Mozaik Kasih Ramadhan #9

Kau mengajariku tentang hakikat tawadhu’. Aku kagum. Kadang senyum itu mempesonaku begitu dalam. Menyentuh relung hatiku. Terlalu dalam dan lama dalam renungan.

Aku dengan sifat kekanak-kanakanku yang selalu merepotkan. Rasanya terlalu berlawanan denganmu. Sikapmu yang dewasa dan penuh pengayoman. Meneduhkan hati dan jiwaku. Trenyuh.

Bayangan bodoh ini tiba-tiba terlintas dan lebih bodoh lagi aku ingin menulisnya. Hal yang aneh dari orang acuh ini. Entahlah, pikiran aneh yang tiba-tiba terlintas dari sosok yang cenderung innocent dan susah diatur.

Kalaupun aku bukan satu-satunya isteri dari suamiku. Aku berharap kau atau orang sepertimu yang akan menjadi isteri suamiku.

Oke, pertama jodoh memang sudah ada yang mengatur. Dengan lugunya, saking terpesonanya aku berpikiran seperti itu.  Mengharap dia menjadi istri suamiku. Dengan kata lain berharap suamiku poligami. Dalam hal ini aku tak ambil pusing mau jadi istri pertama atau kedua asalkan dia menjadi istri suamiku dan menjadi kakakku. Lalu kami bersama-sama saling bahu membahu dalam menggapai surga Ilahi. Terlalu idealis mungkin. Tapi pmikiran ini terlintas sejenak. I don’t know, why? Mungkin, aku terbius pesonamu.

Kedua, memangnya suamiku siapa? Kembali lagi bahwa jodoh di tangan Allah. Manusia tak ada yang tahu. Hati pun milik Allah. Allah yang Maha membolak-balikkan hati. Pun kalau suatu saat pemikiran ini berubah kan bisa saja. Seiring pendewasaan manusia.

Pun mencoba realistis. Melihat fenomena yang terjadi saat ini, perbandingan antara lelaki dan wanita adalah 1:3. Wanita lebih banyak 3 kali lipat dibandingkan lelaki. Jika 1 lelaki memperoleh 1 wanita, lalu bagaimana nasib 2 wanita  yang lain? Aku mengasihi saudariku. Mungkin bisa jadi aku menjadi 1 orang yang beruntung itu, namun bisa jadi pula aku menjadi 2 orang yang tak beruntung itu. Who knows?  

Mungkin pembahasan ini terlalu jauh, mengingat aku yang masih muda belia telah memikirkan hal semacam itu. Yang ada dibenakku kini, aku mengagumi kakak itu. Aku yang tidak suka menjadi kakak, aku yang lebih suka menjadi adik, ingin senantiasa bersama kakak. Ingin dibimbing dan diayomi kakak.

Sekali lagi, ini hanya pemikiran sepintas. Allah-lah yang membolak-balikkan hati manusia.  Damai. 

Iklan

Mozaik Kasih Ramadhan #8

Manusia terlahir di dunia dengan keunikannya masing-masing. Dari keunikan yang berbeda itu, apakah manusia akan menyikapinya dengan mengganggapnya sebagai jarak yang membuat perselisihan? Ataukah menganggapnya sebagai warna yang berlainan yang membuat pelangi menjadi lebih indah? That’s a choice.

Apakah unik juga berarti sifat buruk yang berbeda-beda yang ada pada diri manusia? Kalau iya, berarti kata ‘unik’ memiliki dua definisi, bisa unik dalam artian positif maupun negatif. Tiap manusia unik, berarti tiap manusia membawa benih kejelekan dan kebaikan yang tersimpan dalam dirinya. Kemudian lingkunganlah yang berperan dalam menumbuhkembangkan benih itu. Benih mana yang lebih berkembang biak dalam diri manusia tergantung lingkungan. Jika benih-benih itu tertanam dalam lingkungan yang buruk, daya adaptasi benih kejelekan akan lebih cepat. Pertumbuhannya pun akan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan benih kebaikan.

Hal ini bertentangan dengan teori tabularasa yang menyatakan manusia terlahir bagaikan kertas kosong. Bersih putih belum terwarnai. Belum ada tulisan satupun yang menggores kertas putih itu. Seiring pertumbuhan manusia menjadi dewasa, kertas itu mulai banyak coret-coretan yang digoreskan lingkungannya. Tak hanya warna putih yang terlihat tapi mulai berwarna-warni. Dari lingkunganlah, kepribadiannya terbentuk dan diwarnai. Teori ini mengabaikan adanya benih positif dan negatif dalam diri manusia. Sehingga yang membuat manusia unik bukan benih dalam dirinya, melainkan warna lingkungan yang membentuknya.

Ah, selalu saja manusia. Mereka terlalu berpikir jauh hingga lupa akan hakikatnya. Apapun teori yang dibahas, apapun teori yang dikuliti sampai dasar, manusia tetaplah manusia, dengan segala keterbatasan pemikirannya.

Ketika manusia tak berpikir, ia tak akan tahu sampai mana batas pemikirannya itu. Biarkanlah manusia berpikir sebebas-bebasnya. Biarkanlah ia menelaah sendiri sampai mana kemampuan otaknya. Mengapa harus dibatas-batasi? Bukankah cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada? Jika manusia tak berpikir, ia tak akan pernah tahu apa-apa. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini bukankah karena pemikiran-pemikiran manusia pula?

Bukannya manusia tak boleh berpikir, namun sudah sewajarnya pemikiran itu harus dibatasi. Mana yang boleh ia pikirkan dan mana yang tidak boleh ia pikirkan. Manusia yang percaya kebenaran agama, percaya dengan kebenaran kitab suci pegangannya, membatasi pikirannya dengan keyakinannya agar tak terlalu berpikir liar.

***

Manusia terlalu banyak bertanya dan mengada-adakan pertanyaan. Misal berbicara tentang keunikan manusia saja sampai melebar kemana-mana. Mengapa manusia itu unik? Apa yang membuat manusia unik? Keunikan manusia itu bawaan atau tercipta dari lingkungan? Mengapa demikian? Mengapa?

Pada hakikatnya, bukan tentang mengapa manusia bisa unik melainkan bagaimana yang harusnya manusia unik lakukan? Berpikir ke luar dari kulitnya, tak hanya terpaku pada bagian dalamnya. Layaknya memasuki gua yang gelap, semakin masuk ke dalamnya tanpa penerangan, maka hanya bisa meraba-raba untuk menemukan jalan keluar. Berbeda  dengan menyalakan obor di gua yang gelap, tak susah untuk meraba. Hanya tinggal berjalan dengan perhitungan untuk menemukan jalan keluar dengan lebih mudah.

***

Manusia yang unik. Dengan segala keunikanmu, jadilah manusia yang berharga dengan segala kebaikanmu. Berproseslah untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Kadang tak perlu terus-terusan bertanya ‘mengapa’. Cobalah bertanya ‘bagaimana’. Bagaimana menjadi lebih baik untuk kemudian menyinari sekeliling? Layaknya matahari yang menyinari sekitarnya dengan cahayanya.

Berproses menjadi baik memang tak mudah. Namun bukan berarti tak mungkin menjadi baik. Cangkir saja butuh waktu lama untuk dirinya menjadi cantik. Mulai dari proses pemilihan, pemilinan, penempaan, hingga ia harus dibakar. Kemudian ia diglasir sampai menjadi cangkir yang cantik. Ia harus menempuh proses yang panjang, padahal ia hanya cangkir. Apalagi manusia, makhluk yang lebih sempurna dibanding cangkir. Ketika harus menjalani proses yang lebih menyakitkan dibanding cangkir, rasanya itu sesuatu yang adil.

Namun begitulah manusia. Mereka senantiasa mengeluh akan takdir. Dengan asal mengajak lidahnya yang justru memperparah. Manusia seringkali lupa, Tuhan senantiasa menguji hamba-Nya untuk tahu sampai mana kecintaan mereka pada-Nya

Bahkan untuk menjadi cangkir yang cantik pun butuh proses amat panjang. Terlebih menjadi manusia yang cantik dihadapan-Nya, akan lebih panjang.

 

Mozaik Kasih Ramadhan #7 Bocah Gigi Kelinci

Bocah kecil bergigi kelinci mendatangiku. Wajahnya yang lugu membuatku betah untuk memandanginya lama. Dia tersipu malu.

Aku mengajarinya alif, ba ,ta, dia mendengarkanku dengan khusyu’. Kian hari ia kian lancar membaca. Kadang aku mendengarkannya masih belepotan dalam mengeja aksara. Semangatnya sungguh luar biasa.

Dengan gaya anak kecilnya yang masih polos dan lugu, ia berjalan dari rumahnya menuju ke masjid. Diawali dengan ta’awudz, kini ia mulai membaca dengan lancar. Ia sudah tidak terlalu terbata-bata lagi layaknya dulu.

Teringat waktu dulu kami mengadakan lomba kecil-kecilan, ia berhasil menyabet juara pertama. Ia berhasil mengungguli teman-temannya yang umurnya lebih tua dari padanya. “Anak yang cerdas”, pikirku. Banyak sudah surat-surat Al-Qur’an yang telah ia hafalkan padahal ia masih kecil. Mungkin jika dibandingkan dengan anak-anak di Palestina, ia terlihat biasa. Namun, disini, di Indonesia, bagiku itu luar biasa ketika seorang anak dengan usianya yang masih belia, sudah mampu menghafal beragam surat-surat yang ada di kitab suci pegangannya.

Tadi malam, sewaktu shalat tarawih, aku melihatnya. Ia berdiri di barisan yang kedua mengisi cela-cela shaf yang renggang. Ia shalat dengan khusyu’nya. Di saat bocah-bocah seumurannya sibuk bermain dan berlari-larian di masjid ketika orang dewasa melaksanakan shalat, ia tak melakukan hal yang serupa seperti temannya. Layaknya orang dewasa, ia berdiri dengan gagahnya, mengisi celah yang kosong untuk merapatkan dan merapikan barisan, kemudian mengangkat tangan sambil bertakbir, “Allahu akbar”. Di saat bocah-bocah yang lain shalat tarawih hanya beberapa rakaat saja bahkan ada pula yang tidak tarawih, dia tidak, dia berhasil menuntaskan tarawihnya hingga rakaat yang terakhir. Bocah kecil yang polos, seolah tampak dewasa dalam shalatnya.

Bocah kecil bergigi kelinci, kelak jika sudah besar jadilah orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Sungguh, ini bukan doa sembarang doa. Karena Indonesia butuh banyak bocah kecil bergigi kelinci sepertimu. 

Mozaik Kasih Ramadhan #6

Ryuza, aku mengagumimu. Bagaimana tidak? Kau begitu tangguh. Semburat keihlasan terpancar dalam rona wajahmu yang teduh. Sungguh, aku ingin senantiasa memandang rona wajahmu yang senantiasa menyejukkan hatiku.

Kau begitu gagah dengan langkahmu. Aku ingin menuntunmu, namun kau tak butuh dituntun. Aku putuskan untuk menggandengmu. Kita berjalan bersama bergandengan tangan, itu impianku.

Ketika kau terpuruk sendiri, kau pun masih dapat berdiri dengan kakimu sendiri. Di saat yang lain tertatih, kau tidak, ku rasa. Karena kau tak pernah sendiri. Selalu ada dia bahkan mereka yang selalu menarikmu untuk tegak berdiri.

Kau tak pernah dapat upah dari peluh yang kau hasilkan. Namun lembaran kertas itu bukanlah tujuanmu. Rasa-rasanya kau tak pernah mengharapkannya. Aku ragu kau pernah memikirkannya. Kau hanya tahu, semua itu kau persembahkan untuk Tuhanmu. Begitu ikhlas kau, Ryuza. Begitu khusyu’ dengan ketawadhuanmu.

 Kini, aku tak perlu melihatmu dari jauh. Kini, aku telah ada di dekatmu. Aku turut membersamai derap langkahmu. Aku bahagia dapat menjadi bagian dari hidupmu, yang turut menjadi serpihan mozaik kehidupanmu.

Ryuza, kini, pegang eratlah tanganku. Jangan kau lepas agar aku tak jatuh. Kalaupun aku tersandung, berjanjilah untuk senantiasa ulurkan tanganmu. Agar aku tak terjerambab lagi dan jatuh.

Kaki ini telah memilih membersamai  langkahmu.

Tak hanya kaki, hatiku pun telah memilihmu.

Mozaik Kasih Ramadhan #5

Ila menyalakan TV melalui layar HP-nya yang mungil. Dari channel satu ke channel yang lain tak ada yang menarik hatinya. Hingga tibalah di salah satu tayangan sinetron remaja yang berkisah seputar dunia pesantren. “Tonton bentar ah, siapa tahu dapat menambah khazanah ilmu,” pikirnya.

 Ibu dan anaknya yang kecil terlihat menuju ke arah pesantren putri. Mereka ingin bertemu dengan (sebut saja) Ana.  Lalu (sebut saja) Ari (lelaki yang menyukai Ana) segera menghampiri mereka. “Saya Ari, Bu, anak dari pemilik pondok, teman dekatnya Ana.” Dia mencoba memperkenalkan dirinya kepada ibunya Ana. Tak lama Ari segera ditarik Ira (salah satu santri) yang tak suka melihat Ari berdekatan dengan keluarganya Ana.

Tibalah pertemuan antara Ibu dan Ana serta adiknya. Ana ternyata mengalami kecelakaan yang membuat kakinya lumpuh. Ibu dan adik kaget. Tapi Ana mencoba menabahkan hati ibunya bahwa semuanya cobaan dari Allah, manusia harus bersabar. Betapa beruntungnya Ibu memiliki anak sebaik, setabah, dan secantik Ana. Sosok yang sempurna.

Pertemuan yang mengharukan itu tiba-tiba menjadi tegang. Datanglah seorang nenek pemilik pesantren mengusik ketentraman Ana dan Ibunya.

“Cepat bawa anak kamu pergi dari pesantren ini! Dia itu suka menggoda cucuku. Dia itu nggak selevel sama cucuku.”

“Astaghfirullah. Saya nggak pernah seperti itu.”

“Halah, itu kan mulutmu. Kenyataannya kan tidak.”

Sang ibu tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu. “Cucumu memang tak pantas untuk putriku. Putriku berhak mendapat yang lebih baik. Putriku tidak akan mendapat cucumu. Cucumu tidak ada apa-apanya dibanding putriku.”

“Cucuku itu lebih baik daripada anakmu. Anakmu yang nggak pantas. Pegang ya kata-katamu tadi. Awas kalau anakmu itu menggoda cucuku lagi!”

Ila muak. Ia segera mematikan TV-nya.

***

Tayangan TV masa kini tak jauh-jauh dari kisah klasik seperti di atas. Kisah orang tua yang tidak setuju dengan pilihan anaknya karena strata sosialnya lebih rendah.  Kisah percintaan saling rebutan pacar. Macam-macam kisah pembodohan lainnya. Banyak yang sudah bosan dengan kisah-kisah semacam itu tapi tak bosan televisi menampilkan tayangan seperti itu. Semacam program pembodohan dengan menayangkannya berulang-ulang sehingga menjadi sesuatu yang dianggap kebenaran.

Miris lagi ketika tayangan seperti itu diberi label islam untuk membungkusnya. Seolah-olah seperti itulah islam. Sebuah tontonan yang justru mencoreng islam itu sendiri.

*ini pun subjektif