Baitussalam: Cerdas Akhlak dan Pikiran

Judul tulisan kali ini adalah jargon TPA Baitussalam. Jargon ini baru dibuat saat lomba sih. Harapannya jargon ini dapat menjadi motivasi ekstrinsik bagi adik-adik TPA. Lalu apa hubungannya dengan tulisan kali ini?

Sebenarnya, dalam tulisan kali ini, Atin hanya ingin sedikit bercerita tentang lomba TPA tadi pagi. Oke, mari, silahkan disimak. ^_^

Acara lomba TPA Baitussalam dipersembahkan oleh dusbin SKI PGSD/PGPAUD guna mengevaluasi seberapa besar pemahaman adik-adik TPA baitussalam dalam belajar.

Kira-kira pukul setengah 9 lomba dibuka. Adik-adik sudah berkumpul di masjid Al-Furqan, masjid yang ada di kampus PGSD/PGPAUD. Jumlah mereka ada 7, yaitu Rona, Zufal, Hani, Salsa, Risky, Putri, dan Ria. Sedangkan dari pembimbingnya ada 8, yaitu Mas Putra, Mbak Latifah, Winda, Eni, Eli, Ida, Maya dan Atin. Mereka sudah tidak sabar untuk segera berlomba. Ketika Winda membacakan tata tertib lomba, mereka sudah berteriak-teriak “Ayo mbak, cepat. Segera lomba!”. Betapa antusiasnya mereka.

Ada beberapa perlombaan antara lain hafalan surat, hafalan doa, wudhu, shalat, LCC dan kaligrafi. Atin bertugas menjadi juri hafalan surat. Selama menyimak bacaan dari adik-adik, alhamdulillah santri baitussalam sudah cukup lancar dalam menghafal. Ada 5 surat yang diujikan yaitu An-Nas, Al-Falaq, Al-Kafirun, Al-Fiil, dan Adh-Dhuha. Kebanyakan mereka kesulitan dalam menghafal adh-dhuha, karena menurut mereka suratnya terlalu panjang .

Jika dibandingkan dengan anak-anak kecil yang ada di palestina yang sejak kecil sudah menjadi hafidz/hafidzah, anak-anak Indonesia memang kalah jauh. Rumput tetangga memang akan selalu terlihat lebih hijau jika kita selalu meyalahkan keadaan. Padahal, setiap negara memiliki cobaannya masing-masing. Palestina yang dicoba oleh Allah dengan gempuran perang oleh kaum Yahudi, dan Indonesia yang dicoba oleh Allah dengan krisis moral. Masing-masing ada cobaannya sendiri, dan Allah Maha Mengetahui kemampuan hamba-Nya dalam menghadapi cobaan.  Semoga saja, bangsa Indonesia dapat mengatasi cobaan ini. Indonesia yang lebih baik di masa depan. Bangsa yang bermoral dan berakhlak mulia.

Kembali ke lomba TPA baitussalam. Adik-adik dengan gayanya masing-masing yang unik dan khas serta susah untuk diam, selalu membuat kami tertawa bahagia. Polah mereka lucu-lucu. Selalu ada saja guyonan-guyonan dari mereka. Walaupun kami Akui kadang mereka agak menjengkelkan, namun itu wajar bagi kami karena mereka masih kecil. Disinilah peran kami diuji untuk menjadikan mereka anak yang shalih/shalihah. Semoga. Aamiin.

Lomba ditutup dengan dongeng dari Mas Putra dan pengumuman juara. Juara 1 adalah Rona. Juara 2 Zufal. Dan juara 3 adalah Risky. Adik-adik yang tidak memperoleh juara terlihat agak kecewa. Semoga dengan adanya lomba ini dapat menjadi pemantik adik-adik untuk semangat belajar. Tak hanya adik-adik yang belajar, namun kami juga turut belajar. Semua sama-sama belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Ya Allah, semoga apa yang hamba lakukan ini dapat menjadi pemberat amal kebaikan hamba kelak di yaumul qiyamah. Ya Allah, ridhailah selalu langkah hamba untuk menuju cinta-Mu. Aamiin.

Solo, 19 Mei 2013

Atin Chusniyah+Ustadz/ah Baitussalam dan Adik-adik TPA Baitussalam dengan cinta karena Allah. ^_^

Iklan

My Heart #24 Kontras

CFD di Sriwedari selalu ramai dengan hiruk-pikuk manusia beraktivitas di pagi hari. Namun minggu itu tak seperti biasanya. Hari itu, Project Pop tampil di atas panggung sriwedari. Orang-orang memenuhi jalanan. Jalan penuh sesak. Aku dan temanku harus menembus kerumunan itu untuk menuju lokasi tujuan kami. Mau tak mau kami harus ikut berdesak-desakan. Saat itu, kami membawa sepeda, jadi agak susah untuk menerobos kerumunan orang. Project Pop menyanyikan hampir 3 lagu, namun kami masih belum bisa keluar dari jejalan massa itu. Jalanan benar-benar padat dan kami terjebak di tengah-tengah. Mau tidak mau pula, kami harus menikmati lagu-lagu yang dibawakan Project Pop. Orang-orang didepanku melompat-lompat dengan asiknya menirukan gaya sang idola. Akhirnya di lagu yang keempat kami berhasil lolos dari jebakan kerumunan itu. Alhamdulillah.

Kami segera melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari tempat menonton Project Pop, ada aksi yang dilakukan oleh kelompok islam dengan tema “cinta muslim sedunia”. Itulah sebenarnya tujuan kami. Hari itu, aku mengantar adik-adik  TPA-ku melakukan aksi jalan kaki dari sriwedari hingga ke gladak. Adik-adik TPA-ku dan beberapa temanku sudah tiba terlebih dahulu di lokasi. Aku hanya tinggal menyusul. Sebelum berangkat (jalan kaki dari sriwedari-gladak), adik-adik kecil duduk bergerombol sesuai TPA-nya masing-masing kemudian mendengarkan orasi dalam bahasa Arab lalu di-translate ke bahasa Indonesia. Mungkin bagi para ustadz/ustadzah-nya, itu merupakan suatu hal yang hebat karena bisa melihat langsung seorang Syaikh dari Timur Tengah berorasi. Sedangkan bagi adik-adik kecil ini, entah mereka paham atau tidak, tanpa protes mereka turut mendengarkan.

Waktu itu aku mencoba bertanya pada salah seorang adik TPA-ku, “Dek, kamu tahu nggak ini acara apa?”. Dengan polosnya mereka menjawab, “Jalan-jalan”. Mereka tak tahu kalau ini adalah aksi solidaritas. Memang banyak sekali spanduk-spanduk dan ikat kepala yang bertuliskan “cinta muslim sedunia”. Namun banyak pula adik-adik yang tak paham maksudnya. Kecuali jika sebelumnya ustadzahnya telah memberitahunya. Anak-anak belum bisa memahami sesuatu yang abstrak. Mereka tak akan tahu maksud dari aksi itu jika dari awal tak diberitahu. Mereka hanya tahu, itu adalah acara jalan-jalan. Sederhana dan mereka bahagia bisa jalan-jalan.

Aksi solidaritas ini sering aku lihat disiarkan oleh beberapa situs online. Namun situs-situs itu tak pernah membahas hal yang berbeda bahkan berlawanan yang letaknya tak jauh dari lokasi aksi. Para muda-mudi Indonesia yang bergerombol menyaksikan konser Vs para anak kecil yang bergerombol menyatakan dengan polosnya “aku cinta muslim sedunia”.

Para pemuda, mulai dari remaja hingga dewasa turun ke jalan memenuhi konser Project Pop. Sedangkan tak jauh dari konser itu, ada aksi solidaritas muslim yang dihadiri oleh anak-anak kecil TPA se-Solo Raya.  Aku bahagia melihat adik-adik kecilku berkumpul melakukan aksi yang menyatakan bahwa mereka mencintai muslim seluruh dunia, tanpa membedakan golongan, ras, bangsa, dan bahasa. Namun disisi lain, aku prihatin melihat kondisi pemuda Indonesia yang lebih senang melonjak-lonjak melihat konser.

Timbul suatu pertanyaan, “Apakah adik-adik kecil itu, kelak saat remaja masih seperti itu? Atau akankah mereka berubah menjadi seperti yang itu?” Itu. Itu yang mana yang akan dipilih?

My Heart #23 Sebagian, Tidak Semua

Sebagai warga UNS yang tersisihkan dari kampus pusat, terkadang ada rasa kecemburuan sosial dari warga kampus bagian terhadap warga kampus pusat. Ada orang yang berada di kampus bagian, pernah berkata, “Aku merasa menjadi mahasiswa prodi X, namun aku tak merasa menjadi bagian dari mahasiswa UNS.”

Bisa jadi, seorang mahasiswa berkata demikian karena mengunjungi kampus pusat pun bisa dibilang jarang. Umumnya alasannya ada tiga hal. Pertama, karena jauh. Kedua, karena malas. Ketiga, karena memang tak ada kepentingan. Biasanya, rasa ketidakpemilikan itu muncul disebabkan kurangnya interaksi. Mahasiswa yang demikian mungkin akan lebih baik jika minimal seminggu atau dua minggu sekali menyempatkan waktu untuk mengunjungi kampus pusat. Sekedar melihat-lihat keadaan atau keperluan lainnya guna menumbuhkan rasa menjadi bagian dari mahasiswa UNS.

Ada pula sebagian, karena tak semua, yang berpendapat bahwa, mahasiswa kampus pusat itu egois. Seperti hidup sendiri-sendiri dalam botol. Dilihat dari sudut pandang yang mana nih? Jika ia baru pertama kali atau jarang pergi ke kampus pusat lalu tiba-tiba men-judge seperti itu, kemungkinan penilaian itu benar relatif kecil. Mungkin orang yang ia temui seperti itu, tapi tak bisa digeneralisir bahwa semua mahasiswanya seperti itu. Ini pandangan sebagian dari mahasiswa yang jauh dari kampus pusat. Hanya sebagian saja sih, tak semua berpikiran sama.

Sebagai mahasiswa yang paginya di kampus bagian dan sorenya sering di kampus pusat, aku menyadari memang ada perbedaan antara keduanya. Bukan perbedaan ini yang akan aku usik. Namun bagaimana dari perbedaan ini kita berusaha saling menghargai. Bukan malah men-judge buruk orang lain. Apalagi menggeneralisir perbuatan buruk satu orang dengan mengimbaskannya ke orang-orang yang terkait.

Acapkali, kuman diseberang lautan tampak namun gajak dipelupuk mata tak tampak.

My Heart #22 Helm Pendingin

Bumi ini semakin panas. Banyak rumah-rumah yang memasang AC untuk mendinginkan rumah. Jika uangnya tak cukup, membeli kipas angin dirasa sudah cukup.

Namun, ketika di jalan raya, AC sudah tidak dapat lagi diandalkan. Kecuali ketika kita mengendarai mobil ber-AC. Tapi, ketika naik sepeda motor, apa yang harus kita lakukan untuk membuat suasana menjadi tidak panas dan sumpek lagi?

Helm pendingin, sebuah terobosan baru untuk menyejukkan kepala saat di jalan raya. Bentuknya seperti helm pada umumnya. Beratnya pun sama namun helm pendingin memiliki lebih banyak kelebihan. Saat kepala dimasukkan ke dalam helm pendingin, kepala akan merasakan kesejukan. Nanti ada tombol untuk mengatur seberapa besar suhu yang dibutuhkan. Rasa sumpek yang biasanya dialami oleh pengendara dapat dinetralisir dengan helm pendingin ini. Dengan demikian, pengendara sepeda motor akan lebih nyaman dalam berkendara.

Pertanyaannya, siapakah yang akan membuat helm pendingin ini? Bagaimanakah cara membuatnya? Apa dampak helm pendingin bagi lingkungan? Bagaimana pula prospek pasarnya? Biarlah waktu yang menjawab. Mungkin di masa depan ada yang berhasil membuatnya, who knows?

Memori Indah Kala Ramadhan

Bulan ramadhan, bulan unik yang penuh kenangan. Teringat saat aku masih SD. Ibu senantiasa membangunkanku untuk makan sahur. Aku dengan mataku yang masih setengah terbuka mencoba menggeliat bangun. Butuh sampai 3 kali ibuku membangunkanku hingga aku benar-benar bangun. Aku yang telah bangun, tanpa ba bi bu langsung menyambar piring dan makan. Aku tak pernah memikirkan, jam berapa ibuku bangun mempersiapkan semua hidangan. Ibuku yang tidur terakhir namun ia bangun paling awal.  Aku dengan enaknya tidur dan ketika bangun semua makanan sudah siap disantap.

Sehabis shalat shubuh, setiap ramadhan, 3 orang temanku menghampiriku di rumah. Mereka mengajakku untuk mengikuti pengajian di masjid. Sebenarnya, kami ke masjid bukan untuk mendengarkan pengajian, tapi untuk memperoleh tanda tangan dari pak Ustadz. Tanda tangan itu harus dikumpulkan untuk disetorkan kepada guru di sekolah sebagai tanda bukti bahwa kami telah mengikuti pengajian.

Tak banyak dari anak-anak seusiaku yang benar-benar mendengarkan pengajian. Sebagian besar sibuk dengan permainannya masing-masing. Ada yang sibuk bermain dakon, lompat tali, bermain perosotan, ayunan dan berlari-larian di halaman masjid. Aku dan teman-temanku pun sibuk bermain bola bekel. Boleh dibilang, kami tak tahu apa isi pengajian itu. Aku hanya tahu bahwa aku bahagia bisa bertemu teman-teman dan bermain bersama. Setelah pengajian selesai, baik anak-anak yang mendengarkan pengajian atau tidak, dengan segera masuk ke masjid dan menyerbu pak Ustadz. Beliau hanya geleng-geleng kepala sambil beristighfar.

Sepulang dari pengajian, aku dan teman-temanku tak langsung pergi ke rumah masing-masing. Kami terlebih dahulu pergi ke pantai bersama-sama untuk melihat matahari terbit dan bermain-main.  Kami senang bermain pasir, mencari kerang, mencari tong ji, dan naik kapal. Kami berlari-larian di pantai. Saking asyiknya, aku kadang pernah lupa bahwa aku sedang berpuasa. Kami biasa menikmati suasana laut hingga siang, ketika matahari sudah sangat tinggi. Dulu, pantainya masih bersih. Lautnya masih biru. Beda dengan sekarang, banyak sampah dimana-mana. Air lautnya pun sudah berubah menjadi kecoklatan.

Puas bermain, kami kembali ke rumah. Sesampainya di rumah,  seringkali aku berusaha mencuri-curi kesempatan untuk minum. Misal ketika di kamar mandi, aku sering berlama-lama untuk sekedar membenamkan kepalaku di air. Bahkan ketika ibu menyuruhku membeli es batu, aku mencuri-curi kesempatan untuk menjilati es batu.

Aku juga masih ingat, kala itu, aku kerap melihat jam.  Berapa jam lagi akan buka? Berapa menit lagi kah? Menit-menit terakhir menjelang berbuka aku sudah siap standby menunggu adzan maghrib dengan ditemani makanan dan minuman di depanku. Ketika adzan berkumandang, dengan sigap aku langsung makan dan minum bagai orang tak makan minum dalam setahun.

Sebelum berbuka pun, aku sudah cerewet sekali dengan masakan berbuka  yang akan disediakan ibu. Kadang ingin oseng-oseng jambu mete, sambal ikan, mau ini dan itu. Sering sekali aku mempengaruhi ibu untuk memasak apa yang aku inginkan. Ketika itu, aku tak pernah memikirkan kepenatan ibuku.  Aku tak begitu ambil pusing. Aku hanya menonton TV sambil melirik jam menantikan begitu lamanya waktu berbuka puasa.

Saat tiba waktu shalat tarawih, aku senang sekali memandang langit. Bagiku, saat ramadhan, bintang terlihat indah daripada biasanya. Bintang terlihat lebih terang. Jumlah bintang pun lebih banyak. Setiap perjalanan menuju masjid aku kerap melihat bintang di langit, sampai sekarang pun aku masih suka mengamati bintang saat ramadhan tiba. Tiap tahun aku merasa bintang-bintang itu semakin berkurang jumlahnya dan semakin redup cahayanya. Namun cahayanya di bulan ramadhan memang selalu lebih terang dibandingkan bulan lainnya, bagiku.

Kisah selama ramadhan selalu memiliki banyak kenangan. Terlebih itu kenangan sewaktu kecil. Memori indah semasa kecil yang aku rindukan yang tak akan terulang lagi dan hanya dapat dikenang. Kini aku sudah remaja menginjak dewasa. Sudah lama sekali aku berpuasa jauh dari rumah. Sejak SMP aku merantau jauh dari rumah. Aku teringat ketika dulu pertama kali diperantauan, saat puasa hari pertama, ibuku menangis memikirkanku, “makan apa anakku sekarang?” Kini sudah 7 tahun aku merantau. Akan tetapi,  suasana berpuasa di rumah memang selalu lebih menyenangkan. Sudah ada ibu yang dengan sigapnya menyiapkan hidangan untuk disantap. Suasana yang sangat berbeda ketika di perantauan. Namun, suasana inilah yang mengajarkanku menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijak dalam menjalani kehidupan.