah ini, ia merasa hidup di alam lain. Ia tak mengerti. Mungkin lebih tepatnya, enggan untuk mengerti. Namun ia masih berusaha untuk terlihat mengerti. Ia mencoba untuk menyambungkan koneksi pikirannya terhadap apa yang mereka bicarakan, namun karena ia memakai modem yang lemot, koneksinya pun terputus-putus. Ia kembali tak mengerti.

Bocah kecil putus asa. Ia kembali menggambar. Kini ia sambil menikmati teh hangat dan snack yang disuguhkan di depannya. Paling tidak, makanan itu berhasil membuatnya kembali bersemangat. Ia lalu memegang alat tulisnya kembali. Ia memutuskan untuk kembali menggambar. Walaupun begitu, ia masih berusaha mengfungsikan telinganya untuk mendengar pembicaraan orang dewasa di hadapannya. Ia terlihat mengfungsikan seluruh inderanya. Telinganya mendengar, tangannya menggambar, kakinya bergerak-gerak, matanya menerawang, dan pikirannya melayang.

“Sesuatu yang wajar, ketika orang pintar bertemu dengan sesama orang pintar, kemudian mereka saling bertukar argumen yang ujung-ujungnya tak ada ujung. Pantas saja kalau petinggi di atas sana susah untuk menetapkan kebijakan. Selalu saja ada adu pikir antara orang pintar.” Bocah kecil mencoba untuk paham. Ia masih sibuk dengan setengah dunianya dan setengah dunia yang lain.