LKTI-Revitalisasi Kesenian Lokal Upaya Internalisasi Wayang Klithik Melalui Program 5P dan Inovasi Kurikulum Pendidikan di Kabupaten Kudus

ini LKTIku yang pertama dalam rangka LKTI Internal SIM. semoga bermanfaat

PENDAHULUAN                                              

Latar Belakang

Wayang merupakan salah satu kebudayaan Indonesia yang menonjol. Ia terus berkembang dari zaman ke zaman mengikuti arus peradaban. Pasang-surut turut mengikuti derap langkahnya. Hingga sekarang, eksistensi wayang hampir tak terlihat. Seolah-olah hidup segan mati tak mau.

Pada zaman dahulu, wayang kerap digunakan sebagai media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan. Oleh para ulama’, wayang digunakan sebagai media untuk menyebarkan agama islam. Namun kini, sedikit yang masih peduli dengan eksistensinya. Seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat, kesenian tradisional terkikis oleh kemajemukan seni modern yang diiringi kemajuan teknologi yang sangat pesat.

Padahal, ada beragam jenis wayang di Indonesia. Akan tetapi, kesenian wayang sedikit demi sedikit kehilangan ruhnya. Kalau ditinjau, setiap daerah memiliki konsep wayang tersendiri yang membedakan dengan daerah lain. (http://solobatik.athos.net/sejarah.php) Tiap-tiap daerah memilki ciri khas tersendiri dalam menciptakan serta mengembangkan budaya wayang mereka. Salah satunya adalah wayang klithik yang ada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Wayang klithik merupakan salah satu kesenian unik khas Kudus. Wayang klithik muncul pada masa berkembangnya agama Islam di Jawa sekitar abad 16 – 17 Masehi. Pencipta Wayang klithik adalah Sunan Kudus. Wayang ini disebut Klithik karena mengandung arti kecil (klithik). Wayang klithik terbuat dari kayu pipih yang dibentuk dan disungging menyerupai wayang kulit purwa. Pada wayang klithik, cempuritnya merupakan kelanjutan dari bahan kayu pembuatan wayangnya. Wayang ini disebut klithik, bukan saja karena ukurannya kecil, tetapi dimungkinkan karena bunyi ‘klithik’ yang terjadi saat masing-masing tokoh dalam wayang ini saling beradu. Bunyi benturan terdengar dari wayang yang berbahan dasar kayu jati ini.

Wayang klithik semacam gabungan antara wayang golek dan wayang kulit. Ia terbuat dari kayu seperti wayang golek namun pipih yang hampir mendekati bentuk wayang kulit. Karena terbuat dari kayu, wayang klithik tidak menggunakan cempurit (tiang penyangga Wayang Kulit yang lazimnya terbuat dari tanduk kerbau, bambu, atau kayu secang). Debog (batang pisang) sebagai landasan dalam Wayang Kulit diganti dengan kayu panjang berlubang. Tidak dipilihnya kulit sebagai bahan dasar wayang, diyakini erat kaitannya dengan dikeramatkannya sapi oleh pemeluk agama Hindu saat itu. Masyarakat sangat menghargai ajaran-ajaran agama Hindu. Akibatnya, dipilihlah kayu jati sebagai bahan dasar wayang.

Isi cerita Wayang klithik berkisar pada babad tanah Jawa atau cerita rakyat mengenai legenda tanah Jawa, semisal Panji Semirang. Sementara pada kesenian Wayang Kulit yang diangkat adalah cerita Ramayana dan Mahabharata. (http://ki-demang.com/index.php/isi-kesenian-tradhisional/113-03-wayang-klithik)

Pada era modernisasi ini, bangsa Indonesia telah mengalami krisis multidimensional salah satunya adalah krisis moral. Rakyat Indonesia telah melupakan budaya-budaya Nusantara. Mereka lebih memilih mengadopsi budaya-budaya bangsa asing dengan melenyapkan budaya nusantara daripada melestarikan budaya daerah. Seperti halnya budaya kesenian wayang klithik di Kudus, sebagai salah satu ikon kearifan lokal. (http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2012/11/27/613/Wayang-Klithik-di-Tengah-Hegemoni-Budaya-Baru)

Kondisi wayang klithik terancam punah. Hal ini terbukti dengan minimnya partisipasi masyarakat Kudus yang mempertunjukkan wayang klithik. Bahkan mayoritas masyarakat Kudus tidak mengetahui kalau Wayang klithik merupakan budaya khas Kudus. Wayang klithik seharusnya berpotensi untuk dijadikan khazanah Kudus. Akan tetapi, tidak banyak orang yang mampu memainkan wayang ini. Akibatnya, Wayang klithik terancam punah digerus zaman. Menurut Sani, Setiawan, dan Yuhana dalam karyanya yang berjudul Pesona Wayang Klithik di Desa Wonosoco Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus menyatakan bahwa kebanyakan masyarakat Kudus tidak mengetahui adanya Cagar Budaya Wayang Klithik. Hal ini ditunjukkan dengan hasil wawancara terhadap 63 warga Kudus secara acak diperoleh data sebagai berikut: 10,77% warga Kudus mengetahui adanya wayang klithik di Kudus, 24,62% warga Kudus pernah mendengar namun tidak mengetahui wayang klithik, dan 64,61% warga Kudus tidak mengetahui wayang klithik.

Sebagai salah satu kearifan lokal, wayang klithik memiliki nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan sarana untuk pembentukan karakter masyarakat. Wayang klithik berpotensi besar untuk diangkat ke kebudayaan daerah di Indonesia sebagai khazanah khas dan asli  kabupaten Kudus. Mengingat kondisi wayang klithik yang semakin dilupakan oleh masyarakat Kudus, diperlukan tindakan yang nyata untuk mengembalikan posisi wayang klithik sebagai khazanah kabupaten Kudus. Oleh karena itu, penulis bermaksud mensosialisasikan wayang klithik di kalangan masyarakat dan menginternalisasikan budaya wayang klithik ke dalam kurikulum pendidikan di segala jenjang pendidikan di kabupaten Kudus. Sehingga dengan langkah tersebut, budaya wayang klithik akan dikenal oleh anak-anak sejak dini dengan harapan kelak kebudayaan wayang klithik akan tetap lestari hingga generasi yang mendatang.

Rumusan Masalah

Setelah kami melihat latar belakang di atas, dapat kami tarik kesimpulan bahwa terdapat sejumlah permasalahan antara lain:

  1. Bagaimana upaya revitalisasi untuk mensosialisasikan kesenian wayang klithik di kalangan masyarakat?
  2. Bagaimana langkah menginternalisasikan wayang klithik sebagai bagian dari kurikulum pendidikan di Kudus?
  3. Bagaimana upaya yang dapat dilakukan pendidik agar peserta didiknya mencintai seni khususnya wayang?

 

Tujuan penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ini antara lain:

Tujuan Khusus

Untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang diadakan oleh Studi Ilmiah Mahasiswa (SIM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Tujuan Umum

  1. Pemerintah kabupaten Kudus mampu membangkitkan kembali kesenian khas daerahnya yang hampir terkubur melalui upaya-upaya sosialisasi dan internalisasi.
  2. Peserta didik dapat mengenal dan melestarikan kebudayaan khasnya karena wayang klithik dimasukkan dalam bagian dari inovasi kurikulum pendidikan dan kegiatan ekstrakurikuler.
  3. Pendidik mengetahui solusi-solusi agar peserta didik tertarik dalam belajar seni dan kebudayaan.

Manfaat penulisan

  1. Sebagai tambahan wacana pemerintah kabupaten Kudus dalam pelestarian budaya.
  2. Sebagai sumber bahan pertimbangan untuk penelitian karya tulis selanjutnya.
  3. Sebagai wacana bagi pendidik di kabupaten Kudus dalam menarik minat peserta didik terhadap seni.

KAJIAN PUSTAKA

Wayang dan Wayang Klithik

Wayang adalah seni pertunjukan berupa drama yang khas. Wayang merupakan boneka tiruan orang yg terbuat dari pahatan kulit atau kayu yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional (bali, jawa, sunda) biasanya dimainkan oleh seseorang yg disebut dalang Jika ditinjau dari arti filsafatnya “wayang” dapat diartikan sebagai bayangan atau merupakan pencerminan dari sifat-sifat yang ada dalam jiwa manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah dan lain-lain. Tokoh wayang diantaranya Pandawa terdiri dari Puntodewo, Wrekudoro, Arjuna, Nakulo dan Sadewo melambangkan tokoh kebajikan, terdapat pula kurowo yang memiliki sifat buruk karena peran antagonis yang digambarkan dalam pertunjukan.

Sejak abad ke-19 sampai dengan sekarang, Wayang juga menjadi sarana pengendalian sosial, misalnya dengan kritik sosial yang disampaikan lewat  humor. Fungsi lain adalah sebagai sarana pengukuhan status sosial, karena yang bisa menanggap wayang adalah orang terpandang, dan mampu menyediakan biaya  besar. Wayang juga menanamkan solidaritas sosial, sarana hiburan, dan pendidikan. Secara umum, pengertian wayang adalah suatu bentuk pertunjukan tradisional yang disajikan oleh seorang dalang, dengan menggunakan boneka atau sejenisnya sebagai alat pertunjukan. Boneka wayang merupakan alat untuk menggambarkan kehidupan umat manusia, sedangkan dari segi bentuk berbeda dari tubuh manusia secara nyata.

Adapun wayang klithik merupakan salah satu kesenian unik khas Kudus. Sebagai sarana hiburan dan penerangan terhadap masyarakat Wayang klithik muncul pada masa berkembangnya agama Islam di Jawa sekitar abad 16 – 17 Masehi. Pencipta Wayang klithik adalah Sunan Kudus. Wayang ini disebut Klithik karena mengandung arti kecil (klithik). Wayang klithik terbuat dari kayu pipih yang dibentuk dan disungging menyerupai wayang kulit purwa. Pada wayang klithik, cempuritnya merupakan kelanjutan dari bahan kayu pembuatan wayangnya. Wayang ini disebut klithik, bukan saja karena ukurannya kecil, tetapi dimungkinkan karena bunyi ‘klithik’ yang terjadi saat masing-masing tokoh dalam wayang ini saling beradu. Bunyi benturan terdengar dari wayang yang berbahan dasar kayu jati ini.

Wayang klithik semacam gabungan antara wayang golek dan wayang kulit. Ia terbuat dari kayu seperti wayang golek namun pipih yang hampir mendekati bentuk wayang kulit. Karena terbuat dari kayu, wayang klithik tidak menggunakan cempurit (tiang penyangga Wayang Kulit yang lazimnya terbuat dari tanduk kerbau, bambu, atau kayu secang). Debog (batang pisang) sebagai landasan dalam Wayang Kulit diganti dengan kayu panjang berlubang. Tidak dipilihnya kulit sebagai bahan dasar wayang, diyakini erat kaitannya dengan dikeramatkannya sapi oleh pemeluk agama Hindu saat itu. Masyarakat sangat menghargai ajaran-ajaran agama Hindu. Akibatnya, dipilihlah kayu jati sebagai bahan dasar wayang.

Sepintas orang akan mengira, bentuk dan cerita wayang klitik mirip dengan kesenian wayang kulit yang lebih dulu popular di tanah Jawa. Namun nyatanya berbeda. Isi cerita Wayang klithik berkisar pada babad tanah Jawa atau cerita rakyat mengenai legenda tanah Jawa, semisal Panji Semirang, tentang kerajaan-kerajaan di Jawa, seperti Malwapati, Blambangan dan lainnya. Cerita yang disampaikan mirip denga cerita yang dibawakan dalam Ketoprak Pati. Sementara pada kesenian Wayang Kulit yang diangkat adalah cerita Ramayana dan Mahabharata. ada pula yang mengambil cerita Minakjinggo – Damarwulan.

Perbedaan cerita yang disampaikan, tentu membawa perbedaan pada sisi nilai dan makna yang terkandung. Wayang Klithik menekankan pada nilai-nilai persaudaraan dan perdamaian dan kejujuran. Sebab cerita yang disampaikan adalah seputar peperangan antar kerajaan, maupun peperangan antar tokoh dalam satu kerajaan maupun dengan tokoh kerajaan lain. (Adi Purnomo: Peminat Kajian Sosial-Budaya.)

Pementasan Wayang Klitik juga diiringi oleh gamelan dan pesinden, tetapi tanpa menggunakan kelir sehingga penonton dapat melihat secara langsung bentuk wayang klitik, mirip pertunjukan wayang golek di tatar Sunda. Perangkat untuk mengiringi pertunjukan wayang klitik ini, memakai gamelan dengan laras slendro berjumlah lima macam, yaitu: kendang, saron, ketuk, kenong, kempul (barang) dan gong suwukan.

Pada masa lalu, pertunjukan wayang klithik merupakan pertunjukan yang bersifat ritual sakral. Diadakan pada waktu-waktu tertentu pada setiap tahun, misalnya pada hari raya, pada waktu dilakukan bersih desa. Keduanya ditanggap oleh desa setempat dan biasanya bergiliran dari satu desa lainnya. Ditanggap secara pribadi pada pesta-pesta perkawinan dan upacara-upacara ritual lainnya yang menurut tradisi merupakan bagian upacara yang harus dilakukan. Pada hari-hari biasa merupakan pertunjukan barangan yang singkat di tempat-tempat umum seperti alun-alun, dijalanan dan di rumah-rumah penduduk yang hanya ingin menanggap untuk sekedar kesenangan. (http://www.kratonpedia.com/article-detail/2011/11/15/199/Wayang.Klithik.Desa.Wonosoco.html)

Pendidikan Seni Budaya

Muatan seni budaya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia  Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tidak hanya terdapat dalam satu mata pelajaran karena budaya itu sendiri meliputi segala aspek kehidupan.  Dalam mata pelajaran Seni Budaya, aspek budaya tidak dibahas secara tersendiri tetapi terintegrasi dengan seni.  Karena itu, mata pelajaran Seni Budaya pada dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya.

Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan diberikan  di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi  melalui pendekatan: “belajar dengan seni,” “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni.” Peran ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain.

Pendidikan Seni Budaya memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural.  Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya.  Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan  kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan mancanegara.  Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.

Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan  yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal,  interpersonal, visual spasial, musikal, linguistik, logik matematik, naturalis serta kecerdasan adversitas, kecerdasan kreativitas, kecerdasan spiritual dan moral, dan kecerdasan emosional.

Dalam pendidikan seni budaya, aktivitas berkesenian harus menampung kekhasan tersebut yang tertuang dalam pemberian pengalaman mengembangkan konsepsi, apresiasi, dan kreasi.  Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. (http://seni.kps.sch.id/seni-dan-budaya/)

METODE PENULISAN

Metode penelitian yang kami lakukan untuk mendukung karya tulis ini adalah sebagai berikut.

Tahap 1: Penelitian pendahuluan berupa survei ke tempat dalang wayang klithik yang ada di daerah wonosoco, Kudus. Survei dilakukan untuk memperoleh keterangan yang jelas dan terperinci tentang wayang klithik di Kudus, sejarah dan perkembangannya.

Tahap 2: Mewawancarai beberapa warga yang merupakan penduduk asli Kabupaten Kudus. Pertanyaan yang disodorkan mengenai seberapa besar tingkat pengetahuannya tentang wayang klithik di daerahnya. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk menganalisa apakah mereka paham dan mengenal wayang klithik dengan baik.

Tahap 3: Mencari referensi dari internet guna memperoleh keterangan yang jelas dan terperinci, serta studi literatur untuk memperkuat data-data dan teori-teori sebagai acuan dalam penyusunan laporan.

Tahap 4: Menindak lanjuti dari penelitian yang dilakukan sebelumnya, masyarakat Kudus perlu mendapat penyuluhan tentang wayang klithik agar tak lupa dengan kebudayaan daerahnya.

Tahap 5: Pengadaan pembelajaran wayang klithik di sekolah baik sebagai bagian dari mata pelajaran maupun ekstrakurikuler. Hal ini diharapkan peserta didik mengenal kesenian khasnya masing-masing. Untuk selanjutnya, bersedia melestarikannya.

Tahap 6: Memberikan wujud nyata sebagai hasil dari kegiatan ekstrakulikuler dan pembelajaran, serta penyuluhan dengan mengadakan pagelaran-pagelaran dan pameran guna mengembangkan bakat dan keterampilan. Selain itu, dapat juga sebagai ladang wisata bagi daerah kudus. Bagi pengunjung yang datang dapat menikmati seni di Kudus sekaligus membawa oleh-oleh jenang khas Kudus.

My Heart #18 Aku Cinta Kamu Karena Allah

“Ukh, ana mencintaimu karena Allah.”

Pagi-pagi aku membuka HP dan mendapati kalimat itu dalam inbox-ku. Aku hanya tersenyum membacanya. Aku tidak terlalu menanggapi sms itu. Aku pergi ke kampus dan bergelut dengan aktivitas perkuliahanku seperti biasa. Bahkan aku hampir lupa kalau ada seorang sahabat yang mengirimiku sms itu.

Sore hari di tengah perjalananku pulang, aku mendapat sms dari orang serupa. “uhibbuki fillah.” Aku tertawa kecil. Sekali lagi, aku tak membalasnya. Lucu, batinku. Awalnya aku tak terlalu memikirkan isi sms itu. Namun, di tengah perjalanan ada ketertarikanku untuk membalasnya. Tak mungkin jika aku hanya mendiamkannya dan tidak membalasnya. Aku harus memberi sebuah jawaban. Sebuah kepastian, pikirku.

“Semoga Allah mencintaimu karena kau mencintaiku karena-Nya.”

Lengkaplah sudah. Aku telah membalasnya. Sekarang aku sudah tidak membuatnya menunggu-nunggu balasan sms dariku. Aku membalasnya mirip dengan kata-kata yang sering aku baca di buku-buku ketika ada orang yang berkata aku mencintaimu karena Allah maka jawabannya seperti itu. Jawabanku mungkin klasik atau terkesan ikut-ikutan, tapi aku rasa jawabanku tak salah. Bagiku itu jawaban yang sangat bijak.

Ini bukan perkara cinta monyet. Ini adalah ukhuwah karena Allah. Hati yang saling terpaut karena-Nya. Begitu indahnya ukhuwah karena Allah. Sahabatku yang satu itu selalu bisa membuatku terpesona. Hari itu, dia mengajarkanku akan indahnya ukhuwah.

Awal aku mengenalnya mungkin biasa-biasa saja. Akan tetapi, kami sering pergi bersama. Mungkin itu yang membuat kami semakin dekat dan sangat dekat seperti sekarang. Minggu-minggu ini mungkin aku lebih sering pergi namun tidak bersama dengannya. Kami sibuk dengan urusan masing-masing. Namun hari itu, dia mengingatku bahwa ada sahabat yang merindukanku, selalu ada sahabat yang selalu berdoa untuk kebaikanku, yang mencintaiku karena Allah.

“Aku juga mencintaimu karena-Nya, ukh”

 

Teruntuk saudariku  Winda Kurniati, yang senantiasa membimbingku dan memberikan senyum termanisnya. 🙂

Menulis: Mimpi Baru Sang Pemula

Menulis itu memiliki tingkat kesukaran yang relatif. Bisa susah, bisa gampang. Tergantung bagaimana orang mempersepsikannya. Bagi orang yang terbiasa menulis, boleh jadi berkata “Menulis itu gampang kok. Bagaikan air  yang mengalir, menulis itu mengalir begitu saja.”. Bagi orang yang tidak pernah menulis, mungkin orang itu akan berkata, “Menulis itu sangat susah. Menulis adalah pekerjaan tersulit di dunia.” Relatif, tergantung dari sisi mana individu menilainya.

Penulis pemula biasanya akan menghadapi beragam kendala dalam menulis. Kendala itu dapat berupa kebingungan dalam memulai. Kadang  terlalu bingung dalam menentukan judul sehingga tidak kunjung menulis. Kadang juga bingung dalam menentukan topik dan mencari ide. Bagi orang yang sudah terbiasa menulis, ia dapat memperoleh ide secara tiba-tiba bagaikan (konon katanya) jaelangkung yang datang tak dijemput. Berbeda dengan penulis pemula yang kadang harus berusaha menjemput ide.

Penulis pemula yang telah mendapatkan ide, kadang masih kesulitan menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Hingga teramat bingungnya, sesuatu yang sudah sampai ke otak itu tak kunjung ditulis. Akhirnya, terjerat dalam kebingungan sehingga menjadi malas untuk menulis. Ide mengendap dalam otak, entah sampai kapan. Tak terkecuali penulis yang sudah terlatih menulis. Mereka pun kadang masih mengalami kendala-kendala dalam menulis. Akan tetapi, pengalaman yang jauh lebih banyak daripada pemula membuat mereka lebih terlatih dalam melawan virus-virus penghalang. Sebenarnya banyak potensi luar biasa dari penulis pemula jika mereka mau berlatih-berlatih-berlatih. Akan tetapi, di tengah jalan kadang mereka merasa jenuh, malas, dan minder mempublikasikan tulisannya, kemudian menyerah.

Tak jauh beda denganku, sebagai penulis pemula, perasaan bingung, malas, dan minder turut serta menjadi tantangan menarik dalam hidupku di dunia kepenulisan. Bisa dibilang, aku baru aktif menulis ketika masuk kuliah. Semasa SD, SMP, dan SMA aku sama sekali tidak berminat terjun dalam dunia kepenulisan. Saat itu ada beberapa tulisan yang pernah ku tulis, tetapi itu hanya tulisan sederhana yang aku coret-coret di sembarang kertas. Sebelum sempat didokumentasikan, kertas sudah menghilang, tak tahu kemana rimbanya.

Aku adalah seorang penulis pemula yang baru akhir-akhir ini mulai cinta menulis. Awalnya, itu karena motivasi ekstrinsik dari kakak-kakak tingkat. Mereka senantiasa mengisahkan pengalaman-pengalaman mereka yang mengagumkan. Ada yang pergi ke luar negeri. Ada yang menjadi juara karya tulis ilmiah. Ada pula yang beberapa kali tulisan di muat di media cetak, dapat menerbitkan buku, dan beragam prestasi lainnya. Mereka ingin agar adik-adiknya termotivasi. Nyatanya berhasil. Mereka membuatku iri positif sehingga aku pun tertantang  mengikuti jejak mereka. Bahkan, ingin lebih dari mereka. Semenjak itu, aku ingin berkarya lewat tulisan. Mungkin aku cukup telat karena baru akhir-akhir ini mulai menyukai menulis, tapi aku bersyukur karena tidak terlambat.

Sepertinya motivasi ekstrinsik telah berubah menjadi motivasi intrinsik. Nyatanya, aku semakin tertarik untuk belajar menulis. Sehingga saat liburan semester kemarin, aku memanfaatkannya untuk berlatih menulis. Karena saat itu aku juga tertarik ikut lomba, aku pun mulai mencari di internet tentang info lomba menulis. Ternyata, ada banyak sekali lomba. Entah kemana saja aku selama ini sampai tidak tahu kalau ada banyak lomba menarik di luar sana.  Aku memilah-milah lomba mana yang sesuai denganku. Ada tiga lomba yang aku rasa cocok, salah satunya adalah lomba pelatihan menulis majalah embun. Aku mengikuti ketiganya, hitung-hitung sekalian belajar menulis, menambah ilmu dan pengalaman.

Satu per satu, lomba diumumkan. Aku gagal dalam satu lomba dan berhasil dalam dua lomba yang aku ikuti. Salah satu lomba yang berhasil adalah lomba pelatihan menulis majalah embun. Apakah ini suatu kebetulan? pikirku. Di saat aku ingin sekali belajar menulis, Allah membukakan jalan yang lebar bagiku untuk mengikuti pelatihan kepenulisan. Oleh Allah, aku dipertemukan dengan keluarga Embun dan Sobat Soto Babat. Apakah ini suatu kebetulan? Entahlah. Allah tidak sedang bermain dadu, bukan? Allah selalu memiliki rencana yang indah bagi hamba-Nya. Aku selalu percaya hal itu.

 

*Semangat Belajar Sepanjang Hayat. ^_^

My Heart #17 Pohon Cinta SKI

Upgrading,19 April 2013. Waktu itu, pembicara meminta aku dan teman-temanku untuk menggambar sebuah pohon. Ia meminta kami untuk mengibaratkan pohon sebagai SKI. Kemudian tiap komponen pohon itu dibuat pengibaratan sesuai keinginan penggambar. Sebut saja nama pohon itu Pohon Cinta SKI.

Salah seorang temanku berkesempatan untuk menjelaskan pohon cinta SKI menurut versinya. Sebut saja As, ia mengatakan akar itu merupakan landasan dasar kita. Ia berupa iman, islam, dan ihsan. Tanpa akar kita tidak akan memiliki dasar.  Tidak ada suplemen yang mengisi jiwa kita. Hanya sebatas manusia dengan badan tanpa jiwa. Adapun batang ia ibaratkan sebagai ketum. Lalu cabang adalah staff-staffnya. Cabang-cabang ini saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Ada banyak cabang mengibaratkan organisasi ini tidak dapat menjadi indah tanpanya. Cabang ini memiliki banyak daun. Ini dapat diibaratkan sebagai ladang amal kita. Tiap daun mengeluarkan kebermanfaatan bagi manusia. Daun mengeluarkan oksigen yang dapat digunakan manusia untuk bernafas. Seperti itulah SKI dengan harapannya ingin memberikan kebermanfaatan.

Akar memang merupakan sesuatu yang mendasar. Dari akarlah kita memperoleh nutrisi-nutrisi kehidupan. Dari akarlah pohon tumbuh menjadi besar. Kemudian batang diibaratkan sebagai penopang yang kokoh. Kalau dalam organisasi, penopangnya adalah semua pengurus yang berjuang di dalamnya. Bersama-sama menegakkan pohon agar tumbuh besar dan berkembang. Kemudian memperlebar sayap-sayapnya yaitu berupa cabang. Setiap cabang memiliki banyak daun untuk menaungi jiwa-jiwa yang gersang, Daun-daun  yang memberikan banyak kebermanfaatan. Dari segi perwujudannya, daun yang hijau menentramkan ketika dipandang. Dari segi fungsionalnya, daun berguna dalam menghasilkan senyawa yang sangat penting bagi kehidupan.

Pohon bagi tiap orang memiliki makna yang berbeda-beda. Akan tetapi, ada satu simpulan yang berakhir sama. Pohon senantiasa berusaha untuk memberikan kebermanfaatan bagi orang-orang di sekelilingnya. Begitu pula SKI dengan orang-orang di dalamnya yang berusaha berkontribusi dalam jalan dakwah. Pengibaratan ini tentunya luas, tak hanya berlaku untuk SKI saja.

Daun akan berguguran satu per satu. Namun, daun-daun baru akan selalu muncul menggantikan daun-daun berguguran. Begitupun perjuangan dakwah. Banyak yang berguguran di jalan dakwah namun pengganti orang-orang yang berguguran selalu muncul. Menjadi daun yang jatuh atau tidak merupakan pilihan. Merelakan diri terjatuh tertiup angin kemudian sampai di tanah terinjak, terkapar, dan membusuk juga pilihan.

Sesungguhnya tiap komponen pohon saling terkait. Jika rusak komponen yang satu, terganggu pula kinerja komponen yang lain. Tanpa daun, cabang itu gundul. Tanpa daun, batang itu mandul. Tak ada oksigen. Tak ada kebermanfaatan. Batang pohon tinggal menunggu kapan waktunya ditebang. Kadang sebagian akar masih menghujam di tanah, tetapi tak berdaya. Oleh karena itu, setiap komponen harusnya berjalan beriringan untuk membentuk pohon yang kokoh, indah dan besar. Butuh saling melengkapi dalam perjuangan. Sejatinya, perjuangan tidak dapat diemban sendirian.

 

*Menjadi daun yang hijau, yang masih segar. Berusaha menjaga daun agar tak jatuh. Entah sampai kapan. Yang aku tahu, aku hanya ingin ada embun membasahi daunku.

Mood

Mood

Di taman Justisia

Ada angin namun aku tak merasa sejuk

Mentari pagi menyengat, antara hangat dan panas.

Pohon tinggi menjulang dengan daunnya yang sangat lebat

Suasana teduh tapi terik

Patung wanita mengenakan penutup mata berdiri di tengah-tengah

Pedang di tangan kanannya dan timbangan di kanan kirinya

Oh, patung inilah yang menjadi lambang dari peradilan, Justisia

Pikirku

***

Minggu, 21 April 2013, menjadi pertemuan Sobat Soto Babat yang kelima. Pertemuan kali ini bertempat di taman Justisia. Sebuah taman yang berada di Fakultas Hukum UNS. Taman yang indah dengan suasana hijau daun dimana-mana. Sayangnya, pada pertemuan ini hanya 5 orang Sobat Soto Babat yang datang. Alangkah lebih membahagiakan dan meriah ketika 10 Sobat Soto Babat dapat berkumpul bersama.

Pada pertemuan kelima ini, Mbak Isna Maylani berkesempatan menjadi pembicara pertama. Tema yang akan dibahas berkaitan dengan mood.  Mbak Isna menanyakan kepada kami tentang perasaan selama menulis tugas pra pertemuan ke-5. Ada berbagai variasi jawaban yang kami curahkan. Mas Dede misalnya, ia merasa kesulitan dalam menulis ketika apa yang ditulis tidak berdasarkan apa yang diamatinya, dan dirasakannya. Menulis ia rasakan lebih mudah ketika sesuatu yang ditulis berasal dari hal-hal sederhana yang ada di sekitarnya.

Ada juga yang mengatakan keluh kesah berupa tugas kuliah yang menumpuk, rasa malas, dan tidak punya waktu. Semua itu memang bisa dijadikan kambing hitam yang bagus untuk tidak mengerjakan tugas pra pertemuan ke-5 atau PSH. Akan tetapi, daripada menyalahkan semua itu lebih baik segera take action, nyalakan laptop dan ketik. Ketika mbak Isna mengatakan dapat membuat cerpen dalam waktu 4 jam, aku ber-wow. Lalu kang Nass menambahi dapat membuat cerpen dalam waktu 2 jam, aku lebih ber-wow-wow. Oh, berarti menulis itu pembiasaan kah? Ketika sudah terbiasa dan terampil menulis, waktu yang sedikit pun tidak akan menjadi hambatan. Seperti itu kah?

Dalam kesempatan ini, mbak Retno juga mengungkapkan bahwa ia masih malu untuk berbagi kebahagiaan melalui tulisan kepada orang lain. Padahal setiap tulisan walaupun sekedar curahan hati atau berbagi pengalaman, kebermanfaatan akan tetap ada. Mbak Eti turut mengungkapkan keluh kesahnya dalam pertemuan ini. Menurut mbak Eti, kesulitannya adalah menulis apa yang dia rasakan dengan gaya bahasa yang seolah-olah apa yang dia pikirkan. Sampai sedetail itu mbak Eti ingin memuaskan pembacanya. Mungkin itu rahasia tulisan-tulisannya yang berbobot. Jauh berbeda dengan penulis yang menulis hanya untuk kepuasannya tersendiri, menulis apa saja yang dirasakan tanpa peduli apa yang orang lain pikirkan.

Dari sesi pertama ini, ternyata kecondongan seseorang dalam menulis itu berbeda-beda. Mas Dede lebih suka berbagi kebahagiaan lewat tulisannya yang mirip-mirip cerpen dan berusaha memberikan hikmah di balik kisahnya. Mas Cahyo dengan gaya bertuturnya yang sederhana, mencoba mengungkapkan sesuatu dari sisi yang berbeda. Mbak Eti dengan gaya bertuturnya yang berbobot. Mbak Retno yang masih malu-malu untuk go public. Kemudian aku yang menceritakan apa yang aku rasakan untuk kemudian mencoba kepo.

Selanjutnya pembicara kedua yaitu Mas Bima Wirawan mulai beraksi. Sama halnya mbak Isna, mas Bima ikut-ikutan bertanya kepada kami. Ia bertanya tentang sejarah kami dalam mengenal social media. Dari sesi ini ada tiga simpulan yang dapat aku ambil. Pertama, urutan kami mengenal social media yaitu mulai dari Friendster, lalu facebook, kemudian twitter. Kedua, awal kami mengenal social media, kami terserang virus alay. Dalam hal ini aku setuju dengan teori Raditya Dika yang mengatakan bahwa alay adalah bagian dari masa pertumbuhan, bayi-anak-remaja-alay-dewasa. Ketiga,  kami membuat akun twitter namun kami jarang aktif di twitter.

Pertemuan kali ini membahas tentang mood, tetapi aku masih belum jelas tentang mood-ku sendiri. Sampai sekarang aku masih bingung dengan mood dan passion-ku. Aku tahu semua butuh proses. Menaklukkan mood yang kerap menjadi problem menulis juga butuh proses. Semangat manusia yang timbul tenggelam, merupakan tantangan yang tidak mudah dihadapi. Akan tetapi, kita harus melawan dengan sebaik-baiknya. Semangat. ^_^