Keseharian Seorang Muslim

mari kita renungkan pertanyaan-pertanyaan ini.

mari kita jawab dengan perbuatan.

semoga bermanfaat. 🙂

  1. Apakah anda selalu shalat shubuh berjama’ah di masjid setiap hari?
  2. Apakah anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid?
  3. Apakah anda hari ini membaca Al-Qur’an?
  4. Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib?
  5. Apakah anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib?
  6. Apakah anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang anda baca?
  7. Apakah anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur?
  8. Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya?
  9. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :”Wahai Allah Subhanahu wa Ta’ala masukkanlah ia ke dalam Surga”.
  10. Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :”Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka”. (Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya :“Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :”Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :”Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka”. (Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6).
  11. Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
  12. Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik?
  13. Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau?
  14. Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?
  15. Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari?
  16. Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat)?
  17. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati Syahid? Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya :“Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).
  18. Apakah anda telah berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya?
  19. Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di waktu-waktu yang mustajab?
  20. Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar).
  21. Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah? Karena setiap mendo’akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.
  22. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala (dan bersyukur kepada-Nya) atas nikmat Islam?
  23. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya?
  24. Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya?
  25. Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala saja?
  26. Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri?
  27. Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala?
  28. Apakah anda telah menda’wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda?
  29. Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua .?
  30. Apakah anda mengucapkan “Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji’uun” jika mendapatkan musibah?
  31. Apakah anda berbuat baik kepada tetangga?
  32. Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki?
  33. Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya?
  34. Apakah anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian?
  35. Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan?

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, insyaAllah.

🙂

 

diambil dari: milis assunnah, message ke-277; posting dari Saudara Yayat Ruhiyat.

Iklan

Pencarian Jati Diri- Bagian 1

Diawali dari dialog ringan, lalu berlanjut kearah pertanyaan ‘mengapa kamu bertuhan?’. Di tengah keheningan, aku mencoba merenungkan pertanyaan itu. Aku mencoba melihat keadaan diriku. Aku tertegun. Mengapa aku bertuhan?  Lalu bermunculan dalam benakku pertanyaan-pertanyaan. lalu Mengapa aku islam? Apakah aku hanya islam turunan? Islam warisan? Islam KTP? Islam nama? Islam atribut? Islam teori? Atau bahkan islam-islaman? Sudah islamkah aku? Sudahkah aku beragama islam dengan benar ataukah hanya sekedar berteori agama islam?

Munafikkah aku? Masih adakah tuhan-tuhan lain di hatiku? Mungkin saja tuhan-tuhan itu keluargaku, hartaku, karirku, atau idolaku? Apakah aku lebih mementingkan keluargaku daripada Tuhan Penciptaku? Apakah aku lebih mementingkan mencari harta yang banyak dan ku gunakan untuk berfoya-foya daripada ku gunakan untuk bersedekah, infak, dan zakat? Kalaupun bersedekah, padahal hanya dengan uang receh, apakah timbul riya’ di hatiku? Apakah aku terlalu maniak belajar atau beraktivitas sampai melupakan kewajiban-kewajibanku atas-Mu? Apakah aku melakukan sesuatu hanya untuk mendapat pujian dari orang lain? Atau apakah aku terlalu mengagumi idolaku sampai tiap malam sebelum tidur bukan doa yang aku baca agar Engkau berkenan melindungiku tapi justru dia yang terbayang di benakku?

Aku mencoba mencari jawaban-jawaban itu.  Sampai suatu ketika aku pergi ke suatu tempat, dan disana aku menemukan sebuah buku. Dalam buku itu tertulis bahwa terlahir sebagai islam adalah karunia yang tak terhingga. Mengapa demikian? Karena kita tidak perlu melakukan  pencarian agama seperti para muallaf yang tidak puas dengan ajaran agama yang dahulu dianutnya. Coba kita renungkan jika seandainya kita terlahir dari orang tua yang bukan islam. Apakah kita akan tetap mengikuti agama orangtua kita yang bukan islam? Atau apakah kita akan berusaha melakukan pencarian agama yang sempurna (islam)? Rasanya kemungkinan untuk melakukan pencarian seperti para muallaf tersebut sangat kecil. Mengapa? Jangankan melakukan pencarian, untuk mempelajari  atau memperdalam agama islam yang sekarang sudah kita anut saja rasanya sangat sulit sekali. Dengan bermacam ragam alasan, tidak ada waktu, susah untuk dipelajari, ngantuk, kajiannya membosankan, males  atau nggak gue banget. Sangat ironis sekali, kita mengaku-ngaku islam tapi faktanya kita justru malas untuk mempelajari  islam.  Kita yang mengaku islam sejak lahir ternyata membaca Al-Qur’an saja masih belum fasih apalagi menghafal dan memahami maknanya. Bahkan ada yang baru mulai untuk belajar atau mungkin ada yang sama sekali tidak peduli.

Atau jangan-jangan diantara kita ada yang beranggapan bahwa dalam menjalani agama itu yang penting kita berbuat baik sajalah. Toh, pada dasarnya semua agama sama, menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat buruk. Kalau memang semua agama sama, untuk apa Allah repot-repot memerintah  nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa, nabi Muhammad untuk menyeru kepada tauhid?

Akupun mencoba merenung kembali. Bertanya pada diri sendiri. Apakah benar shalatku selama ini semata-mata karena Allah? Atau hanya sekedar rutinitas semata? Apakah benar sedekahku, puasaku semata-mata untuk Allah? Apakah semua aktivitasku sudah berlandaskan LILLAHI TA’ALA? Atau masih adakah tuhan-tuhan lain di hatiku? Karena tidak mudah untuk betul-betul mengorientasikan hidup 100% semata-mata karena Allah. Tapi tidak mudah bukan berarti tidak bisa. HARUS TERUS MENCOBA.

Dari yang pernah aku baca, kualitas keimanan kita dari hari ke hari harus terus ditingkatkan. Hari esok harus lebih baik daripada hari ini. Untuk meningkatkan kualitas keimanan itu dapat berupa belajar memahami Al-Qur’an. Namun, setelah kita mempelajarinya, jangan lantas kita merasa paling pintar, paling paham, dan mengklaim paling benar. Sering kita jumpai, baik dalam ceramah atau diskusi agama, ada orang-orang yang mengklaim dirinya paling benar dan menyalahkan orang lain bahkan memvonis orang sesat. Padahal jika orang itu sama-sama beriman pada Allah, Rasulullah, Kitabullah seharusnya tidak ada pertentangan. Yang tak kalah pentingnya, apakah shalat wajibnya lima waktu? Apakah puasa wajibnya di bulan Ramadhan? Apakah berhajinya ke Makkah? Carilah persamaan itu. jadi jangan gampang memvonis sesat. Kalaupun ada perbedaan dalam pemahaman, mestinya jangan digunakan untuk saling menyalahkan. Kalau mau membantah dan meluruskan, berdiskusilah dengan cara yang baik dan bijaksana.

Sebenarnya masih banyak yang ingin aku curahkan dalam bentuk tulisan, tapi sadar diri juga masih banyak tugas yang belum ku kerjakan.

dari hal ini ada satu hal dasar yang dapat dijadikan pegangan, yaitu hiasilah seluruh aktivitas dengan selalu mengingat Allah. Mau sombong, ingat Allah. Mau bohong,ingat Allah. Mau marah, ingat Allah. Mau ngomongin orang juga ingat Allah, insya Allah kalau kita selalu mengingat Allah, Allah juga akan selalu ingat pada kita.

Ini sama sekali bukan petuah atau apalah namanya. Sebenarnya  ini hanya sedikit dari curahan hati saja untuk introspeksi diri.